Kota Kupang, medikastar.id
Pada tahun 2018, Kementrian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi kembali menggelar lomba desa terbaik. Lomba tersebut berjenjang dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga tingkat Nasional. Lomba desa terbaik pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa tingkat provinsi NTT digerakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) Provinsi NTT.
Terdapat 4 kategori desa terbaik dalam perlombaan tersebut. Kategori I: penguatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Kategori II: Pelaksanaan Prioritas Penggunaan Dana Desa dan Padat Karya Tunai. Kategori III: Prakarsa dan Inovatif. Kategori IV: Pelayanan Informasi dan Transparansi Publik.
Setelah melakukan verifikasi dokumen, jumat (14/09/18) yang lalu, Dinas PMD NTT mengumumkan 12 desa terbaik dari 4 kategori tersebut.
Kategori I diraih oleh Desa Bloro, Kecamatan Nita (Sikka); Desa Lutharato, Kecamatan Lamaknen Selatan (Belu); dan Desa Motadik, Kecamatan Biboki Anleu (TTU). Kategori II diraih oleh Desa Aitoun, Kecamatan Raihat (Belu); Desa Bloro Kecamatan Nita (Sikka); dan Desa Bantala Kecamatan Ile Bura (Flotim).
Kategori III diraih oleh Desa Tulakadi Kecamatan Tasifeto Timur (Belu); Desa Watugong Kecamatan Alok Timur (Sikka); dan Desa Birawan, kecamatan Ile Bura (Flotim). Kategori IV diraih oleh Desa Bloro, Kecamatan Nita (Sikka); Desa Duarato, Kecamatan Lamaknen (Belu); dan desa Loeram, Kecamatan Insana (TTU).
Dari desa yang ada, akan dipilih satu desa terbaik untuk setiap kategori yang akan mewakili provinsi NTT di tingkat nasional.

Sebagai upaya menemukan perwakilan NTT yang terbaik, Dinas PMD Provinsi NTT menggelar Focus Group Discusion (FGD). FGD tersebut digelar di Sylvia Hotel, Senin (18/9/2018).
Plt. kepala Dinas PMD NTT dalam sambutannya yang diwakili oleh Kabid PPD, Fransiskus Sape, SH mengungkapkan bahwa lomba pada tahun ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pembangunan di desa itu dilaksanakan. Ia juga mengatakan bahwa saat ini selain lomba desa terbaik, juga terdapat lomba tenaga pendamping profesional.
“Prestasi-prestasi yang ada di desa, baik sebagai kepala desa maupun sebagai pendamping desa perlu dilihat. Tujuannya untuk mengetahui sejauh mana pembangunan itu dilaksanakan,” ungkapnya.
Frans menginfromasikan bahwa saat ini perlombaan sudah masuk jenjang ketiga. Jenjang kecamatan dan Kabupaten telah dilewati dan pihaknya telah menerima 12 desa terbaik yang dikirim ke tingkat provinsi .
FGD hari ini menurutnya, sebagai lanjutan hasil penilaian terhadap seluruh dokumen. Nilai dokumen dan nilai hasil FGD diakumulasi kemudian yang mendapat rangking atau point tertinggi akan mewakili NTT di tingkat nasional.
Dalam FGD tersebut hadir 5 orang penilai. Penilai tersebut masing-masing Michel Bere Laka, S.Sos, Ahmad Buhari Umar,S.E.,M.Si, Sil Mariano, Kandidatus Angge, dan Frans Hiburani.
Disaksikan Medika Star, FGD berlangsung alot. Hingga berita ini diturunkan informasi desa yang akan mewakili provinsi NTT belum diumumkan. Dikabarkan berita tersebut akan disampaikan beberapa hari ke depan.
Terpisah, Kepala Desa Bloro, Soter Sani Nurak, salah satu dari 12 desa yang ada, lewat Medika Star mengungkapkan rasa terima kasih kepada Kementrian PDTT dan Dinas PMD yang telah menggelar perlombaan ini.
Baginya, ini ajang untuk mengevaluasi diri sejauh mana desa-desa di NTT melangkah. Ia yakin bahwa dari 12 desa yang ada, masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, kepada seluruh lapisan masyarakat, seluruh desa di NTT untuk berkenan memberi masukan. Ini juga diharapkan menjadi pembelajaran agar semua desa di NTT bisa maju dan berkembang sebagaimana desa-desa di daerah lainnya yang berkembang dan maju.(DM)
Baca Juga : Akbid St. Elisabeth Kefamenanu Berkarya “Lahirkan” Bidan-Bidan Berkualitas

