Kepala Desa se-Kecamatan Adonara Barat Bicara Soal Stunting

Larantuka, medikastar.id

Stunting menjadi sebuah topik hangat dalam acara pertemuan Lintas Sektor (Linsek) Triwulan II tahun 2018 yang bertempat di Puskesmas Waiwadan, Adonara Barat, Flores Timur (Flotim). Pertemuan Linsek triwulan II yang dilaksanakan oleh Tim Puskesmas Waiwadan ini berlangsung di ruang tengah Puskesmas tersebut.

Acara dihadiri oleh Camat Adonara Barat, Wilhelmus Wisok Mangu,SH; Dinkes Flotim yang diwakili oleh Kasie Yankes Keluarga dan Gizi Masyarakat, Fransiska Anjika Wain,SKM. Hadir pula Kepala Desa se-kecamatan Adonara Barat, Kepala UPTD lingkup Adonara Barat, dan Ketua Kader Posyandu se-kecamatan Adonara Barat. Koordinator PLKB kecamatan dan Tenaga Kesehatan baik yang ada di Puskesmas maupun Tenaga Kesehatan Kontrak Desa pun turut hadir.

Kepala Dinas Kesehatan Flotim yang diwakili oleh Kasie Yankes Keluarga dan Gizi Masyarakat dalam sambutannya menyampaikan bahwa permasalahan stunting menjadi permasalahan kesehatan dominan saat ini, baik di Flores Timur maupun Nasional.

Adonara Barat dalam hal ini Puskesmas Waiwadan menempati posisi pertama angka tertinggi Kasus Stunting di Flotim. Jumlah Capaian Triwulan I sebesar 64 %. Sehingga ini menjadi sebuah masalah besar yang perlu ditindaklanjuti dan dicermati secara mendalam.

Dalam arahannya, Is Wain yang membidangi masalah Gizi di Kabupaten Flotim tersebut secara teoritis menjelaskan konsep Stunting dan Pencegahannya. Menurutnya, dengan masalah yang ada, diharapkan Puskesmas harus terus melakukan sosialisasi tentang Stunting ke Masyarakat.

Terlepas dari itu, peran Linsek juga sangat diharapkan untuk mendukung Puskesmas dalam menurunkan angka Stunting di Kecamatan Adonara Barat.

“Masalah Stunting adalah masalah kita bersama, sehingga diharapkan peran dari kita semua. Baik Pemdes, maupun Linsek lainnya bekerja bersama-sama untuk menggempur masalah yang satu ini,” tuturnya.

Sementara itu, Camat Adonara Barat, Wilhelmus Wisok Mangu, SH yang membuka kegiatan secara resmi berkata, “Kegiatan Linsek seperti ini sangat bagus untuk kita dapat mengevaluasi kinerja yang telah dilaksanakan. Saya mendukung penuh setiap kegiatan yang telah dilaksanakan dan mari secara bersama-sama melihat segala upaya yang menjadi kelebihan dan kekurangan yang ada.”

Peran Lintas Sektor dari semua UPTD, lanjutnya, diharapkan dapat memacu masyarakat dalam kegiatan pembangunan Kesehatan.

“Optimalkan dana Desa lewat kegiatan Pemberdayaan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan kesehatan di desa,” tegas Wilhelmus.

Dalam kaitan dengan penanganan Stunting yang ada di Kecamatan Adonara Barat, dirinya mengajak Linsek berkolaborasi dengan system 8 Meja di Posyandu. Tujuannya untuk melihat peran masing-masing dalam menuntaskan masalah besar tersebut.

Usai acara pembukaan, Kepala Puskesmas Waiwadan, Nikolaus Narek Kopong memaparkan Kegiatan Program dan permasalahan dari sektor terkait oleh UPTD Puskesmas Waiwadan.

Dijelaskan bahwa dalam berbagai Program Pokok Puskesmas, masih banyak Program Pokok yang diangkat menjadi permasalahan krusial. Di antaranya; masih ada Desa siaga yang belum aktif, Desa BerSTBM yang masih kurang, Kehamilan Remaja, Kunjungan k1 Akses dan masalah Gizi kurang serta adanya Stunting.

Menurut Nikolaus, ada banyak hal yang sudah dibuat, namun masih ada kekurangan yang perlu dibahas bersama untuk meningkatkan derajat kesehatan Masyarakat. Di sisi lain, pihaknya mengharapkan dukungan bersama dalam mempersiapkan Puskesmas Waiwadan untuk proses Reakreditasi Puskesmas di tahun 2019.

