Kota Kupang, medikastar.id
Hadiah Nobel bidang Kedokteran 2019 yang diumumkan Senin (7/10) diberikan kepada Sir Peter Ratcliffe dari University of Oxford dan Francis Crick Institute, William Kaelin dari Harvard, dan Gregg Semenza dari Johns Hopkins University.
Ketiga ilmuwan itu berperan penting dalam upaya mengungkap bagaimana sel manusia beradaptasi terhadap perubahan tingkat oksigen di dalam tubuh. Kajian mereka membuka cakrawala baru dalam upaya melawan anemia, kanker, dan banyak penyakit lain.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa makhluk hidup membutuhkan oksigen untuk hidup. Namun yang tak diketahui sebelumnya adalah bagaimana sel tubuh bekerja dan bereaksi terhadap perbedaan level oksigen.
Melalui rangkaian penelitian yang berlangsung sekitar empat dekade, ketiga ilmuwan ini menemukan bahwa peningkatan hormon erythropoietin EPO (hormon yang berfungsi meningkatkan regenerasi sel darah merah) merespon turunnya kadar oksigen dipicu oleh kelompok protein bernama hypoxia-inducible factor (HIF).
Dengan pengetahuan bahwa HIF sebagai protein yang berpengaruh terhadap produksi EPO, penyakit yang berhubungan dengan darah bisa disembuhkan secara lebih efektif. Untuk penyakit anemia misalnya, strategi pengobatan bisa dilakukan dengan mencegah degradasi HIF sehingga hormon EPO bisa terus diproduksi. Dengan demikian, sel darah merah dapat terus diproduksi dan anemia dapat dihindari.

Dalam kaitan dengan penyakit kanker, mereka berhasil mengidentifikasi gen yang memainkan peran kunci dalam bagaimana sel-sel kanker merespons kadar oksigen yang rendah. Sebagaimana diketahui, kanker memakai alat pengatur oksigen tubuh untuk membajak pembentukan pembuluh darah dan memungkinkan sel kanker ini menyebar
Melalui kajian ini kita bisa mengetahui cara menghidupkan dan mematikan gen yang bisa meningkatkan atau menurunkan kadar oksigen. Dengan demikian, kita bisa membunuh sel kanker.
Komite Nobel menyebut, beberapa percobaan sedang dilakukan dalam pengembangan obat untuk mengganggu proses ini, yang berpotensi mengganggu pertumbuhan sel kanker, sehingga memberi harapan untuk melawan penyakit mematikan ini.
“Upaya intens yang sedang berlangsung di laboratorium akademik dan perusahaan farmasi sekarang difokuskan pada pengembangan obat yang dapat mengganggu berbagai penyakit dengan mengaktifkan, atau memblokir, mesin pengindera oksigen,” sebut Komite Nobel.
Selain kanker, masih ada penyakit seperti stroke dan serangan jantung yang penyembuhannya dapat dibantu melalui adanya penemuan ini. Belum lagi proses fisiologi yang melibatkan darah juga akan mendapat bantuan seperti kartilago dan penyembuhan luka.
Dengan keberhasilan tersebut, ketiga ilmuwan itu berhak atas uang sejumlah 9 juta kronor atau sekitar Rp 12 miliar untuk dibagi bersama. (*)
Baca juga: Kata Anggota DPD RI ini Soal Klinik King Care yang akan Rekrut Nakes ke Jepang

