Kota Kupang, Medika Star.com
Puncak perayaan HUT IDI (Ikatan Dokter Indonesia) di Kota Kupang dirayakan dengan sangat menarik. Di Aula RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang, dilangsungkan acara Symposium and Hand on Workshop “Hernia Update” dengan topik “Open and Laparoscopic Inguinal and Incisional Hernia Repair.” Selain itu juga dilaksanakan Hands on Workshop “Stapled Hemorrhoidopexy.”
Kegiatan ini dihadiri oleh para dokter spesialis bedah dari beberapa provinsi di Indonesia. Tidak hanya itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh para dokter ahli bedah dari luar negeri. Berlangsung meriah, kegiatan ini dimotori oleh IDI (Ikatan Dokter Indonesia), Kolegium Ilmu Bedah Indonesia, PABI (Persatuan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia), PERHERI (Perhimpunan Hernia Indonesia), dan juga Indonesian Society of Coloproctology (PERKOPRI).
dr. Errawan Wiradisuria, SpB-KBD, Ketua Perhimpunan Bedah Endo-Laparoskopik Indonesia dalam sambutannya mengatakan bahwa para dokter hendaknya tidak gengsi untuk mencari ilmu, karena ilmu akan terus berkembang.
Ia kemudian menjelaskan bahwa Laparoskopi atau operasi lubang kunci adalah prosedur bedah minimal invasif yang dilakukan dengan membuat sayatan kecil di dinding perut. Laparoskopi dilakukan dengan bantuan alat berbentuk tabung tipis bernama laparoskop. Alat ini dilengkapi dengan kamera dan cahaya di ujungnya.
Prosedur Laparoskopi dilakukan untuk keperluan diagnosis atau pengobatan. Melalui metode ini, dokter akan mampu melihat sejumlah kelainan, seperti infeksi, kista, fibroid, dan perlengketan, di dalam organ perut atau panggul. Selain itu, prosedur ini juga bisa diterapkan untuk keperluan pengambilan sampel jaringan dalam pemeriksaan biopsi.
Laparoskopi tidak dianjurkan jika pasien menderita kanker atau hernia di bagian perut, atau pernah menjalani operasi di bagian tersebut, karena sangat berisiko. Pasien wajib mengikuti instruksi yang diberikan dokter mengenai kapan harus melakukan puasa sebelum tindakan Laparoskopi, serta jadwal konsumsi obat-obatan.
Bedah Laparoskopi diawali dengan membuat sayatan kecil (sekitar 5-10 mm) di dinding perut sebagai jalan masuk laparoskop. Dokter bisa membuat lebih dari satu sayatan untuk memasukkan alat lain ke dalam perut. Prosedur ini umumnya berlangsung selama 30-90 menit, tergantung pada kondisi pasien.

Setelah sayatan dibuat, dokter akan memasukkan gas ke dalam perut dengan bantuan alat medis semacam jarum yang memiliki rongga di tengahnya. Gas ini digunakan untuk memompa agar dinding perut terangkat dan menjauhi organ-organ di dalamnya, sehingga dokter bisa melihat isi perut dengan jelas.
Setelah itu, dokter akan menggunakan laparoskop dan beberapa peralatan medis lainnya untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi, mengambil sampel jaringan, atau untuk mengangkat tumor dan kista. Terkadang, laser juga sering ditempelkan dengan laparoskop untuk mendukung operasi.
Setelah operasi selesai, laparoskop ditarik keluar dan gas yang tadi dipompa akan dikeluarkan dari dalam perut. Sayatan yang dibuat pada awal perosedur juga akan ditutup dengan jahitan, lalu dibalut perban. Sayatan ini meninggalkan bekas yang sangat kecil, dan akan hilang dengan sendirinya seiring waktu.
“Kegiatan hari ini akan mengupas tuntas tentang masalah Hernia dan Invasif minimal. Membuka wawasan bagaimana Minimal Invasif dikerjakan pada semua lini di bagian bedah,” tutur dr. Errawan.
Bedah invasif minimal dapat dilakukan dengan menggunakan bedah robotik dimana dokter bedah mengendalikan robot dari sebuah konsol. Kamera 3D definisi tinggi memungkinkan diperolehnya tampilan yang lebih baik terhadap area yang dioperasi dan fleksibilitas tangan robot memberikan ketelitian serta kendali yang lebih besar bagi dokter bedah.
Sementara itu, dr. Mina Sukri, dalam kesempatan tersebut mewakili Direktur RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang mengucapkan terimaksih kepada para dokter ahli bedah dari beberapa provinsi dan dari luar negeri yang sudah mau menghadiri undangan untuk membantu para dokter ahli beda di NTT.
Di kesempatan tersebut dirinya bertutur bahwa sistem rujukan online BPJS membuat pasien makin berkurang.
“Sistem rujukan harus semakin diperketat. Selain itu, kita juga harus memperkuat RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang agar terus maju dan berkembang,” ujar dr. Mina.
Ia mengharap agar kegiatan seperti ini bisa berjalan rutin setiap tahunnya di NTT. Ia juga mengharapkan agar profesi kedokteran berkembang lebih baik lagi ke depannya dan tidak dikungkung oleh suprasistem hukum yang sulit. Sebab hal itu yang membuat sulit perkembangan di dunia kedokteran. (*/fit/red)
Baca Juga : Wali Kota Kupang Resmikan Food Court Ku Termodern

