Kota Kupang, medikastar.id
Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi NTT, Wayan Dharmawa, Selasa (16/04/19) mengungkapkan bahwa salah satu kunci utama dalam pembangunan pariwisata di NTT yang juga selalu ditekankan oleh Gubernur NTT, Viktor B. Laiskodat ialah kebersihan lingkungan. Kebersihan lingkungan ini, menurutnya, amat berpengaruh terhadap kunjungan dari wisatawan ke berbagai destinasi wisata yang ada di provinsi NTT.
“Kebersihan merupakan Sapta Pesona dari pembangunan pariwisata di NTT. Apabila kita ingin mendorong pariwisata, maka kebersihan merupakan sebuah keharusan. Oleh karenanya, Gubernur NTT selalu mendorong gerakan kebersihan ini, yang di Kota Kupang misalnya dioptimalkan dengan keterlibatan ASN,” tutur Wayan.
Ia menjelaskan bahwa wisatawan di NTT, khususnya wisatawan manca negara hampir semuanya merupakan wisatawan terusan. Oleh karenanya, apabila wisatawan tersebut memperoleh informasi yang kurang baik terkait dengan destinasi wisata, khususnya mengenai kebersihan lingkungan di destinasi tersebut, maka ini akan sangat berpengaruh pada ekspektasi mengenai resistensi kesehatan yang bisa terjadi pada saat mereka berwisata. Sehingga wisatawan pasti akan mengurungkan niatnya.
“Karena mereka ingin rekreasi untuk meningkatkan kualitas kesehatan mereka juga,” tuturnya.

“Misalnya destinasi wisata di Labuan Bajo yang bertumbuh sangat pesat, darinya diharapkan ada limpahan atau terusan perjalanan wisatawan ke Sumba misalnya. Kalau tingkat kebersihan yang ada berbeda, tentu akan menghambat wisatawan ke Sumba. Tetapi kalau misalnya fasilitas dan kesehatan lingkungan, sama standarnya antara Sumba dan Labuan Bajo, maka perjalanan terusan itu merupakan sesuatu yang pasti,” sambung Wayan.
Terkait hal ini, Ia memaparkan bahwa Gubernur NTT mendorong masyarakat untuk menghidupkan budaya bersih. Bahkan dari kebijakan yang ditetapkan telah ada kesepakatan antara Gubernur NTT dengan para Bupati dan Wali Kota mengenai upaya membangun budaya bersih.
“Membangun budaya bersih memang tidak bisa dilakukan secara sepihak oleh pemerintah saja, tetapi adalah sebuah kerja sama mulai dari rumah tangga, berkembang ke RT/RW desa, kelurahan, kecamatan, kabupaten. Ini yang didorong. Artinya kata kunci membangun kebersihan ialah membangun sebuah karakter baru masyarakat dari yang biasa membuang sampah menjadi ke budaya memungut sampah,” kata Wayan.
Selain itu, menurutnya, kebiasaan menjaga kebersihan lingkungan membutuhkan sebuah komitmen yang kuat, terutama dimulai dari sistem di pemerintahan. Sehingga Gubernur NTT mendorong perbaikan sanitasi lingkungan di kantor-kantor pemerintah dan di pusat-pusat layanan publik.
“Itu yang pertama didorong. Kalau misalnya di pusat-pusat layanan publik belum selesai (belum bersih) artinya aspek kebersihan belum tercermin dengan baik, maka sulit mendorong perbaikan di rumah tangga,” katanya.

Dikatakan bahwa apabila masyarakat telah melihat layanan publik dalam kondisi yang bersih, maka mereka akan menyadari bahwa setiap ingin ke layanan publik sudah ada sebuah desakan agar menjaga kebersihan. Hal ini akhirnya akan mendorong kebersihan menjadi sebuah kebutuhan di rumah tangga.
“Mana kala di pusat layanan publik sudah tercermin kebersihan, maka akan lebih mudah kita mendorong masyarakat,” tutur Wayan.
Wayan juga menjelaskan bahwa berbudaya bersih bukan merupakan sebuah pekerjaan baru.
“Sebagai orang beriman, saya pikir semua agama mengajarkan bahwa bersih itu merupakan bagian dari iman. Jadi kalau kita sudah mengatakan bahwa bersih itu bagian dari iman, maka persoalan implementasi adalah persoalan karakter,” ujarnya.
“Kalau kita makin baik menghayati ajaran agama bahwa bersih itu sebuah kebutuhan untuk hidup sehat, untuk mencapai kehidupan rohani yang lebih baik, maka mestinya tidak sulit. Untuk itulah mari kita secara bersama-sama wujudkan bahwa bersih itu adalah cerminan dari kualitas keimanan kita,” tutup Wayan. (*/red)
Baca Juga: Klinik King Medika Doreng Resmi Layani Pasien Peserta BPJS Kesehatan

