Apakah Virus Corona Dibuat oleh Manusia? Ini Kata Ahli

medikastar.id

SARS-CoV-2, virus corona baru yang menyebabkan Covid-19 pertama kali muncul di Wuhan, Cina pada akhir 2019 lalu. Hingga Rabu (27/5), sekitar 5,58 juta orang telah terinfeksi virus tersebut, 350 ribu orang di antaranya meninggal dunia. Belum jelasnya informasi dan pengetahuan kita terkait virus ini telah mendorong berbagai mitos. Salah satunya adalah bahwa virus ini dibuat oleh manusia.

Para penganut teori konspirasi meyakini bahwa ada tokoh-tokoh tertentu di balik virus yang menular dengan sangat cepat ini. Entah untuk keuntungan ekonomi maupun sebagai senjata biologis.

Bruce E. Hirsch, dokter tamu dan asisten profesor di Divisi Penyakit Menular Dinas Kesehatan Northwell di New York, kepada Healthtline mengatakan bahwa pandangan semacam itu merupakan mekanisme pertahanan psikologis untuk dapat memahami, mengendalikan, dan ‘memasyarakatkan’ fenomena ini.

“Itu membuat dunia lebih mudah untuk dipahami, memberikan kenyamanan palsu dan memberikan pandangan dunia kita terhadap mereka,” ujarnya.

SARS-CoV-2, sebagaimana sudah diketahui, merupakan satu dari sekian jenis virus corona yang menyebabkan masalah kesehatan pada manusia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk yang menyebabkan SARS dan MERS.

Menurut Hirsch, virus tertentu dalam populasi kelelawar secara genetik mampu menyebabkan pandemi di masa depan. Dan manusia adalah makhluk biologis yang hidup di dunia dengan makhluk biologis lain yang tidak dapat selalu kita kontrol.

“Ada kelelawar yang hidup di dekat manusia dan virus yang hidup di dalam kelelawar. Seseorang yang terinfeksi 7.500 mil jauhnya dari New York tempat saya tinggal – kesehatan orang itu dan kesehatan saya secara langsung terpengaruh satu sama lain. Ini adalah dunia yang harus kita hadapi, dan kita harus menerima kenyataan bahwa kita yang hidup di planet yang begitu kecil dan padat ini memiliki kerentanan tertentu,” paparnya.

Percaya pada teori konspirasi tentang Covid-19 mungkin tidak terlalu umum. Namun, di mana-mana, selalu ada orang yang menganut kepercayaan ini, termasuk Amerika Serikat. Menurut Hirsch, sekitar 50 persen orang Amerika meyakini semacam teori konspirasi.

Sementara ada banyak alasan mengapa orang percaya pada teori konspirasi, ia mengatakan bukti menunjukkan bahwa teori konspirasi berakar pada ketidakpercayaan.

“Ketika orang tidak mempercayai sumber informasi yang otoritatif – berdasarkan pengalaman pribadi, afiliasi politik, atau apa pun – mereka kemudian rentan terhadap informasi yang salah. Dan tentu saja, ada banyak informasi yang salah di luar sana dan banyak tempat di mana teori konspirasi berkembang, terutama online,” kata Hirsch.

Dia menambahkan, “Seperti yang saya katakan, para ahli teori konspirasi bukanlah ‘ahli teori’ seperti ‘ahli teori’ yang menemukan informasi yang sudah ada di luar sana. Mereka memilih apa yang ingin mereka percayai berdasarkan gagasan yang sudah terbentuk sebelumnya dan bias konfirmasi.”

Karena itu, kita dituntut untuk dapat berpikir kritis dan tidak mudah mempercayai semua informasi yang berseliweran di internet tanpa ada bukti-bukti pendukung yang jelas. Ketika para ahli masih menelusuri asal dan karakter virus ini, penting bagi kita untuk mengutamakan tindakan pencegahan sesuai protokol kesehatan yang diberikan oleh otoritas terpercaya. Cuci tangan pakai sabun, pakai masker, jaga jarak fisik, istirahat yang cukup, dan konsumsi makanan bergizi secara teratur membuat kita aman dari penyakit ini. (red)

Baca juga: Perbandingan Tingkat Kematian Covid-19 dan Penyakit Pembunuh Lainnya