medikastar.id
Beberapa waktu yang lalu, para peneliti dari King’s College London melakukaan analisis data berbasis informasi aplikasi pada pasien yang dirawat di RS St Thomas, London. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat adanya delirium sebagai gejala utama Covid-19 pada orang tua dengan kondisi lemah. Keadaan ini dikatakan memiliki kaitan dengan risiko penyakit serius yang lebih tinggi dan kematian.
Lantas, apa yang dimaksud dengan delirium? Apa saja yang menjadi tanda dan gejalanya? Mari bersama mengenal dan memahami tentang delirium.
Pengertian
Delirium adalah gangguan serius yang terjadi pada kemampuan mental. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan kebingungan pada saat seseorang berpikir, serta berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan.
Keadaan yang bisa memiliki kemiripan gejala dengan demensia ini dapat dilacak dari satu atau lebih faktor yang berkontribusi. Faktor tersebut antara lain penyakit parah atau kronis, perubahan keseimbangan metabolik, pengobatan, infeksi, pembedahan, keracunan, hingga pengaruh alkohol dan obat-obatan.
Tanda dan Gejala
Kemunculan tanda dan gejala delirium dapat terjadi dalam beberapa jam atau beberapa hari. Dan, dapat terjadi secara fluktuasi sepanjang hari atau dapat juga memiliki periode tanpa gejala. Pada saat malam hari, gejala cenderung akan berkembang menjadi lebih buruk sehingga segala sesuatu menjadi tampak kurang familiar. Berikut ini merupakan beberapa tanda dan gejala utama dari delirium.
Pertama, terjadinya pengurangan kesadaran lingkungan. Hal tersebut dapat mengakibatkan ketidakmampuan untuk fokus pada suatu pembicaraan atau sering beralih topik. Dengan kata lain, pasien akan mudah teralihkan oleh hal-hal yang tidak penting. Ia pun cenderung menjadi penyendiri dan memiliki lebih sedikit aktivitas, serta berkurangnya respon terhadap sekitarnya.
Kedua, adanya gangguan kognitif. Hal ini dapat terlihat dari kemampuan memori yang buruk terhadap kejadian yang baru-baru saja terjadi. Ada pula disorientasi atau ketidaktahuan akan keberadaan dan identitas diri. Pasien juga bisa mengalami kesulitan berbicara atau mengingat kata-kata, ucapan bertele-tele atau tidak masuk akal, kesulitan memahami ucapan, hingga kesulitan membaca dan menulis.
Ketiga, memiliki perubahan perilaku. Contoh perubahan yang dapat dialami adalah halusinasi, gelisah atau berperilaku agresif, berteriak dengan suara yang berbeda, menarik diri dari orang yang lebih tua, merasa lebih lesu, serta terganggunya kebiasaan tidur.
Keempat, gangguan emosional. Gangguan yang terjadi pada emosi pasien mungkin saja akan memunculkan paranoia atau kecemasan berlebihan, depresi, cepat marah, euforia, apati, pergantian suasana hati yang tak terduga, hingga kepribadian yang berubah.
Jenis-jenis
Delirium dapat terbagi menjadi beberapa jenis. Para ahli telah mengidentifikasi dan menetapkan tiga jenis dari kondisi tersebut.
Pertama, delirium hiperaktif. Jenis delirium ini dianggap paling mudah dikenali. Kecenderungan yang termasuk dalam delirium ini adalah kegelisahan, agitasi, perubahan suasana hati yang cepat atau halusinasi, dan penolakan untuk bekerja sama dengan hati-hati.
Kedua, delirium hipoaktif. Yang dimaksud dengan delirium hipoaktif adalah ketidakaktifan atau berkurangnya aktivitas motorik, kelesuan, rasa kantuk yang tidak normal, serta terlihat linglung.
Ketiga, delirium campuran. Seperti sebutannya, delirium jenis ini memiliki kombinasi antara delirium hiperaktif dan hipoaktif. Kedua kondisi tersebut dapat terjadi bergantian secara cepat pada satu orang yang mengalaminya.
Waktu yang Tepat untuk Pergi Ke Dokter
Keadaan delirium perlu dipahami secara baik oleh keluarga pasien. Dengan begitu, mereka bisa segera membawanya ke dokter guna mendapatkan pemeriksaan lanjutan, serta penanganan. Mengigau adalah salah satu tanda seseorang harus segera ke dokter.
Keluarga atau orang yang mengalaminya akan dimintai masukan tentang gejalanya. Hal tersebut berkaitan dengan pola pikir khas, serta kemampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Tujuannya untuk memperoleh diagnosis yang tepat dan menemukan penyebab yang mendasarinya.
Itulah beberapa hal penting yang perlu dipahami mengenai delirium. Lebih lanjut, tetaplah taati protokol kesehatan dan lindungilah orang-orang berusia lanjut yang rentan terkena infeksi Covid-19 dan delirium sebagai gejalanya. (har/sciencedaily/mayoclinic)
Baca juga: Munculnya Istilah Twindemi dan Urutan Gejala Covid-19 Menurut Ahli

