Kota Kupang, medikastar.id
Meski hanya menempuh pendidikan hingga kelas 4 Sekolah Dasar, Daniel Aluman (54) berhasil menjadi petani sukses di Kota Kupang. Kegigihan, kemauan untuk belajar, dan kemampuan membaca peluang pasar menjadi kunci keberhasilannya.
Di teras rumahnya di Kelurahan Fatukoa, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang, Jumat (21/2/2020) Om Dan – sapaan akrab Daniel Aluman – mengisahkan perjuangannya menjadi salah satu petani sukses.
“Bulan-bulan begini, kalau kita menanam cabai atau tomat memang rawan. Tidak semua orang punya kemampuan untuk bisa urus itu dan bisa berhasil. Tantangan itu yang coba saya taklukan, karena saya memang suka coba yang sukar-sukar,” demikian Om Dan membuka pembicaraan ketika kami kembali dari kebunnya yang dipenuhi tomat dan cabai yang sebentar lagi akan dipanen.
Menanam cabe dan tomat dengan waktu tanam pada musim hujan memang memiliki tantangan yang tidak bisa dianggap remeh. Hama dan penyakit kerap menghantam tanaman tersebut sehingga memperbesar potensi gagal panen. “Bisa saja daunnya banyak tapi bunganya nanti sedikit, istilahnya penyakit rontok atau gugur,” ujar Om Dan.
Dan banyak petani yang tidak mau mengambil risiko ini. Para petani, lanjutnya, lebih nyaman menanam padi ketimbang tomat atau cabai. Karena itu, pasar kekurangan stok tomat dan cabai.

“Kalau kita ke pasar musim hujan begini, yang ada di sana itu tomat dari Bali, cabe dari Jawa. Kalau mereka di sana bisa hasilkan produk itu di musim hujan begini, kenapa kita tidak?” tukas Om Dan, kemudian menyeruput kopi hitam yang disajikan sang istri Welmince Aluman.
Itulah alasan yang menggerakan Om Dan untuk menanam tanaman tomat dan cabai di musim hujan. Yang harus diperhatikan, menurut dia, adalah struktur lahan, bibit yang akan digunakan, cara menanam, dan perawatannya.
Bila petani mampu menerapkan standar penanaman dan pemeliharaan yang baik maka peluang keberhasilan akan meningkat. “Kalau seandainya bulan begini kita bisa lihat tomat dan cabe model seperti ini (buah segar dan melimpah) memang itu bagi saya karena ada rasa mencintai tanaman tersebut,” katanya mantap.
Keuntungan yang diperoleh Om Dan dari usaha budidaya tomat dan cabai di musim hujan adalah harga yang relatif lebih tinggi dari biasanya. Inilah yang disebutnya sebagai kecerdasan membaca peluang pasar.
Ayah tiga orang anak ini beruntung karena mendapat pendampingan yang cukup intens dari Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) NTT. Bersama kelompok tani yang diketuainya, kelompok tani Neotnana, sejak 2014 lalu, mereka didampingi oleh BI KPw NTT dari hulu sampai hilir.

Pendampingan itu tidak saja terkait pengadaan bebeberapa alat bantu, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan, aspek produksi dan produktivitas, kemudahan mengakses modal ke bank dan membantu menghubungkan mereka dengan pasar.
Pendampingan oleh Bank Indonesia merupakan upaya pencapaian tugas BI dalam menjaga stabilitas moneter melalui pengendalian inflasi dari sisi suplai.
“Dari hasil studi banding yang difasilitasi Bank Indonesia ke beberapa lokasi di Jawa dan Sumbawa (NTB), saya belajar tentang pertanian terintegrasi. Usaha pertanian dipadukan dengan usaha peternakan. Itu yang kemudian saya coba di sini dan berhasil,” kenang Om Dan.
Model pertanian yang terintegrasi peternakan itu tidak saja menambah keuntungan secara ekonomis karena adanya penambahan jumlah jenis produk tetapi juga membawa dampak bagi kesehatan dan keberlanjutan ekosistem.
“Limbah hortikultura misalnya, tidak dibuang begitu saja tetapi menjadi pakan ternak dan diolah menjadi pupuk kompos. Tanaman saya tida butuh pupuk kimia lagi. Selain produksinya meningkat tetapi produk horti dan ternak yang dihasilkan juga terjamin dari sisi kesehatan, serta tidak merusak tanah,” ujar Om Dan.

“Kalau dulu sebelum didampingi BI, sapi itu dilepas begitu saja. Jerami itu dibakar saja setelah panen padi. Ketika studi banding di Lamongan, saya lihat jerami padi itu dipakai sebagai pakan sapi. Ilmu itu yang saya terapkan di sini. Harus saya akui, BI membawa perubahaan yang sangat besar terhadap pola pertanian dan peternakan saya,” sambung ayah tiga orang anak ini.
Saat ini, ada sekitar 15 ribu sampai 16 ribu pohon cabai di atas lahan sekitar satu hektar yang siap dipanen. Begitu juga dengan tanaman tomat. Di sisi lahan yang lain, ia menanam beberapa jenis tanaman lain seperti bawang, sayur manis, ketimun, jagung manis, dan melon.
Di kandang sapi yang terletak di tengah-tengah areal yang ditanami tomat, puluhan ekor sapi sedang menikmati pakan jenis lamtoro teramba. Ia mengatakan, saat ini rata-rata ia menjual sekitar 60-an ekor sapi per tahun. Om Dan tak lagi kesulitan mencari pakan untuk sapi-sapinya karena sekitar 6 hektar lahannya sudah dipenuhi tanaman lamtoro teramba.
“Ini juga berkat dampingan dari BI yang membawa kami studi banding ke beberapa lokasi yang peternakannya sudah maju,” pungkas Om Dan.
Menjadi petani saat ini adalah pekerjaan yang menjanjikan. Apalagi pertanian yang terintegrasi dengan peternakan. Om Dan adalah bukti nyatanya. (ens)
Baca juga: Ajang Puteri Indonesia 2020 Usung Tema ‘Colorful East Nusa Tenggara’

