Sebagai RS Rujukan Regional di Daerah Perbatasan, RSUD Atambua Terus Berbenah

Atambua, medikastar.id

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua terus berbenah dari waktu ke waktu. Selain memiliki fasilitas berupa gedung yang telihat megah dengan berbagai kelengkapannya, RSUD ini juga terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanannya bagi masyarakat di Kabupaten Belu dan sekitarnya.

“Belum banyak yang saya lakukan, tetapi minimal saya bersama staf saya yang berjumlah 647 orang, kami berupaya untuk membuat yang terbaik bagi masyarakat kabupaten Belu pada khususnya dan masyarakat yang dirujuk ke sini pada umumnya. Intinya bahwa kami akan selalu melayani apa pun yang berhubungan dengan tugas pokok dan fungsi kami,” ungkap Direktur RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua, drg. Ansilla Eka Mutty kepada Media ini, Rabu (22/05/19).

RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua

drg. Ansilla menjelaskan bahwa hingga saat ini RSUD Atambua banyak mendapat bantuan dari pemerintah pusat melalui Dana Alokasi Khusus (DAK). Bahkan sekitar 50-60 persen dari anggaran yang dikelola oleh RSUD ini berasal dari DAK tersebut.

“DAK merupakan pemberian dari pemerintah pusat bagi daerah-daerah yang menjadi prioritas. Kami menjadi prioritas karena sampai saat ini kami adalah rumah sakit rujukan regional yang tahun ini akan dievaluasi lagi. Selain itu, kami juga sebagai rumah sakit perbatasan, sehingga setiap usulan gedung ataupun alat kesehatan melalui DAK pasti mendapat urutan pertama,” lanjutnya.

Untuk fasilitas-fasilitas tersebut, drg. Ansilla mengapresiasi dan berterima kasih kepada pemerintah pusat, khususnya Presiden Joko Widodo dan juga Kementerian Kesehatan serta kementerian terkait lainnya, juga kepada pemerintah daerah Kabupaten Belu yang sangat memperhatikan RSUD tersebut.

“Tetapi kami juga harus sadar bahwa tersedianya fasilitas dan gedung yang memadai harus ditunjang dengan pelayanan yang baik. Itu terus terang kami belum,” katanya.

Hal ini tentunya berkaitan dengan Akreditasi Rumah Sakit, dimana menurut drg. Ansilla, RSUD Atambua terakhir kalinya diakreditasi pada tahun 2017 lalu. Di mana pada saat itu, RSUD Atambua berhasil lulus dalam 10 Pokja dengan nilai di atas 80 dari 15 Pokja yang dinilai.

“Kami terakreditasi terakhir pada tahun 2017 di mana pada saat itu saya baru saja memimpin. Niat kami adalah bahwa kami belajar dari kekurangan itu dan akan kami reakreditasi lagi pada desember 2020 mendatang. Mudah-mudahan pada saat itu kami bisa mendapatkan 5 bintang. Untuk itu upaya-upaya yang sedang kami lakukan adalah saat ini kami tengah menata dokumen, SDM, lapangan dan sebagainya,” tuturnya.

Ingin Belajar Langsung di Rumah? Klik untuk Terhubung dengan Branded Home Private

Tingkatkan Kualitas Pelayanan

Terkait pelayanan bagi masyarakat, drg. Ansilla menjelaskan bahwa salah satu pelayanan yang sedang giat diperjuangkan oleh pihaknya ialah mengurus ijin insenerator untuk pembakaran sampah medis.

“Kami sudah memiliki insenerator dan Ipal. Saat ini kami sedang mengurus ijinnya dan hampir selesai. Setelah semuanya selesai, kami bisa bekerja sama dengan seluruh fasilitas kesehatan yang ada di Belu untuk mengatur sampah medis,” tuturnya.

RSUD Mgr. Gabriel Manek, SVD Atambua

Selain ijin insenerator, pihaknya juga tengah mempersiapkan salah satu pelayanan yang akan menjadi layanan unggulan RSUD Atambua, yakni Unit Hemodialisa (Unit Cuci Darah).

“Satu bulan lagi kami akan memiliki Hemodialisa untuk cuci darah. Kalau unit cuci darah sudah dibuka maka pasien cuci darah tidak harus ke Kupang lagi,” kata drg. Ansilla.

Lebih jauh, dalam tahun ini, pihaknya juga akan membangun gedung bedah pusat terpadu sehingga RSUD Atambua akan memiliki ruang operasi yang sesuai dengan standard. Sementara di tahun depan, akan dibangun Gedung 1, 2, dan 3 yang akan dikhususkan untuk rawat inap dengan kapasitas sebanyak 250 tempat tidur.

Satu lagi yang mungkin akan menjadi inovasi RSUD Atambua ialah akan dibangun rumah tunggu anak yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak untuk menunggu orang tua mereka yang sedang berkunjung di rumah sakit.

“Kita juga memiliki banyak pasien anak yang non infeksius dimana mereka jenuh dirawat berlama-lama di ruangan, sehingga kita menyiapkan rumah tunggu ini agar di situ mereka dapat bermain,” terang drg. Ansilla.

Rumah tunggu ini akan dibangun menggunakan dana dari pendapatan RSUD Atambua, karena RSUD Atambua merupakan BLUD yang membiayai diri sendiri di mana rata-rata setiap bulannya RSUD ini menyumbang hingga 2,5-3 miliar untuk PAD.

“Saya juga mengusulkan ke Kementerian PUPR untuk pembangunan rumah dokter, semacam rusun. Ini sudah kami ajukan proposalnya,” sambungnya.

Terlepas dari itu, drg. Ansilla ingin agar RSUD Atambua menjadi rumah yang sangat disayangi oleh seluruh staf dari managemen sampai pada cleaning service.

“Karena sebagian besar waktu kita habis di sini, sehingga saya ingin agar rumah sakit ini menjadi rumah kedua bagi semua staf,” tuturnya.

Oleh karenanya, selain memperhatikan kualitas pelayanan dan semua fasilitasnya, drg. Ansilla mengatakan bahwa dirinya juga sangat memperhatikan stafnya, baik itu menyangkut hak maupun kewajiban staf.

“Kami berupaya untuk menjadi lebih baik,” tutupnya. (*/red)

Baca Juga: 24 Dokter Ikuti Program Intersip Dokter Muda Indonesia di NTT