Bunda PAUD Belu, Freny Taolin Terima Penghargaan Wiyata Dharma Pratama

medikastar.id

Bunda Paud Kabupaten Belu, Dra. Freny Sumantri Taolin menerima penghargaan Wiyata Dharma Pratama Kategori PAUD Kabupaten Daerah Tertinggal dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) di Jakarta (08/11/23).

Penghargaan ini diberikan oleh Kemendikbudristek sebagai apresiasi atas kinerja dan perjuangan Freny sebagai Bunda PAUD Kabupaten Belu yang telah menjalankan peran dan tugasnya secara optimal dalam mendukung Gerakan Transisi PAUD ke SD yang menyenangkan menuju PAUD berkualitas.

Terkait hal tersebut Freny mengungkapkan bahwa dirinya bersyukur atas penghargaan yang diterima. Ia juga mengungkapkan terima kasih kepada keluarga, pemerintah daerah kabupaten Belu, serta semua pihak yang telah mendukungnya.

“Saya mengucap syukur pada Tuhan, kepada keluarga karena dukungan dari mereka yang luar biasa sehingga saya bisa bekerja dengan baik. Meskipun kami jarangan bertemu tetapi dukungan dari mereka sudah sangat luar biasa sehingga saya mampu berkarya bagi masyarakat kabupaten Belu,” tuturnya.

Dra. Freny Sumantri Taolin saat menerima penghargaan Wiyata Dharma Pratama

“Saya juga mengucapkan terima kasih kepada bupati Belu, bersama dinas pendidikan dan kebudayaan kabupaten Belu  melalui kabid PAUD yang dengan luar biasa telah mensuport segala kegiatan kami. Terima kasih juga kepada bunda PAUD Nasional, Ibu Iriana Joko Widodo yang telah memberikan anugerah ini. Terima kasih juga bagi bapak Nadim Makarim selaku menteri pendidikan yang telah memberikan dukungan kepada kami sebagai bunda PAUD,” sambung Freny.

Ia menjelaskan bahwa penghargaan yang diberikan tersebut berkaitan dengan bagaimana perannya dalam menyukseskan program pemerintah, yaitu transisi dari PAUD ke SD yang menyenangkan.

Transisi dari PAUD ke SD yang Menyenangkan

“Kita harus sukseskan transisi dari PAUD ke SD yang menyenangkan sebab anak-anak PAUD kita ini merupakan generasi penerus bangsa. Kita harus mempersiapkan generasi penerus kita ini untuk Indonesia emas 2045. Salah satu caranya ialah kita mendidik anak-anak untuk belajar yang menyenangkan.  Jika sejak dini kita mengajarkan anak-anak kita tentang bagaimana belajar dengan cara yang menyenangkan, maka sampai besarpun mereka akan selalu senang dalam belajar,” jelas Freny.

Freny melanjutkan bahwa komitmennya dalam  menyukseskan program pemerintah yaitu transisi dari PAUD ke SD yang menyenangkan juga selaras dengan visi dan misi bupati Belu yakni menjadikan Belu yang sehat, berkarakter dan kompetitif. Untuk menuju hal tersebut tentunya pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mengubah kabupaten Belu menjadi daerah yang lebih baik ke depannya. Dan sebagai Bunda PAUD dirinya berkomitmen untuk bekerja keras mengingat Pendidikan formal dimulai dari PAUD.

Ia juga menjelaskan bahwa transisi dari PAUD ke SD yang menyenangkan harus terus disosialisasikan mengingat selama ini ada miskonsepsi bahwa untuk masuk SD anak-anak harus bisa Calistung. Padahal belum waktunya bagi anak-anak PAUD untuk belajar Calistung secara serius.

“Pengenalan boleh, misalnya pengenalan huruf, angka, tetapi anak-anak yang masih di usia PAUD ini jangan dipaksakan untuk harus bisa membaca, menulis, atau harus bisa berhitung. Jadi transisi PAUD ke SD harus dibuat menyenangkan,” sambung Freny.

Lebih jauh, Freny menambahkan bahwa ketika masuk ke SD, anak-anak harus menjalani masa pengenalan selama 2 minggu. Dalam proses tersebut anak tidak langsung belajar, tetapi harus menjalani dulu proses pengenalan lingkungan sekolah, sehingga mereka dapat beradaptasi dengan baik.

Ia melanjutkan bahwa di kabupaten Belu pihaknya sudah melakukan advokasi terkait transisi dari PAUD ke SD yang menyenangkan. Pihaknya juga melakukan sosialisasi mengenai transisi PAUD ke SD yang menyenangkan kepada pengelola PAUD, kepala SD, orang tua siswa, bunda PAUD desa, serta bunda PAUD kecamatan di 12 kecamatan yang ada di kabupaten Belu.  Selain itu, diupayakan juga berbagai langkah untuk meningkatkan kesadaran dan peran ayah dalam pengasuhan anak.

Dikatakan olehnya bahwa dalam melaksanakan semua kegiatan PAUD, ia hanya berusaha untuk terus bekerja secara maksimal tanpa pernah berpikir tentang penghargaan tersebut.

“Jujur yang ada dalam benak saya adalah bekerja dan bekerja tidak pernah terpikirkan bahwa saya akan mendapatkan anugerah ini. Ini adalah bonus yang luar biasa yang Tuhan berikan kepada saya. Oleh karena itu saya ucapkan terima kasih juga kepada masyarakat kabupaten Belu dan anak-anak PAUD, para pengelola dan para guru yang telah mengabdi untuk anak-anak PAUD, karena ini merupakan kolaborasi dari kita semua,” ungkapnya.

Frenny berharap agar penghargaan tersebut dapat menjadi pematik yang dapat memberikan semangat bagi dirinya untuk terus bekerja dan berkarya bagi masyarakat Belu.

“Kita memang dari perbatasan tetapi semangat kita tidak pernah terbatas,” tutupnya. (*)