Kota Kupang, medikastar.id
Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur menggelar Camp Revolusi Mental bagi ASN di ruang lingkupnya. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis hingga Sabtu atau 3-5 Desember 2020 tersebut bertempat di Hotel Neo Aston Kupang. Camp yang diinisiasi oleh Bidang Sumber Daya Manusia Kesehatan, khususnya Seksi Pengembangan SDMK ini mengangkat tema “Melahirkan ASN Unggul yang Disiplin dan Berintegritas, untuk Mewujudkan NTT Bangkit Menuju Sejahtera”.
Puluhan ASN yang hadir sebagai peserta difokuskan untuk mengembangkan kepribadian dan karakter mereka. Hadir juga dalam kegiatan tersebut Kepala Seksi Pengembangan SDMK Dinkes NTT, Merpati Nalle, S.Sos, yang juga bertindak selaku ketua panitia. Menurutnya, kegiatan tersebut yang diadakan tersebut mendukung visi Gubernur NTT yakni Mewujudkan NTT Bangkit Menuju Sejahtera.
“Kita juga mendukung programnya Gubernur, mewujudkan NTT bangkit menuju sejahtera. Sejahtera tentu dengan ASN yang baru, yang bangkit.” Jelasnya.
Ia menambahkan bahwa dengan adanya ASN yang bangkit, masyarakat tentu akan menjadi sejahtera. Bangkit yang dimaksudkan adalah munculnya komitmen untuk belajar, sehingga para peserta dapat lebih berkembang dan berubah ke arah yang lebih baik.
Di hari pertama kegiatan, peserta yang berasal dari berbagai bidang di ruang lingkup Dinkes NTT tersebut mendapatkan materi tentang Spiritual Quotient. Johny J. Kilapong, MA, CBS, CLS sebagai trainer menekankan bahwa SQ merupakan hal yang wajib untuk dibangun oleh ASN yang sehari-harinya bertugas untuk melayani masyarakat.
“Jadi, kita harus membangun SQ. Tidak bisa tidak.” Tegasnya.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta diberikan daftar pertanyaan untuk diisi. Setelah diisi, trainer akan menganalisis kepribadian dan karakter ASN yang ada. Analisis tersebut digunakan pelatih untuk memberikan masukan-masukan positif guna pengembangan diri mereka.
Di sesi yang sama, Johny menjelaskan bahwa kehidupan manusia terdiri dari tiga komponen. Ketiganya yakni roh, jiwa, dan tubuh. Khusus bagi jiwa, kesadaran adalah inti utama dari aspek tersebut. Ia menggunakan contoh perbedaan antara anak kecil dan orang dewasa. Keduanya sama-sama memiliki tubuh. Akan tetapi, anak kecil belum memiliki kesadaran, sedangkan orang dewasa sudah memilikinya.
“Anda bayangkan, kalau di kantor, orang bekerja tapi tidak punya kesadaran. Kira-kira orang dewasa atau anak kecil? Ambil uang tapi tidak mempunyai kesadaran. Kira-kira orang dewasa atau anak kecil? Pastikan kamu itu dewasa.” Ungkapnya.
Selain itu, pemateri yang juga adalah seorang pendeta tersebut membahas tentang kepemimpinan. Baginya, seorang pemimpin perlu memiliki 4D yang terdiri dari decision, direction, decisiveness, dan dignity. Dengan memiliki keempat hal tersebut, seorang pemimpin dapat mengontrol setiap aturan dan sistem kerja yang ada sehingga bisa diterapkan secara benar.
Lebih lanjut, untuk merubah kinerja-kinerja buruk yang masih ada di ruang lingkup pelayanan mereka, para ASN diminta untuk berbenah. Perubahan yang diimpikan bisa tercapai jika mereka mau untuk merubah diri sendiri terlebih dahulu.
“Perubahan dimulai dari diri sendiri. Tidak ada orang yang bisa merubah dunia tanpa merubah diri sendiri.” Katanya.
“Supaya bapak ibu, ketika anda kembali ke tempat kerja, orang melihat ada perubahan. Jangan sampai kita hadir, sudah kerja 10 tahun, hadir tidak hadir tidak ada pengaruh apa-apa.” Tambahnya.
Selaku ketua panitia, Merpati mengatakan bahwa camp tersebut diadakan untuk mendorong para ASN agar menjadi lebih berintegritas dan tulus dalam menjalankan setiap tugas yang ada. Dengan begitu, para pelayan masyarakat di ruang lingkup Dinkes NTT dapat mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan warga.
“Intinya dari ini kegiatan, kita dari ASN khususnya ASN Dinas Kesehatan Provinsi bisa menjadi pribadi yang mau berkorban, pribadi yang tulus dalam melayani, dan berkarakter.” Imbuhnya.
Di hari pertama dan kedua, para ASN mendapatkan materi. Kegiatan di hari ketiga dilanjutkan dengan kegiatan outbound. Setiap pagi, aktivitas para peserta selalu diawali dengan senam bersama demi menjaga kebugaran fisik mereka.
Panitia mengharapkan agar peserta yang kembali dari Camp Revolusi Mental dapat menerapkan setiap ilmu yang sudah didapatkan. Dengan demikian, mereka dapat menjadi ASN yang lebih unggul dan berprestasi dalam menjalankan tugas mereka. Semuanya berada di tangan para ASN. Seperti yang diketahui, perubahan adalah hak dan menjadi lebih adalah keputusan.
Terpantau, kegiatan berjalan dengan lancar. Agar peserta bisa mengikuti secara serius, ponsel dikumpulkan oleh penyelenggara selama sesi pelatihan berlangsung. Protokol kesehatan pun diterapkan secara ketat. Panitia menyediakan masker dan hand sanitizer bagi semua orang yang terlibat dalam camp tersebut. (har/DinkesNTT)

