Kupang, medikastar.id
Bakso ikan daun kelor dari Poltekkes Kemenkes Kupang dipamerkan dalam ajang Edu Health Fair Politeknik Kesehatan Tahun 2018 beberapa waktu lalu. Menteri Kesehatan RI Nila Farid Moeloek yang sempat mengunjungi stand Poltekkes Kemenkes Kupang mengapresiasi hasil olahan tersebut. Begitu pun masyarakat yang mampir ke stand Poltekkes Kupang.
Selain bakso daun kelor, Poltekkes Kemenkes Kupang juga memamerkan nastar daun kelor, minuman dari buah faloak dan sabun dari buah saboak.
Dalam Edu Health Fair Politeknik Kesehatan ini, Poltekke Kemenkes Kupang diwakili oleh 2 orang staf ADAK dan 2 orang dosen. Mereka adalah Edwin M. Mauguru, ST.,M.KL; Yohanes C. Nugraha, ST; Yualeny Valensia, SST; dan Samuel D. I. Makoil, S. Farm., Apt.
Menurut dosen Poltekkes Kemenkes Kupang, Samuel Makoil, S,Farm, Apt, pengunjung umumnya merasa penasaran dengan bakso dari daun kelor. Hal itu tak lepas dari kebiasaan masyarakat Jawa yang melihat daun kelor sebagai pengusir setan atau roh halus. Namun setelah diberi penjelasan, mereka akhirnya paham.
Sementara itu, instruktur prodi Gizi, Yualeni Valensia, SST, mengatakan bakso ikan daun kelor merupakan terobosan baru. Karena menurutnya, selama ini yang biasa ditemui adalah bakso dari daging sapi. “Kenapa kita tidak mengolah bakso ikan terus dikombinasikan dengan daun kelor. Kan potensi ikan dan daun kelor di NTT sangat menjanjikan. Apalagi kandungan gizinya sangat tinggi,” urai Yualeni.
Pembantu Direktur 3 Poltekkes Kemenkes Kupang, Wilhelmus Olin, SF, Apt.Msc, mengaku senang karena stand Poltekkes Kupang dikunjungi Menkes. Namun, ia mengaku waktu persiapan yang terbatas membuat proses pengurusan untuk memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atas produk itu belum dituntaskan. “Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk tahun depan,” ujarnya.
Ke depan Poltekkes Kemenkes Kupang akan menggelar expo antar jurusan. Hal ini, menurut Wilhelmus, menjadi kesempatan bagi masing-masing jurusan menujukkan kemampuannya masing-masing. Sehingga yang terbaik akan dibawa ke expo tingkat nasional.
Daun kelor kini mendapat tempat penting dalam kebijakan pemerintah Provinsi NTT. Melalui program Revolusi Hijau, Gubernur NTT Viktor Laiskodat ingin kelor menjadi salah satu sumber PAD baru. Lebih dari itu, menurut Laiskodat, daun kelor adalah emas hijau yang bisa mengatasi masalah kekurangan gizi (stunting) di NTT. (*/red)
Baca juga: IMF Adakan Pelatihan Jurnalistik

