Tiga Dampak Negatif Jika Pembelajaran Tatap Muka Semakin Lama Tidak Dilaksanakan

medikastar.id

Beberapa waktu yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebubayaan Indonesia, Nadiem Makarim mengatakan bahwa pembelajaran tatap muka dapat dilaksanakan pada semester genap 2020/2021. Kendati demikian, proses pembelajaran secara langsung baru bisa dilakukan jika beberapa persyaratan tertentu dapat dipatuhi.

Kabar ini tentunya memunculkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Penyebabnya karena pembelajaran tatap muka tentunya akan membuat terjadinya kerumunan antara para murid. Hal itu bisa meningkatkan risiko penyebaran Covid-19. Di sisi lain, semakin lama tidak dilaksanakannya metode pembelajaran tersebut dapat menyebabkan dampak negatif bagi anak-anak atau pelajar.

Dalam Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Semester Genap 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19 yang dibuat oleh Satgas Covid-19 bersama pihak-pihak terkait, terdapat tiga dampak negatif dari semakin lamanya tidak diadakan pembelajaran tatap muka.

Ancaman Putus Sekolah

Dampak negatif yang pertama adalah ancaman putus sekolah. Terdapat dua penyebab yang bisa mengakibatkan anak berhenti mengenyam pendidikan di bangku sekolah. Anak yang tidak pergi ke sekolah bisa jadi terpaksa harus bekerja untuk membantu keuangan keluarganya. Apalagi, krisis yang dialami oleh keluarga di masa pandemi saat ini mengharuskan sebagian besar orang mencari penghasilan tambahan.

Selain itu, para orang tua bisa jadi akan memiliki persepsi yang berbeda terhadap peranan sekolah dalam proses belajar dan mengajar. Dengan tidak adanya pembelajaran tatap muka, orang tua tidak bisa melihat peran sekolah dalam membina anak mereka secara langsung. Hal itu mungkin saja bisa mendorong beberapa orang untuk tidak meneruskan pendidikan anaknya.

Kendala Tumbuh dan Kembang

Dampak negatif yang kedua adalah besarnya kendala tumbuh dan kembang pada para murid. Dampak ini bisa disebabkan oleh tiga hal. Pertama, adanya kesenjangan capaian belajar karena perbedaan akses dan kualitas setiap anak pada saat proses pembelajaran jarak jauh. Hal ini biasanya terjadi pada sekolah dengan anak-anak yang memiliki kondisi sosial-ekonomi yang berbeda.

Kedua, ketidakoptimalan pertumbuhan dapat terjadi, khususnya pada anak-anak yang berusia PAUD. Turunnya keikutsertaan dapat membuat para anak kehilangan tumbuh kembang yang optimal di usia emas mereka.

Ketiga, munculnya risiko learning loss. Tidak adanya pembelajaran jarak jauh dalam jangka waktu yang lama kemungkinan besar akan membuat para anak mengalami penurunan kognitif, maupun pengembangan karakter.

Tekanan Psikososial dan KDRT

Tekanan psikososial dapat membuat anak menjadi stres. Hal ini biasanya terjadi pada anak-anak atau murid yang minim berinteraksi bersama guru, teman, dan lingkungan di luar rumahnya. Dan, penyebab tersebut akan diperparah ketika pembelajaran jarak jauh yang dilakukan terasa sangat sulit. Selain itu, risiko kekerasan yang tak terdeteksi dapat meningkat. Biasanya kekerasan dapat terjadi pada anak-anak dengan orang tua atau keluarga yang kurang sabar dalam mendampingi proses belajar mereka.

Meski begitu, proses pembelajaran tatap muka yang akan dilaksanakan perlu dipersiapkan secara baik berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. Lebih lanjut, jadi atau tidaknya pelaksanaan metode pembelajaran tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi tiap daerah.

Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan zona di tiap wilayah.  Pemerintah daerah, dinas dan institusi terkait, serta orang tua memiliki hak untuk menentukan metode pembelajaran yang dipakai. Dengan kata lain, pembelajaran tatap muka diperbolehkan, namun tidak diwajibkan. (har/satgascovid19)

Cegah Cluster Keluarga dengan Lakukan Beberapa Hal Berikut