Dirinya memaparkan pula bahwa ada keberhasilan yang telah dicapai. Di antaranya bahwa Puskesmas Waiwadan telah terakreditasi. Selain itu, pencapaian Kinerja Puskesmas 89,4 dalam kategori Baik, hasil Supervisi Pustu Polindes dengan nilai tertinggi yakni 89 dari Poskesdes Watobaya, 86 dari Poskesdes Tonuwoten, 83 dari Pustu Wureh. Hasil Survey Kepuasan Pelanggan menunjukan nilai 83, dalam kategori Baik. Selain itu, Puskesmas Waiwadan dalam tahun ini merupakan Puskesmas Berprestasi tingkat Kabupaten Flotim dan telah diusulkan ke Tingkat Provinsi NTT.

Baca juga : 5 Tahun Berkarya, Ini Catatan Positif Stikes St. Paulus Ruteng

Dialog Bersama Linsek

Dalam acara tersebut juga dilangsungkan sesi dialog yang dipandu langsung oleh Camat Adonara Barat. Peserta pertemuan sangat antusias dan lebih menyoroti masalah Stunting di Kecamatan tersebut.

Frans Paun, Pj Kepala Desa Bukit Seburi misalnya, angkat bicara mengenai bagaimana proses penanganan Stunting dan faktor yang mempengaruhinya. Selain Frans, Kader Desa Danibao, Densi juga ikut berbicara. Densi mengajak semua yang hadir untuk bersama-sama bekerja menurunkan angka Stunting.

Kades Kimakamak, Hendrikus Eko juga angkat suara. Dirinya bercerita tentang wilayahnya yang memiliki pengalaman dalam pengolahan sorgum. Berdasarkan pengalaman itu, ia mengharapkan agar perlu adanya pengolahan makanan lokal untuk membantu mengatasi masalah Gizi di wilayah Adonara Barat.

Is Wain pun mengapresiasi kepedulian Linsek yang hadir pada saat itu. “Mari kita menurunkan angka Stunting ini dengan berbagai kegiatan. Seperti Sosialisasi pentingnya 1000 HPK, pentingnya IMD dan ASI Ekslusif. Juga pelatihan PMBA bagi Kader, demo masak, PMT pada Balita dan peran dari lintas sektor terkait tentang system 8 meja diposyandu,” ujarnya.

Kepala Desa dan Puskesmas, lanjut Is Wain, hendaknya lewat dana yang ada bisa menganggarkan untuk membantu menurunkan angka Stunting di Adonara Barat.

Kepala Puskesmas Waiwadan, Nikolaus kemudian menambahkan bahwa hal yang perlu diteliti lagi soal masalah Stunting ialah aspek alat pengukuran. Dirinya menegaskan soal perlunya ketelitian dalam pengukuran Panjang badan/Tinggi badan.

“Kegiatan sosialisasi di momen apapun perlu dibicarakan, termasuk lewat Pastor paroki untuk mensosialisasikan masalah tersebut,” sambungnya.

Wilhelmus, camat Adonara Barat pun menegaskan bahwa UPTD terkait, berkaitan dengan system 8 meja Posyandu diharapkan menjadi penggerak utama sehingga informasi dari sektor terkait dapat tersalurkan lewat kegiatan Posyandu.

Dirinya secara tegas menyampaikan agar semua yang hadir berkomitmen dalam menggunakan dana desa yang ada demi menangani kasus Stunting di wilayahnya.

“Ke depannya kita bersekutu dalam tim yang solid lewat semua UPTD yang ada untuk bekerja secara bersama-sama, kerja cepat, tepat dan kerja cerdas,” lanjut Wilhelmus.

Dari berbagai diskusi yang ada pada kesempatan tersebut, tercapailah kesepakatan bersama bahwa peran Linsek sangat penting dalam penanganan kasus Stunting. Linsek diharapkan terus berkolaborasi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Adonara Barat.

“Kasus Stunting kita gempur bersama dengan terus melakukan sosialisasi. Peralatan Puskesmas yang masih kurang hendaknya dianggarkan, baik dari dana desa maupun Puskesmas. Kegiatan Teknis pelayanan dan kerja sama tim terus digalakan sehingga pada evaluasi triwulan III bulan Oktober 2018 di Desa Wureh nanti, ada evaluasi terhadap perbaikan kasus ini. Mari kita gampur Stunting di Adonara Barat,” demikian petikan komitmen Linsek tersebut. (Nikolaus)

Baca Juga : Kadis Kesehatan NTT: “Bahagia Kalau Semua Sudah Bagus Seperti Stikes Maranatha”