Stunting Masih Jadi Tantangan Besar untuk Dinkes Manggarai

Ruteng, medikastar.id

Persoalan stunting masih menjadi salah satu persoalan besar di Indonesia umumnya dan di NTT khususnya. Berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017, angka prevalensi stunting di NTT sebesar 40,3%. Ini masih lebih tinggi dari angka prevalensi Nasional sebesar 29,6%.

Melihat hal yang demikian, Dinkes Kabupaten Manggarai gencar melakukan sosialisasi tentang stunting. Rabu, (18/07/18), diberikan sosialisasi khusus bagi para tokoh agama.

Kepala  Dinkes Kabupaten Manggarai, dr. Yulianus Weng saat ditemui Medika Star di ruang kerjanya menjelaskan bahwa para tokoh agama perlu diberi pemahaman tentang stunting. Tujuannya agar saat mereka berkotbah di Gereja maupun Masjid, mereka dapat memberikan informasi tersebut kepada umat. Juga saat kursus perkawinan, informasi mengenai stunting diberikan juga kepada pasangan yang akan menikah.

Biasanya, lanjut dr. Yulianus, masyarakat lebih mendengar omongan dari para tokoh agama seperti Pastor, Pendeta, dan Haji dari pada tenaga kesehatan.

“Maka atas dasar itulah kami mengadakan sosialisasi bagi tokoh agama supaya mereka bisa menyampaikan masalah ini kepada umat,” tutur dr. Yulianus.

Dirinya menjelaskan bahwa di wilayah Manggarai, angka prevalensi stunting masih sangat tinggi. Data terakhir soal stunting di Kabupaten Manggarai berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 berkisar sekitar 58 persen. Sedangkan data dari pihak Provinsi berdasarkan pemantauan survei pangan dan gizi, angka stunting di Kabupaten Manggarai berkisar sekitar 38,6 persen.

Terkait masalah ini, lanjut dr. Yulianus, pihak Puskesmas yang berada di wilayah Kabupaten Manggarai sedang melakukan program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PISPK). Dalam program ini, semua balita yang mengalami gizi buruk didata.

Diharapkan pada bulan Agustus,  September, dan Oktober pihaknya sudah memiliki data ril soal balita penderita stunting.

“Stunting masih menjadi masalah serius. Bukan hanya di Kabupaten Manggarai. Di kota-kota besar di Indonesia juga masih bayak balita yang mengalami gizi buruk,” tuturnya.

Dinkes Manggarai, jelas dr. Yulianus, terus melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan. Pencegahan, kata dia, dimulai sejak seribu hari pertama kehidupan. Seribu hari pertama tersebut dimulai sejak masa kehamilan ibu. Dalam hal ini pihaknya terus memastikan bahwa ibu-ibu hamil tidak boleh sampai mengalami kekurangan gizi selama masa kehamilan.

“Kalau gizi ibu hamil kurang maka dengan sendirinya bayi di dalam kandungan akan mengalami gizi buruk,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga memperhatikan para remaja, baik itu siswa SMP maupun siswa SMA. Kepada mereka diberikan tablet tambah darah. Pihaknya juga menguyapakan agar ibu hamil harus rajin melakukan periksaan di pelayanan kesehatan terdekat.

Lebih jauh, dr. Yulianus menjelaskan bahwa stunting pada dasarnya bukan hanya masalah dari sektor kesehatan. Permasalahan ini butuh kerjasama lintas sektor.

Untuk penanganannya, ada penanganan secara spesifik dan ada penanganan secara saintifik. Selain penanangan secara langsung dari pihak kesehatan, butuh upaya langsung dari masyarakat itu sendiri.

“Bagaimana masyarakat memanfaatkan pekarangan rumahnya untuk menanam tanaman yang bermanfaat bagi dirinya. Itu salah satu cara pencegahan yang bisa mengurangi angka gizi buruk,” terangnya. (Mull)

Baca Juga : Wakil Ketua TP PKK Kota Kupang Himbau Kader PKK Sukseskan Imunisasi MR