Mengenal Badai Sitokin dan Cara Penanganannya Pada Pasien Covid-19

medikastar.id

Badai sitokin kembali menjadi pembicaraan setelah hal tersebut menimpa presenter Deddy Corbuzier yang mengancam keselamatannya beberapa waktu yang lalu. Melalui podcastnya, Deddy mengaku bahwa nyawanya terancam karena Covid-19 dan badai sitokin.

Perbincangan mengenai badai sitokin kini menjadi hangat lantaran disebut-sebut rentan dialami oleh pasien Covid-19.

Apa itu badai sitokin?

Badai sitokin adalah salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh para penderita covid-19. Kondisi ini perlu diwaspadai dan perlu untuk segera ditangani secara intensif. Jika dibiarkan penanganannya maka badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga pada kematian.

Sitokin sendiri merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Pada kondisi normal, sitokin membantu sistem imun untuk berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Cytokine storm atau badai sitokin terjadi ketika tubuh melepaskan terlalu banyak sitokin dalam darah pada jangka waktu yang sangat cepat. Kondisi ini membuat sel imun justru menyerang jaringan dan juga sel tubuh yang sehat sehingga dapat menyebabkan peradangan.

Kondisi ini dapat diketahui dengan pemeriksaan D-dimer dan CRP pada penderita covid-19. Tidak jarang peradangan tersebut justru membuat organ-organ dalam tubuh menjadi rusak atau gagal untuk berfungsi. Hal inilah yang membuat badai sitokin perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan kematian.

Pada pasien penderita Covid-19, badai sitokin menyerang jaringan paru-paru dan juga pembuluh darah. Kantung udara kecil atau alveoli di paru-paru akan dipenuhi oleh cairan sehingga tidak memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen. Hal tersebut yang menyebabkan kenapa penderita Covid-19 kerap kali mengalami sesak napas.

Gejala-gejala badai sitokin pada penderita Covid-19

Sebagian besar pasien Covid-19 yang mengalami badai sitokin mengalami demam dan sesak napas hingga beberapa di antaranya memerlukan ventilator atau alat bantu napas. Biasanya kejadian tersebut terjadi pada sekitar 6-7 hari setelah gejala Covid-19 muncul.

Badai sitokin juga menimbulkan beberapa gejala lain selain demam dan sesak napas, seperti :

  • Kelelahan
  • Pembengkakan di tungkai
  • Mual dan muntah
  • Nyeri pada otot dan persendian
  • Sakit kepala                    
  • Ruam kulit
  • Kejang
  • Sulit mengendalikan gerakan
  • Kebingungan dan halusinasi
  • Tekanan darah sangat rendah
  • Penggumpalan darah

Lantas, bagaimana cara penangan terhadap badai sitokin?

Untuk penderita Covid-19 yang mengalami badai sitokin memerlukan perawatan di ICU (unit perawatan intensif). Berikut adalah beberapa langkah penanganan yang perlu dilakukan oleh dokter:

Memantau tanda-tanda vital seperti tekanan darah, denyut nadi, pernapasan dan suhu tubuh secara intensif.

  • Pemasangan mesin ventilator
  • Pemberian cairan melalui infus
  • Memantau kadar elektrolit
  • Pemberian obat anakinra atau tocilizumab (actemra) untuk menghambat aktivitas sitokin

Meski demikian, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk dapat mengetahui penanganan yang tepat terhadap penderita Covid-19 yang mengalami badai sitokin.

Perlu diketahui bahwa penderita Covid-19 yang mengalami badai sitokin dapat menyebabkan kerusakan organ yang dapat mengancam nyawa. Oleh sebab itu, agar terhindar dari kondisi serius ini, Anda disarankan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan kapan saja dan di mana saja.

Jika di sekitar anda ada anggota keluarga yang mengalami gejala Covid-19, segera lakukan isolasi mandiri atau dengan menghubungi klinik layanan kesehatan yang ada untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut. (*/ctr)

Baca juga: Bupati dan Wabup Belu Tinjau Pelaksanaan Vaksinasi Covid-19