Berdayakan Anggota, Pertuni NTT Gelar Pelatihan Komputer dan Daur Ulang Barang Bekas

Kota Kupang, medikastar.id

Penyandang disabilitas netra yang bernaung di bawah Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) NTT mengikuti pelatihan keterampilan komputer dan daur ulang barang bekas. Kegiatan ini diharapkan meningkatkan keterampilan para tuna netra sehingga dapat menghasilkan karya yang bernilai jual untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT, Bernadeta M. Usboko, M.Si pada Senin (26/11/2018) di aula LPMP Provinsi NTT. Peserta kegiatan adalah anggota Pertuni dari berbagai daerah di NTT seperti  Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Ende, Sumba Timur, Manggarai, Belu Dan Malaka.

Ketua panitia kegiatan, Baltasar Kolpawe, mengatakan, untuk memberdayakan anggotanya, Pertuni terus mencari terobosan baru. Salah satunya dengan menggelar pelatihan komputer bicara dan daur ulang barang bekas.

Para peserta kegiatan dibagi dalam dua kelas, yakni kelas komputer dan daur ulang barang bekas. Pelatihan komputer akan dipandu oleh instruktur dari tim Pertuni NTT sedangkan daur ulang barang bekas dipandu oleh tim dari Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Menurut Baltasar, pelatihan komputer bagi para tuna netra dimaksudkan agar para tuna netra dapat mengoperasikan komputer melalui komputer bicara. Sedangkan pelatihan daur ulang barang bekas adalah pelatihan baru yang diharapkan menambah jenis keterampilan yang sudah dipunyai para tuna netra seperti pijat dan pembuatan kemoceng.

“Mungkin selama ini hanya ada jenis keterampilan yang sama di masyarakat NTT, seperti kemoceng dan pijat. Daur ulang adalah koleksi keterampilan baru yang akan memberdayakan mereka sehingga lebih meningingkatkan pendapatan di bidang ekonomi,” ujar Baltasar.

Hendrikus Asa, salah satu peserta kegiatan mengaku senang bisa mengikuti kegiatan ini. Menurut Hendrikus, kekurangan bukan menjadi hambatan untuk berkarya. Dengan adanya kegiatan ini mereka lebih termotivasi untuk berkarya sekaligus menghilangkan stigma dan terlibat dalam pembangunan bangsa.

“Kami terus mendorong diri dan mempunyai kemauan untuk belajar apa yang kami bisa. Dan itu kami lakukan untuk berpartisipasi dalam pembangunan bangsa dan negara,” ujar Hendrikus.

Hal yang sama diungkapkan Adrianus Moko. Ia sangat antusias karena kegiatan ini (daur ulang barang bekas) adalah keterampilan baru bagi para tuna netra.

“Karena ini sesuatu yang baru dan dituntun oleh orang dari luar provinsi sehingga kita mau tahu ini kira-kira seperti apa,” tuturnya. (red)

Baca juga: HIV/AIDS Mengancam Manggarai Timur