Gelar Seminar, PMKRI Angkat Tema: “Meneguhkan Kembali Semangat Kita Indonesia”

Kota Kupang, medikastar.id

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) menggelar Seminar Kebangsaan dengan tema, “Meneguhkan Kembali Semangat Kita Indonesia.”

Berlangsung di Aula Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Jumat (10/08/18), PMKRI menghadirkan beberapa pembicara penting. Para pembicara tersebut seperti Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolon dan Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi NTT, Drs. Abdul K. Makarim. Juga Rektor Unwira, Pater Dr. Philipus Tule, SVD; Thomson Silalahi, Sekjen PP PMKRI; Sekretaris Bidang Pengembangan Teologi Sinode GMIT, Pdt. Niko Lumba Kaana; juga Rm. Maxi Un Bria.

Seminar tersebut merupakan rangkaian road show kebangsaan di 15 kota di Indonesia yang dilaksanakan oleh PMKRI. Kota Kupang menjadi kota tujuan pertama.

Penjabat Gubernur NTT, Robert Simbolon pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa UUD 1945 sejatinya aktualisasi dari Pancasila. Sehingga semua nilai-nilai Pancasila harus menjadi pedoman dalam hidup berbangsa dan bernegara. Sebagai generasi muda, kaum milenial perlu juga menggelorakan semangat kesebangsaan.

Nusa Tenggara Timur saat ini, sambung Robert, masih bergumul dengan banyak persoalan. Mahasiswa harus menjadi pejuang-pejuang kemanusiaan.

“Menjadi tantangan bagi kita semua bagaimana kita mengakhiri gizi buruk di NTT dan Human Traficking yang menjadikan NTT sebagai sumber dari TKI ilegal. Saya harap PMKRI dapat membantu kami untuk suplai data, karena PMKRI lebih paham persoalan di level masyarakat,” ungkap Robert.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi NTT, Drs. Abdul K. Makarim dalam meterinya mengungkapkan bahwa Bangsa Indonesia memiliki banyak keragaman. Aneka suku, adat, budaya dan agama di Indonesia menjadikan Indonesia sebagai Bangsa yang Beragam.

“Keragaman bangsa kita ini tidak membuat perpecahan di antara kita. Malah mampu memperat dalam tali persatuan. Untuk itu, sebagai generasi muda zaman now agar selalu menggali sejarah bangsa, membangun nasionalisme dalam diri kita masing-masing, serta memupuk rasa persatuan dan kesatuan bangsa,” ajak Makarim.

Rektor Unwira Kupang Pater Dr. Philipus Tule, SVD mengatakan bahwa di usia Indonesia yang beranjak ke-75 tahun, Indonesia dihantui dengan virus radikalisme. Virus ini perlahan-lahan masuk ke Indonesia dengan tujuan untuk mengembalikan khilafah yang dulu ditolak oleh Soekarno.

“Untuk memerangi virus radikalisme ini, sejatinya ada dua senjata. Yakni senjata agama berupa pemahaman, penghayatan, pengamalan akan agama yang dianutnya secara benar. Juga senjata kebudayaan, yakni rumah adat yang merupakan tempat berhimpunannya nenek moyang kita sebelum agama masuk ke Indonesia,” tuturnya.

Bagi kaum muda, sambung Dr. Philipus, untuk menghadapi radikalisme, perlu adanya upaya-upaya preventif (pencegahan), upaya persuasive (penyadaran) dan upaya represif (penekanan).

Baca juga : Kadis Kesehatan NTT: “Bahagia Kalau Semua Sudah Bagus Seperti Stikes Maranatha”

Sementara itu, Thomson Silalahi, Sekjen PP PMKRI dalam paparan materinya mengatakan bahwa latar belakang akan lahirnya Indonesia yakni sosiokultural, yakni warisan perjuangan kekayaan beragam identitas, sumpah pemuda dan pancasila. Indonesia hari ini mengalami problem identitas, Infiltrasi Ideologi dan Digitalisasi.

Thomson mengatakan bahwa untuk membingkai masa depan, kita perlu adanya koreksi timbal balik, adanya reduksi dan ekspansi. Juga mencoba untuk melihat dari mata pihak lain dan melihat kebenaran sebagai sesuatu yang terus bergerak maju.

Sekretaris Bidang Pengembangan Teologi SInode GMIT, Pdt. Niko Lumba Kaana juga menjelaskan bahwa dalam konteks kegelisahan Indonesia hari ini, ada pihak yang ingin bereksperimen secara ekstrim. Ada yang ingin mengganti dasar Negara yakni Pancasila dengan ideologi lainnya.

Pdt. Niko pun mengucapkan terima kasih kepada PMKRI atas tekad baik menjadikan seruan KITA INDONESIA sebagai serum perdamaian yang menyatukan seluruh anak bangsa untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik lagi.

“Kiranya dengan seruan ini, kita semua sudah bisa berdoa dan bekerja bersama sebagai rakyat Indonesia. Jangan biarkan batas-batas primodialisme memisahkan kita dan membuat kita saling curiga terus-menerus. Keunikan kita adalah bahwa dalam keberagaman kita dapat berdialog dan bekerja sama, bahu-membahu untuk memperjuangkan keadilan, melawan kekuasaan yang eksploitatif, memperjuangkan Indonesia Raya,” tutur Niko.

Lebih jauh, Rm. Maxi Un Bria dalam paparan materinya mengatakan bahwa sebagai generasi muda, mahasiswa atau kaum muda memiliki tanggungjawab untuk merawat kembali dan mampu memberikan kontribusi positif bagi NKRI.

“Kita harus akui dan ingat bahwa perbedaan yang diberikan oleh Tuhan adalah sebuah anugerah yang besar,” tegasnya.

Kegiatan seminar kebangsaan ini diikuti oleh seluruh elemen, baik masyarakat umum, mahasiswa maupun pelajar, serta pimpinan organisasi kemasyarakatan. Kegiatan seminar kebangsaan ini mampu menarik simpati dan antusias dari sejumlah elemen masyarakat, khususnya kaum milenial sehingga peserta yang hadir dalam kegiatan ini mencapai angka 700-an orang.

Tentang #Kita_Indonesia

‘Kita Indonesia’ merupakan tema besar yang diangkat oleh PMKRI sebagai tagline moral politik pembinaan-perjuangannya. #Kita_Indonesia sebagai seruan moral sekaligus gerakan politik untuk menjahit kembali tenun kebangsaan yang terkoyak oleh arogansi identitas keakuan, kekamian, keagamaan, dan kesukuan.

#Kita_Indonesia juga sebagai sebuah gerakan yang tidak hanya menghendaki persatuan Indonesia, namun menentang gerakan-gerakan yang mengoyak tenun kebangsaan kita. Oleh karena itu, PMKRI secara konsisten menggaungkan gerakan #Kita_Indonesia di 15 Kota di Indonesia.

Tujuannya agar gerakan tersebut menjadi ‘serum’ perdamaian yang mempersatukan seluruh anak bangsa demi memajukan Indonesia lebih baik lagi.(SiskoMaking/SomanLabaona/Red)

Baca Juga : Kepala Desa se-Kecamatan Adonara Barat Bicara Soal Stunting