Maria dan Ragil, Milenial Kota Kupang yang Menjejaki Bisnis Kelor

bisnis kelor

Kota Kupang, medikastar.id

Tangan perempuan muda itu begitu cekatan. Diraihnya sebuah kemasan berisi kelor dan jahe yang sudah dicampur. Ia akan membuat Haydrink, minuman berbahan dasar kelor. Haydrink yang akan dibuatnya adalah varian rasa moringa ginger.

Namanya Maria Bataona. Dia adalah mahasiswa Farmasi, Poltekkes Kemenkes Kupang. Maria adalah salah satu pengusaha muda yang memfokuskan diri untuk mengembangkan minuman berbahan dasar kelor.

Meski bisnis itu baru dimulai, Jumat, 24 September 2021, namun Maria optimis bisnis itu bisa berkembang pesat. Maria akan wisuda pada bulan Oktober tahun ini dan ia sudah bertekad untuk tetap berfokus pada bisnis Haydrink.

Keyakinan untuk mengembangkan bisnis Haydrink itu tumbuh melihat potensi besar kelor NTT. Maria menuturkan, berdasarkan hasil penelitian, kelor NTT merupakan kelor terbaik nomor dua setelah kelor dari Kepulauan Canary di Spanyol.

Ditambah banyaknya petani NTT yang menanam kelor, Maria yakin stok kelor akan selalu ada. Daun kelor mengandung semua unsur asam amino essensial yang sangat penting, yakni unsur argine, histidine, isoleucine, leusine, lysine, methionine, phenylalinine, threonine, tryptophan, dan valine.

Selain itu, daun kelor juga mengandung protein, lemak, beta carotene (vitamin A), thiamin (vitamin B1), riboflavin (B2), niacin (B3), vitamin C, kalsium, karbohidrat, tembaga, serat, zat besi, magnesium, dan fosfor.

Kandungan tersebut, kata Maria, menjadikan Haydrink sebagai minuman sehat bagi masyarakat NTT. Minum berbahan kelor dengan berbagai varian rasa itu diyakini mampu mengatasi stunting pada anak.

“Saya lebih tertarik pada bisnis, karena itu saya akan tetap menekuni bisnis ini setelah wisuda nanti,” kata Maria.

Awalnya, Maria bersama rekannya mendapatkan informasi dari kampus. Mereka lalu mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi. Mereka kemudian dinyatakan berhak untuk turut dalam usaha yang digagas oleh Dekranasda NTT yang dipimpin oleh Julie Sutrisno Laiskodat.

“Pelatihan dilakukan selama 3 kali pertemuan. Karena pengelolaannya tidak terlalu rumit,” kata Maria saat ditemui di boothnya.

Pelatihan itu diberikan oleh dapur kelor NTT. Maria menuturkan, pihaknya sangat beruntung karena Dekranasda NTT membantu mereka dengan modal usaha. Ia menilai, Dekranasda NTT benar-benar memberdayakan kaum milenial untuk menjadi enterpreneur.

Selama dua tahun ke depan, Dekranasda NTT bersama Dapur Kelor NTT akan mendampingi para pengusaha muda. Hal tersebut untuk tetap menjaga agar para pengusaha muda itu terus berkembang.

“Setelah dua tahun kita akan dilepas dan diberikan kesempatan untuk mengembangkan bisnis sendiri. Jadi kita bisa membuka usaha yang lebih besar lagi,” ujar Maria.

Untuk bisa mendapatkan pelanggan, Maria dan rekannya memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan usaha mereka. Platform seperti Instagram dan WhatsApp menjadi saluran promosi yang digunakan. 

Wanita berparas ayu yang kini berusia 21 tahun itu sudah terbiasa berbisnis. Walau bisnis yang ditekuni bukan bisnis berkelas, namun setidaknya Maria sudah merasakan pahit dan manisnya berhadapan dengan pelanggan.

Sebelumnya, anak kedua dari empat bersaudara itu berbisnis kosmetik. Dia adalah manager 15 % pada Oriflame. Karena terbiasa dengan bisnis kecil-kecilan, Maria bertekad untuk mengembangkan gerai Haydrink miliknya.

Maria tidak sendiri. Maria dibantu seorang rekannya dalam mengembangkan minuman sehat berbahan kelor itu. Rekan Maria bernama Ragil Saubaki.

Ragil juga merupakan seorang mahasiswa jurusan Farmasi Poltekes Kemenkes Kupang. Ragil bersama Maria membagi shift dalam menjalankan usaha mereka. Hal tersebut dilakukan agar waktu kuliah Ragil tidak terganggu.

“Untuk saat ini tidak mengganggu kuliah, karena saya sudah semester akhir. Dan kerjanya pun bagi shift,” kata Ragil yang kini sudah semester 6.

Usia Ragil 2 tahun lebih diatas usia Maria. Sebelum memilih untun melanjutkan kuliah, Ragil sempat bekerja selama 3 tahun pada sebuah perusahaan di Kota Kupang. Uang hasil jerih lelahnya itu kemudian dipakai sebagai biaya untuk menempuh studi di Perguruan Tinggi.

“Uang kerja selama 3 tahun itu saya tabung dan saya biaya kuliah sendiri,” ujar pria 23 tahun itu.

Bagi Ragil, berbisnis diusia muda adalah sebuah peluang sekaligus tantangan. Ragil lebih memilih bekerja keras di usia muda, sebab baginya, merdeka finansial adalah sebuah keharusan.

Dirinya pernah mengalami hidup susah, karena itu Ragil bertekad mengubah nasib hidup keluarganya. Sebagai anak permata dari tiga bersaudara, keseriusan mengubah nasib hidupnya diwujudkan lewat kerja kerasnya.

“Keluarga dulu pernah susah makanya saya harus keluar dari zona nyaman saya dan membuat segala sesuatu yang bisa membantu saya keluar dari tekanan finansial,” kata Ragil.

Meski saat ini daya beli masyarakat menurun, mereka tetap yakin bahwa usaha Haydrink itu akan mendapatkan tempat tersendiri di hati masyarakat. Sehingga usaha itu pun bisa terus berkembang.

Hal itu didukungan dengan berbagai varian rasa Haydrink, yakni Moringa Moccacino, Moringa Sweet Oreo, Moringa Ginger, Moringa Hazelnut dan Moringa Taro. Ada juga varian rasa Moringa Strawberry, Moringa Redvelvet, Moringa Capuccino, Moringa Tiramisu dan Moringa Sweet Ori.

Optimisme sebagai pengusaha muda ditunjukkan oleh Maria dan Ragil. Mereka terus mempromosikan dagangannya dan terbukti pada hari pertama, 22 cup Haydrink.

“Haydrink tidak hanya enak tapi juga bergizi. Karena itu kita yakin Haydrink akan laku di pasaran,” tutup Maria. (joe/*)

Baca juga: Haydrink, Minuman Sehat Berbahan Kelor di NTT, Kini Bisa Pesan Online