Merah Putih Berkibar di Antara Tumpukan Sampah Berharga

Kota Kupang, medikastar.id

Mentari perlahan menampakkan wajahnya di ufuk Timur, memberi kehangatan dan kekuatan baru. Hari ini, hari yang sangat bersejarah. Tetap 76 tahun lalu, bangsa Indonesia secara berani dan tegas menyatakan diri sebagai bangsa yang merdeka, bangsa yang bebas dari penjajahan bangsa lain.

Selasa, 17 Agustus 2021, secara serentak dari Sabang sampai Merauke memperingati momen penuh bersejarah yang diraih dengan pertumpahan darah dan banyak korban jiwa. Bersama sang fajar yang terus bersinar, saya berjalan menuju sebuah rumah yang berada di Jalan R. W. Monginsidi nomor 1 Kota Kupang. Persis di depan Kantor Keuangan Daerah Kota Kupang, beberapa rumah sederhana berdiri di atas tanah berbatu karang itu.

Dari jalan raya, rumah-rumah itu tak terlihat. Sebatang bambu tertancap mengibarkan bendera merah putih. Tak jauh dari lokasi bendera itu, tampak tumpukan botol-botol bekas pakai disimpan di beberapa tempat terpisah. Ini bukan tempat sampah. Ini adalah lokasi mengepul sampah yang dikenal sebagai kampung pemulung.

Kampung itu terdiri dari 23 Kepala Keluarga (KK) yang semuanya mempunyai profesi yang sama. Meski hidup di antara tumpukan sampah, namun lokasi itu tak seperti bak sampah yang selalu berbau amis. Sampah-sampah itu, merupakan sumber kehidupan warga setempat.

Saya menyusuri jalan masuk itu, menemui 5 orang yang sedang duduk di teras sebuah rumah. Rumah-rumah itu bukan rumah bertembok. Dindingnya dari bekas tripleks beratapkan seng-seng yang sudah berusia tua. Karatan pada atap rumah-rumah itu menunjukkan usia yang sudah berpuluh-puluh tahun.

Saya merasakan kehangatan dalam keramahan mereka menyambut saya. Saya pun bercerita dengan mereka lalu saya diantar menemui Ketua Kampung Pemulung, Imenuel Tabun. Dari Imenuel, saya tau lokasi itu berada di RT 11, RW 04 Kelurahan Pasir Panjang, Kecamatan Kota Lama.

Saya melihat beberapa tempat cuci tangan yang menunjukkan warga taat protokol kesehatan. Sebuah baliho terpampang di lokasi tersebut. Tertulis ‘Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi Ende Lio – Kupang’.

Imenuel bercerita, Mahasiswa dari Ende Lio itu akan bersama-sama dengan warga kampung pemulung melakukan upacara memperingati HUT RI yang ke-76. Saya pun mencoba melihat lokasi mana yang akan dijadikan tempat upacara.

Tak lama kemudian, belasan mahasiswa tiba dilokasi. Mereka tampak membawa sejumlah kantong berukuran besar. Saya mencoba melihat isi kantong itu. Mereka membawa sembako juga makanan untuk disantap bersama.

Sekitar pukul 10. 20 WITA, upacara sederhana itu dimulai. Tak ada pasukan pengibar bendera saat itu. Bendera sudah diikat pada sebatang bambu yang ditancapkan pada tempat yang lebih tinggi dari lokasi kami berdiri.

Upacara itu diawali dengan menghormati sang merah putih. Warga kampung pemulung mengikuti upacara itu dengan khidmat. Mereka tidak berdiri pada barisan-barisan yang rapi. Meski berdiri tak teratur, namun mereka tetap menjaga jarak dan tetap mengikuti jalannya upacara.

Beberapa anak-anak pun tampak berdiri tegak mengikuti upacara itu. Lagu Indonesia Raya berkumandang dengan penghormatan yang diberikan oleh seluruh mahasiswa dan warga kampung pemulung.

Usai menyanyikan lagu Indonesia Raya, Imenuel dengan raut wajah menunjukkan ketegasan dan penghargaan yang tinggi atas  pengorban para pejuang, mengajak semua yang hadir memaknai hari besar bangsa Indonesia.

Meski dirayakan dengan sederhana, tak menghilangkan makna perayaan hari bersejarah itu. “Kemerdekaan ini diperoleh dengan banyak pengorbanan. Walaupun sangat sederhana dan singkat tapi sangat menyentuh,” kata Imenuel.

Perjuangan itu, kata Imenuel, harus dilanjutkan oleh generasi saat ini. Mengisi kemerdekaan merupakan wujud nyata melanjutkan perjuangan para pahlawan yang telah berjuang hingga titik darah terakhir. Perjuangan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menjadi sangat penting.

Kesederhanaan perayaan itu tetap berbekas dan bermakna bagi warga kampung pemulung. Kemerdekaan itu pun harus didapatkan oleh semua warga Indonesia, termasuk warga kampung pemulung.

Kesejahteraan warga adalah bentuk nyata dari kemerdekaan. Pemerintah turut mengambil andil dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama warga kampung pemulung.

