medikastar.id – Hari Nelayan Nasional diperingati setiap tanggal 6 April. Perayaan ini diawali oleh sebuah tradisi di pantai pelabuhan ratu. Tradisi tersebut bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas kesejahteraan yang diterima oleh nelayan. Indonesia memiliki kekayaan laut yang luas dan diharapkan sektor kelautan terus berkembang, serta membuat para nelayan makin sejahtera.
Nelayan adalah pekerjaan yang selalu bersentuhan dengan laut, ikan, dan hasil tangkapan lainnya. Dalam menjalankan pekerjaannya, nelayan juga memiliki risiko sangat tinggi terkena penyakit. Salah satu penyakit yang dapat dialami oleh nelayan adalah Fish-Handler’s Disease.
Penyebab
Fish-handler’s disease disebabkan oleh luka atau goresan yang terinfeksi dengan bakteri Erysipelotrhix rhusiopathiae. Penyakit ini juga dapat disebabkan oleh bakteri Mycobacterium ssp., terutama spesies marinum dan fortuitum.
Goresan dan luka sering terjadi ketika nelayan menyiapkan atau membawa ikan, kerang, lobster, dan lain sebagainya. Penyakit ini bisa terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di seluruh dunia, penyakit ini dikaitkan dengan banyak organisme yang mendiami air asin, air tawar, atau air payau.
Tanda dan Gejala
Ketika seseorang terkena fish-handler disease akibat infeksi bakteri Erysipelotrhix rhusiopathiae, ia akan menunjukkan beberapa tanda dan gejala. Penyakit ini biasanya akan muncul pada waktu dua hingga tujuh hari setelah adanya luka pada kulit dan infeksi bakteri. Sekitar area luka akan muncul lebam melingkar berwarna merah dan ungu. Terkandang lebam tersebut disertai lepuhan.
Area luka atau cidera kemudian akan membesar ½ inci setiap hari. Selanjutnya, akan terjadi kekakuan persendian dan pembengkakan kelenjar getah bening. Rasa sakit, terbakar, gatal, dan bengkak juga akan terjadi pada lokasi infeksi. Pada beberapa kasus, penyakit ini akan berkembang menjadi sepsis atau infeksi aliran darah dan endocarditis atau infeksi katup jantung.
Terdapat beberapa gejala juga yang akan muncul akibat infeksi Mycobacterium. Penyakit ini akan muncul dan berkembang sekitar dua hingga empat minggu setelah terjadinya luka. Beberapa kasus juga melaporkan kemunculan penyakit setelah sembilan bulan paparan.
Lesi kulit akan muncul sebagai nodul, abses, atau bisul dengan perubahan warna kulit. Lesi tersebut akan berkembang secara perlahan selama berbulan-bulan. Nyeri sendi, pembengkakan kelenjar getah bening, dan tendonitis juga dapat terjadi. Pada beberapa kasus, penyakit ini akan berkembang menjadi sepsis atau infeksi aliran darah.
Penanganan dan Pencegahan
Ketika mengalami penyakit tersebut, seseorang perlu mendapatkan pertolongan yang cepat. Tujuannya agar penyakit tidak bertambah parah atau menimbulkan korban jiwa.
Ketika mendapatkan luka saat membersihkan ikan atau kegiatan akuatik lainnya, bersihkanlah luka dengan air keran segar secepatnya. Luka yang ada juga harus digosok secara lembut dengan menggunakan air dan sabun untuk mengeluarkan kotoran atau benda asing. Luka yang telah dibersihkan tersebut juga perlu diolesi salep antibiotik seperti bacitracin sebanyak tiga sampai empat kali sehari.
Sebaiknya, saat muncul lesi pada kulit setelah memegang ikan atau hewan akuatik lainnya, segeralah cari perawatan medis. Hal ini juga berlaku pada lesi yang muncul setelah berenang, berperahu, dan membersihkan aquarium. Munculnya lesi juga akan diikuti oleh daya tahan tubuh yang melemah. Saat memeriksakan diri ke dokter, orang yang mengalami penyakit ini akan mendapatkan antibiotik dan obat yang tepat.
Selain fish-handler’s disease, masih banyak penyakit yang dapat dialami oleh nelayan. Bahkan, seorang nelayan juga berisiko mengalami kematian jika tidak bekerja secara aman.
Untuk mencegah hal tersebut, nelayan perlu menggunakan alat pelindung diri (APD) yang baik saat melakukan pekerjaannya. Pacific Community merekomendasikan beberapa APD yang diperlukan oleh nelayan. APD tersebut diantaranya jaket pelampung, senter atau lampu, GPS, dan kotak P3K. Selain itu, sarung tangan dan sepatu bot juga diperlukan untuk mengelola ikan dan hasil tangkapan yang didapat dari laut.
Food and Agriculture Organization of The United Nations (FAO) mengungkapkan bahwa nelayan adalah salah satu pekerjaan yang paling berbahaya di dunia. Setiap tahun, lebih dari 32.000 nelayan meninggal akibat penyakit atau kecelakaan.
Oleh karena itu, semoga kesejahteraan dan keselamatan nelayan bisa terus meningkat. Kesejahteraan dan keselamatan nelayan akan mendukung perkembangan ekonomi bangsa, khususnya di sector kelautan. Selamat Hari Nelayan Nasional 2020, Healthies! (har)

Baca juga: Ini Tata Cara PSBB yang Diatur dalam Permenkes Nomor 9

