Kota Kupang, medikastar.id
Berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG), dari sekian banyak kabupaten/kota di NTT, yang berhasil menurunkan prevalensi stunting selama 3 tahun berturut-turut adalah Kabupaten Sumba barat, Belu, Flores Timur, Manggarai Timur, dan Kota Kupang. Sedangkan kabupaten Nagekeo mengalami peningkatan prevalensi stunting selama 3 tahun berturut-turut (2015-2017).
Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek saat Focus Group Discussion (FGD) mengenai Manajemen Komunikasi Pemerintah di Era Digital. Dalam kegiatan yang berlangsung di Hotel Aston, Kupang, Kamis (19/07/18) ini, Nila membawakan materi mengenai Strategi Komunikasi Publik Bidang Kesehatan di Era Digital.
Hadir pada kegiatan yang digelar oleh Kementerian Kominfo ini, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kemenkominfo RI, Rosarita Niken Widiastuti. Johan Budi, Jubir Presiden RI pun hadir dan bertindak sebagai moderator. Selain itu, turut hadir juga Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolon; serta Kepala Dinas Kesehatan NTT, drg. Dominikus M. Mere.
Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek menjelaskan bahwa berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017, angka prevalensi stunting di Provinsi NTT sebesar 40,3 persen. Angka ini ternyata lebih tinggi dari angka prevalensi Nasional sebesar 29,6 persen.
Nila juga memaparkan bahwa penanggulangan stunting dapat dilakukan melalui upaya pencegahan dan penanganan. Pencegahan dilakukan dengan memastikan kesehatan yang baik dan gizi yang cukup pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan. Sementara penanganan pada anak stunting dilakukan dengan stimulasi pengasuhan dan pendidikan berkelanjutan.
Upaya penanggulangan stunting dapat dilakukan melalui perbaikan Pola Asuh, Pola Makan, dan Peningkatan Akses Air Bersih dan Sanitasi.
Lebih lanjut, Nila menjelaskan bahwa intervensi komunikasi perubahan perilaku untuk pencegahan stunting dilaksanakan terintegrasi dengan Intervensi Spesifik dan Sensitif.
Berbagai saluran komunikasi yang digunakan untuk hal tersebut antara lain, advokasi komitmen stakeholders, mobilisasi masyarakat desa, kampanye Media TV, Radio, Koran Nasional, Bioskop. Juga advokasi media, seperti social media (twitter, instagram, youtube, dll), dan lainnya; komunikasi Inter Personal, komunikasi kelompok, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan kader.
Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kemenkominfo RI, Rosarita Niken Widiastuti pada kesempatan tersebut membawakan materi mengenai Government Public Relation dan Narasi Tunggal Pemerintah.
Dirinya menuturkan bahwa Kemenkominfo selalu melibatkan media dalam upaya sosialisasi tentang kesehatan, terutama mengenai persoalan stunting.
Persoalan stunting ini disosialisasikan di media massa, baik cetak maupun elektornik, bahkan di kereta-kereta. Kampanye digital juga dilakukan dengan para selebriti melalui Youtube. Pihaknya juga memiliki program siaran mengenai stunting. Siaran ini melibatkan 100 radio.
Pantauan media ini, dalam acara tersebut, dilaksanakan pula penyerahan tanda Penghargaan Ksatria Bakti Husada Arutala dan penyerahan uang duka atas nama Lioba Irmawati Bina, Amd, Keb. Penyerahan ini dilakukan secara simbolis oleh Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek kepada Dinkes Provinsi NTT. (Red)
Baca Juga : ‘Diplomatic Tour 2018’ Amati Pembangunan Perempuan dan Anak di Papua