“Pemerintah harus lebih, dan lebih lagi mendekatkan diri dan melihat kondisi warga kampung pemulung,” kata Musa Triyantus Soinbala, Kabid Pendidikan dan Kaderisasi Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi Ende Lio.

Kondisi warga kampung pemulung dengan rumah yang begitu sederhana, kehidupan serba terbatas dengan berbagai persoalan seperti listrik dan krisis lainnya, kata Musa, menjadi catatan penting bagi Pemerintah.

Pemerintah, lanjut Musa, perlu membuat program yang bisa menyentuh kehidupan masyarakat setempat. Tak ketinggalan, dokumen identitas warga kampung pemulung pun harus diperhatikan oleh Pemerintah sehingga warga yang tinggal di kampung pemulung sudah terdaftar sebagai warga Kota Kupang. Dengan demikian, mereka akan mudah diintervensi oleh Pemerintah melalui program-program yang dapat meningkatkan taraf hidup mereka.

“Sehingga masyarakat di sini bisa merdeka atas rumah, merdeka atas listrik dan merdeka atas krisis-krisis yang selama ini mereka hadapi,” jelas Musa.

Pendapatan Menurun

Warga kampung pemulung turut terdampak akibat Covid-19. Jumlah sampah plastik, gelas Aqua, botol-botol platik, besi-besi tua semakin menurun. Sedikitnya jumlah sampah yang bisa dikumpulkan itu berakibat pada hasil penjualan yang semakin menurun.

“Sekarang ini anak-anak sudah tidak bisa membantu orang tua mengumpulkan sampah-sampah untuk diolah,” ujar Imenual Tabun.

Para orang tua pun tidak mengizinkan anak-anak mereka membantu karena menyadari bahaya yang akan terjadi bila anak-anak mengumpulkan sampah di jalanan.

“Hanya orang tua saja yang keluar rumah tapi selalu pakai masker. Kalau satu dua gelas aqua yang kita pilih di pinggir jalan itu tidak bau, tapi kalau sudah di bak sampah, itu semua jenis sampah ada dan pastinya bau,” tambahnya.

Sampah yang dikumpulkan pun akan diolah kembali sesuai jenisnya. Setelah diolah, sampah akan dijual kembali. Namun untuk saat ini, warga di kampung pemulung harus bekerja lebih giat, sebab sampah berharga itu sudah jadi rebutan.

“Kalau terlambat sedikit tidak dapat. Orang yang beli itu selalu ada. Hanya jumlah yang kita kumpulkan ini semakin menurun,” kata Benyamin Tanopo, salah satu warga kampung pemulung yang mengalami disabilitas fisik.

Tak bisa dipungkiri, pendapatan mereka kian menurun. Namun bagi Benyamin, bersyukur adalah cara untuk tetap sehat dan bertahan hidup. Ayah dari 3 anak itu tidak ingin menunjukkan keluarganya punya kekurangan. Baginya, semua telah seimbang.

“Kekurangan ada, tapi kita merasa tidak kurang. Semua seimbang,” kata Benyamin.

Benyamin mengaku tetap mengkonsumsi makanan seperti biasanya. Obat-obatan seperti vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh, tidak rutin dikonsumsi. Obat-obatan hanya dikonsumsi apabila ada gejala sakit. “Beli obat itu kalau ada gejala sakit. Selebihnya tidak,” tutur Benyamin.

Bagi warga kampung pemulung, Tuhan Yang Maha Kuasa tak pernah meninggalkan mereka. Bukti nyata penyertaan Tuhan adalah kesehatan yang mereka miliki sampai saat ini. Meski harus bergulat dengan berbagai jenis sampah, namun itu tidak membuat mereka jatuh sakit.

“Covid-19 sudah hampir dua tahun tapi puji Tuhan kami di sini tidak ada satu orang pun yang kena,” kata Imenuel Tabun.

Selama pandemi covid-19, warga kampung pemulung turut mendapatkan perhatian dari Pemerintah. Bantuan berupa sembako diberikan kepada warga 23 KK itu. Selain itu, ada beberapa KK yang mendapatkan Bantuan Sosial Tunai (BST).

“Kita dapat bantuan dari Pemerintah Kota berupa sembako. Ini artinya pemerintah juga tidak melupakan kita,” kata Imenuel.

Selain dari Pemerintah, beberapa organisasi pun turut berbagi meringankan beban warga kampung pemulung. Seperti yang dilakukan Gerakan Mahasiswa Pro Demokrasi Ende Lio. Usai melakukan upacara, mereka membagikan bingkisan berupa sembako. Bersama anak-anak dan orang tua di kampung pemulung, para mahasiswa itu menikmati santap siang bersama di depan rumah warga.

“Sembako yang kita berikan sedikit, kita berharap bisa memenuhi kebutuhan warga disini untuk beberapa hari kedepan,” tutup Musa. (joe/*)

Baca juga: Rayakan HUT Kemerdekaan RI, King Care Kupang Berbagi Kasih dengan Anak Yatim