Ribuan Penari Likurai di Malaka Meriahkan Pencanangan Belkaga Nasional oleh Menkes RI

Betun,medikastar.id

Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, Sp.M (K) mencanangkan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) Nasional tahun 2019 di Betun, Kabupaten Malaka, Jumat (04/10/19).

Pencanangan ini ditandai dengan pemukulan Bibiliku oleh Menteri Kesehatan, Nila Moeloek; Gubernur NTT yang diwakili oleh Sekda NTT, Ir. Benediktus Polo Maing; Dirjen P2P Kemenkes RI, dr. Anung Sugihantono, M.Kes; Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria Seran, MPH (SBS) dan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dr.drg. Dominikus Mere, M.Kes. Selain itu, dilakukan juga penyerahan obat secara simbolis dari Menteri Kesehatan RI kepada Gubernur NTT dan dilanjutkan dengan minum obat filariasis secara serempak oleh semua yang hadir dalam kesempatan tersebut.

Acara ini dimeriahkan oleh hadirnya ribuan penari yang merupakan para pelajar di Kabupaten Malaka yang tampil dengan busana adat dan menari Likurai serta Bidulalok saat Menteri Kesehatan dan rombongan memasuki tempat acara.

Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek dalam kesempatan tersebut mengatakan bahwa Belkaga telah dicanangkan sejak 5 tahun yang lalu, sehingga kali ini merupakan pencangan Belkaga yang kelima kalinya.

“Saya mengikuti sejak awal (pencanangan) dan hari ini saya minum (obat filariasis) di tanah Malaka,” kata Nila.

Menurutnya, Kaki Gajah mau tidak mau harus dieliminasi. Salah satu caranya ialah dengan tidur menggunakan kelambu. Olehnya, saat ini kelambu juga diberikan oleh pihaknya kepada masyarakat, sekaligus untuk mencegah penyakit malaria.

Para Penari

Ia mengatakan bahwa ke depan pihaknya akan terus melakukan evaluasi mengenai kaki gajah. Untuk saat ini, dari 118 Kabupaten di Indonesia, sudah ada 4 kabupaten yang berhasil mengeliminasi Kaki Gajah.

“Kita akan melihat kadar obat yang ada di dalam tubuh masing-masing masyarakat ini dan kalau kadarnya sudah mencukupi maka kita akan mengumumkan bahwa daerah ini sudah bebas filaria. Tetapi untuk daerah yang belum secara keseluruhan nanti akan diulang sampai dua atau tiga tahun ke depan,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur NTT, Viktor Laiskodat dalam sambutannya yang dibacakan oleh Sekda NTT, Benediktus Polo Maing menjelaskan bahwa Provinsi NTT adalah salah satu daerah endemis Filariasis. Ada 14 kabupaten yang harus melaksanakan minum obat filariasis secara massal dengan sasaran usia 2 sampai 70 tahun. Oleh karenanya, diharapkan Bupati dan jajarannya menjadi contoh untuk minum obat secara serentak, tepat sasaran serta mampu berkoordinasi agar dapat mempercepat pencapaian eliminasi filariasis di NTT menuju Indonesia bebas kaki gajah.

Lebih jauh, dikatakan olehnya bahwa pembangunan kesehatan menempati prioritas yang tinggi dan menjadi ageda utama, baik pada tingkat pusat maupun pada tingkat daerah.

Menteri Kesehatan, Bupati Malaka, Sekda NTT bersama para tamu undangan

Saat ini, lanjutnya, Triple Burden menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia yang perlu dihadapi secara serius oleh seluruh komponen bangsa. Terkait hal ini, Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga dapat menjadi sebuah strategi ampuh dalam menghadapi permasalahan kesehatan tersebut. Akan tetapi, Program tersebut memang tidak mudah untuk dilaksanakan di seluruh Puskesmas di NTT mengingat kondisi geografis dan keadaan masyarakat yang berbeda-beda. Dalam hal ini program ini perlu dilaksanakan secara bertahap dan terkoordinasi.

“Kegiatan ini juga sangat penting untuk menguatkan komitmen dan semangat kita semua untuk lebih memberi makna pada masyarakat akan pentingnya kesehatan,” katanya.

Gubernur NTT juga menegaskan bahwa sebagai investasi, pembangunan kesehatan harus lebih diperhatikan pada aspek promotif-preventif tanpa melupakan aspek kuratif rehabilitatif. Selain itu, pelaksanaan gerakan masyarakat hidup sehat harus dimulai dari keluarga karena keluarga adalah bagian dari masyarakat terkecil yang membentuk kepribadian dari proses pembelajaran hingga menuju kemandirian. Artinya dengan keluarga sehat, maka dengan mudah menciptakan gerakan masyarakat hidup sehat.

Di tempat yang sama, Tuan Rumah Kegiatan, Bupati Malaka, dr. Stefanus Bria menyampaikan terima kasihnya kepada Menteri Kesehatan RI dan seluruh romobongan serta para tamu undangan lainnya yang telah berkenan untuk datang di Tanah Malaka.

“Pemerintah Kabupaten Malaka menyampaikan terima kasih kepada ibu Menteri Kesehatan, Gubernur NTT dan Kepala Dinas Kesehatan NTT yang memilih Malaka sebagai tuan rumah pencanangan Belkaga nasional tahun 2019,” katanya.

“Ketika Malaka dipilih sebagai tuan rumah, kami katakan bahwa ini bukan merupakan sebuah beban, tetapi ini merupakan sebuah berkat dan kami merasa sangat gembira sekaligus tersanjung,” sambungnya.

Dalam acara ini, Menteri Kesehatan RI juga memberikan sertifikat eliminasi filariasis kepada 5 Bupati di Indonesia yang daerahnya telah mengeliminasi filariasis. Kelima bupati tersebut antara lain Bupati Labuah Batu Provinsi Sumatra Utara, Bupati Pelalawan Provinsi Riau, Bupati Walikota Serang Provinsi Banten, Walikota Tanggeran Provinsi Banten, dan Walikota Tanggeran Selatan Provinsi Banten.

Selain itu, Menteri Kesehatan memberikan sertifikat eliminasi malaria kepada beberapa Bupati, yakni Bupati Nagan Raya Provinsi Aceh, Bupati Bangka Tengah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Bupati Mamuju Provinsi Sulawesi Barat, Bupati Mamasa Provinsi Sulawesi Barat, Bupati Selayar Provinsi Sulawesi Selatan, dan Bupati Katingan Provinsi Kalimantan Tengah.

Menteri Kesehatan juga menganugerahkan Sertifikat penghargaan sebagai penyelenggaran pencanangan Belkaga Nasional kepada Gubernur NTT dan juga Bupati Malaka.

Terpantau acara ini berlangsung dengan penuh kemeriahan. (*/red)