Kota Kupang, medikastar.id
Persatuan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Cabang NTT berkomitmen mendorong Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang untuk membuka Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di kampus tersebut. Komitmen ini merupakan salah satu point yang dihasilkan dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) PAPDI NTT yang digelar di Hotel Aston Kupang, Sabtu (22/02/20).
“Salah satu hasil dari Rakerda kemarin ialah bahwa karena keterbatasan tenaga Spesialis Penyakit Dalam di NTT dan sulitnya anak-anak NTT untuk lolos dan diterima dalam pendidikan dokter spesialis penyakit dalam, maka kami dari PAPDI NTT akan mendorong agar Universitas Nusa Cendana segera membuka pendidikan dokter spesialis penyakit dalam. Kami akan siapkan resourcesnya, yakni dokter spesialis penyakit dalam khususnya konsultan,” kata ketua PAPDI NTT, dr. Heri Sutrisno Prijopranoto, SpPD, K-HOM, FINASIM usai pelantikan pengurus PAPDI NTT periode 2018-2021 di Hotel Aston, Minggu (23/02/20).
dr. Heri menjelaskan bahwa ada beberapa syarat yang perlu dilengkapi dalam kaitannya dengan pembukaan pendidikan dokter spesialis penyakit dalam tersebut. Salah satu syaratnya ialah bahwa dari dokter spesialis penyakit dalam harus minimal memiliki 5 konsultan.
“Saat ini kami di NTT sudah ada 1 orang konsultan. Dalam tahun ini 3 orang akan kembali ke NTT karena telah menyelesaikan pendidikannya dan ada rencana 2 orang lagi yang akan berangkat untuk pendidikan. Sehingga kelihatan bahwa dari segi tenaga kami bisa memenuhi persyaratan yang ada,” katanya.
Selain tenaga dokter spesialis penyakit dalam, syarat lainnya ialah bahwa Fakultas Kedokteran (FK) di mana akan dibuka pendidikan dokter spesialis harus terakreditasi A. dr. Heri mengatakan bahwa saat ini FK Undana terakreditasi B, namun ini tentunya bisa diperjuangkan untuk ditingkatkan seiring dengan semakin banyaknya lulusan yang ada, sumber daya manusia dan juga fasilitas yang ada.
“Kemudian syarat berikutnya ialah sarana dan pra sarana. Kita lihat bahwa sarana dan pra sarana sekarang sudah semakin membaik. Demikian juga dengan rumah sakit yang ada, sarana-sarana yang diperlukan sudah sangat memadai. Jadi saya pikir syarat ini juga bisa kita penuhi,” ungkapnya.
“Kalau tiga komponen utama ini sudah bisa dilengkapi maka tentunya kita bisa memiliki pendidikan dokter spesialis penyakit dalam di sini,” lanjut dr. Heri.
dr. Heri menambahkan bahwa selain beberapa syarat lainnya, hal lainnya yang dapat dilakukan ialah bahwa jika di awal pembukaannya pendidikan spesialis penyakit dalam ini belum bisa berdiri sendiri, maka pihaknya akan berupaya untuk mencari ‘bapa angkat’ atau universitas pengampuh.
“Kalau ini mungkin kita bisa bekerja sama dengan Udayana Bali atau juga universitas Brawijaya Malang. Kita akan melakukan pendekatan dan jika mereka berkenan maka mungkin kita bisa mulai merekrut anak-anak NTT untuk mulai pendidikan. Mungkin di masa awal anak-anak kita mengikuti pendidikan di sini dan setelah itu untuk finishing anak-anak kita kembali ke universitas pengampuh. Tidak apa-apa seperti ini sampai dinilai kapan kita bisa berdiri sendiri maka tentunya kita akan berdiri sendiri,” tuturnya.
dr. Heri mengatakan bahwa upaya untuk mendorong Undana membuka pendidikan dokter spesialis ini merupakan salah satu hal strategis yang dihasilkan dari Rakerda PAPDI NTT. Hal tersebut, menurutnya, merupakan salah satu bentuk perhatian dan kontribusi yang dapat diberikan oleh PAPDI NTT bagi pemerintah dan masyarakat NTT.
Terkait hal ini, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dr.drg. Dominikus Mere, M.Kes dalam sambutannya saat pelantikan pengurus PAPDI NTT mengatakan bahwa pihaknya mendukung inisiatif PAPDI NTT tersebut.
“Kita sadari betul bahwa tidak semua sarana kesehatan di NTT terisi dengan dokter spesialis penyakit dalam. Oleh karena itu salah satu hal yang kita inginkan ialah agar di Universitas Nusa Cendana, kalau memungkinkan maka segera membuka pendidikan dokter spesialis penyakit dalam,” katanya.
Dr. Dominikus menegaskan bahwa untuk hal ini pihaknya akan siap berkolaborasi, tidak hanya dari aspek ‘omong-omong’, tetapi kalau memang pembukaan pendidikan spesialis ini membutuhkan dukungan dari aspek pendanaan, maka pihaknya berencana untuk membicarakannya agar dapat dimasukan di penganggaran di tahun 2021.
“Saya pikir ini merupakan inisiatif yang bagus sekali dari ketua PAPDI cabang NTT. Berkali-kali beliau membicarakan hal ini dalam berbagai kesempatan,” tuturnya.
Inisiatif PAPDI NTT ini juga didukung oleh Ketua Umum Pengurus Besar PAPDI, dr. Sally Aman Nasution, SpPD, K-KV, FINASIM, FACP.
“Kami memang ingin agar pusat-pusat pendidikan itu bertambah di seluruh Indonesia, termasuk salah satunya yakni di Undana. Tentu saja dalam prosesnya kami mengikuti kriteria dan persyaratan yang ada dan memang itu semua harus dipersiapkan sejak sekarang,” katanya kepada media ini.
dr. Sally mengungkapkan bahwa inti dari inisiatif untuk mendorong Undana membuka pendidikan spesialis tersebut ialah bahwa pihaknya berharap banyak agar distribusi dokter spesialis penyakit dalam dapat merata di seluruh daerah di NTT.
“Kalau Undana sudah bisa menghasilkan tenaga spesialis penyakit dalam maka tentunya NTT tidak akan lagi kesulitan tenaga spesialisnya,” tutup dr. Sally. (*/red)

