Atambua, medikastar.id
Bakal calon bupati Belu dr. Agustinus Taolin dan pasangannya Aloysius Haleserens (Paket SEHATI) bertekad membuat setiap desa/kelurahan di Kabupaten Belu menjadi desa/kelurahan tangguh. Setiap desa akan dibantu untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam yang ada agar masyarakatnya hidup sejahtera.
Hal itu menjadi salah satu poin yang disampaikan dr. Agus dalam sosialisasi di beberapa titik pada akhir Juli lalu. Menurut dr. Agus, pembangunan desa tangguh akan dimulai dengan identifikasi potensi masing-masing desa.
“Salah satu programnya adalah intensifikasi dan ekstensifikasi, meningkatkan pertanian yang ada di sini, memperluas, memberdayakan lahan-lahan di sini supaya produk pertaniannya meningkat. Kalau bisa setiap desa ada unggulannya,” kata dr. Agus ketika melakukan sosialisasi di Desa Lakanmau, Kecamatan Lasiolat.

“Kalau di sini pertanian lahan kering, kita catat lahan di sini berapa, kebutuhan traktornya berapa kemudian bibitnya ada tidak, kalau butuh pupuk kita siapkan pupuk oleh pemerintah. Jadi kalau di sini cocok jagung kita akan fokus di jagung, jangan tanggung-tanggung,” lanjutnya.
Hal serupa ia sampaikan ketika bertemu keluarga dan warga di wilayah Manleten. “Misalnya di sini potensinya adalah budidaya sayur mayur maka itu yang akan kita perhatikan. Kita akan beri bantuan pengolahan lahan, pupuk, bibit, dan obat gratis serta pengairan yang baik agar produktivitas bisa meningkat,” ujarnya.
“Kalau bibitnya baik ditambah pupuk yang baik dia akan lebih meningkat lagi. Kalau ditambah pengairan yang baik dia lebih baik lagi,” lanjut dokter spesialis penyakit dalam itu.
Tak hanya itu, pendampingan, monitoring, dan evaluasi juga akan dilakukan untuk memastikan tujuan pembangunan desa tangguh itu bisa berjalan. Para sarjana lokal akan dimanfaatkan sebagai pendamping untuk memberdayakan para petani.
“Kita akan manfaatkan tenaga-tenaga, sarjana-sarjana kita punya, tidak datangkan dari luar. Mereka kita kasih tambahan (pengetahuan dan keterampilan) di balai latihan kerja untuk bisa mendampingi petani-petani kita,” ujarnya.
Monitoring dan evaluasi juga, lanjut dr. Agus, akan mereka lakukan secara langsung. “Kita tidak hanya dengar laporannya saja tetapi kita juga akan turun untuk melihat langsung kondisi riilnya. Apakah laporan yang diberikan petugas lapangan sesuai atau tidak,” tegasnya.
Menurut dokter yang pernah menjadi Kepala Puskesmas Weoe, Halilulik, dan Kota Atambua itu, dengan pola kerja yang terfokus seperti itu, setiap desa/kelurahan di Belu akan menjadi desa/kelurahan yang tangguh. Ketahanan pangan masyarakat akan kuat dan ekonomi masyarakat akan bertumbuh menjadi lebih baik.
“Kalau keluarga sudah sehat (dengan jaminan kesehatan gratis), ekonominya baik, semuanya akan berjalan berjalan baik,” kata dr. Agus.
Terkait dengan pemasaran hasil pertanian yang banyak dikeluhkan warga karena harga jual yang sering tidak menentu, dr. Agus menyampaikan bahwa salah satu solusi yang akan dilakukan adalah membentuk Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) untuk menampung hasil-hasil pertanian masyarakat.
Selain itu, pemerintah juga akan membantu membuka jaringan kerjasama dengan pasar-pasar yang membutuhkan seperti toko, hotel, dan restoran baik di Belu maupun di luar Belu seperti di Kupang agar harga jualnya lebih terjamin.
“Misalnya kita kerja sama dengan hotel Sasando atau hotel Sotis di Kupang. Tapi kita lihat dulu pasokannya, bisa lancar atau tidak? Bisa bersaing dengan Kupang atau tidak? Oleh karena itu secara teknis Dinas Pertanian akan membicarakan ini,” terang Direktur RSU Atambua tahun 1992-1994 itu. (*/red)

