Guru Besar Penyakit Dalam FKUI-RSCM: Tidak Semua Provinsi Punya Peralatan Endoskopi Seperti di RSUD Atambua

medikastar.id

Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, guru besar pada Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo mengungkapkan bahwa tidak semua provinsi di Indonesia memiliki peralatan endoskopi seperti yang dimiliki oleh RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua. Ia juga mengatakan bahwa masyarakat Belu beruntung memiliki rumah sakit dengan peralatan yang canggih dan lengkap.

“Saya sebutkan bahwa ternyata di se-provinsi ini hanya di rumah sakit Belu inilah yang mempunyai fasilitas endoskopi yang memang untuk pelayanan rutin. Dan tidak semua provinsi di Indonesia ini yang memiliki peralatan endoskopi seperti yang dimiliki oleh RSUD Belu ini,” tutur Prof. Ari.

Prof. Ari bersama Prof. Yoshio Yamaoka, M.D., Pd.D yang merupakan seorang Profesor dari Jepang bergabung dalam Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia (PEGI) dan PEGI Jakarta serta PEGI Surabaya melakukan survei mengenai bakteri pada lambung (Helicobacter Pylori) orang Timor di RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua.

Kepada media ini, dirinya mengatakan bahwa salah satu alasan mengapa pihaknya melakukan survei di Kabupaten Belu ialah karena RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua memiliki fasilitas yang lengkap untuk tindakan endoskopi.

“Saya melihat bahwa salah satu alasan kenapa kami memilih RSUD Atambua karena memiliki fasilitas untuk tindakan endoskopi. Kemudian saya lihat juga selain ada peralatan endoskopi, di sini juga ada CT scan ada fluoroskopi. Jadi saya rasa beruntung masyarakat Belu secara keseluruhan dan Atambua tempat di mana rumah sakit ini berada, karena memang mereka memiliki rumah sakit dengan peralatan yang canggih dan lengkap,” kata Prof. Ari.

Ia melanjutkan bahwa survei yang dilakukan oleh pihaknya merupakan tindak lanjut dari survei yang pernah dilakukan sebelumnya. Bahwa sekitar 7 tahun yang lalu pihaknya selama 3 tahun melakukan survei endoskopi dari Aceh sampai Papua. Pada saat itu pihaknya juga melakukan survei di Kupang.

“Dari data-data tersebut kita lihat bahwa angka kejadian infeksi helicobacter pylori di masyarakat Kupang cukup tinggi. Dan ternyata setelah kita evaluasi lebih lanjut, kuman yang ada pada orang Timor tersebut juga lebih ganas dalam menyebabkan kanker,” jelas Prof. Ari.

Oleh karena itu saat ini pihaknya kembali ke Timor khususnya ke Atambua untuk melakukan lagi survei endoskopi.

“Alhamdulillah berkat dukungan bapak bupati yang luar biasa, kami difasilitasi untuk mendapatkan pasien-pasien dan kita sudah melakukan itu. Dan kita mendapatkan 123 pasien dalam 2 minggu ini. Mudah-mudahan ini akan kita evaluasi lebih lanjut dan untuk yang positif pun kami sudah obati dengan paket pengobatan baru, mengobati kuman helicobacter pylori selama 1 minggu, yang selama ini harus dengan 2 minggu,” lanjut Prof. Ari.

“Dengan informasi yang didapat hari ini bahwa ternyata 26% dari masyarakat Belu yang dilakukan tindakan endoskopi ini mengandung kuman, oleh karena itulah buat pasien, masyarakat Belu yang mempunyai masalah lambung sebaiknya diperiksa melalui dokter Puskesmas. Kalau perlu rujuk ke rumah sakit untuk dipastikan apakah memang ada kuman helicobacter pylori di dalam lambungnya. Kalau memang ada kuman helicobacter pylori dia itu harus diobati,” tutup Prof. Ari. (*)