Kota Kupang, medikastar.id
Wakil Gubernur NTT, Josef A. Nae Soi, meminta segenap petugas Search And Rescue (SAR) untuk meningkatkan kemampuan fisik maupun kompetensi. Syarat mutlak seorang petugas SAR adalah memiliki fisik prima, sehat jasmani dan rohani serta punya kompetensi.
“Petugas SAR adalah manusia setengah dewa yang bertugas menyelamatkan nyawa manusia. Keterampilan yang dimiliki anak-anak SAR harus lebih dari orang yang ditolong bahkan manusia lainnya. Harus bisa menyelam tanpa ada alat, juga harus bisa terbang dalam arti meloncat untuk bantu orang. Itu luar biasa, butuh latihan yang tekun,” jelas Wagub Josef Nae Soi saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Rapat Koordinasi Pencarian dan Pertolongan Kantor SAR atau Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang di Hotel Neo Aston, Senin (29/7).
Ia juga mengapresiasi kinerja petugas SAR yang telah bekerja keras dalam upaya penyelamatan korban kapal Motor Nusa Kenari 02 yang tenggelam di perarian Alor pada Sabtu (15/6). “Walaupun arus laut Alor luar biasa derasnya, tapi anak-anak SAR NTT sangat hebat dalam upaya penyelamatan para korban. Pertahankan kinerja anda, terus belajar. Dengan teknologi-teknologi modern, kita bisa meningkatkan keterampilan kita,” pungkas Wagub Nae Soi.
Sementara itu, Direktur Operasi Badan SAR Nasional Brigjen (Mar) Budi Purnama dalam arahannya mengatakan, tugas pokok Basarnas, seturut amanat UU Nomor 29 Tahun 2014, adalah untuk melaksanakan pencarian dan pertolongan terhadap kecelakaan transportasi. Namun karena ada panggilan tugas lain yang berkaitan dengan pencarian dan pertolongan, maka Basarnas juga terlibat dalam kecelakaan dengan penanganan khusus.
“Basarnas juga terlibat dalam penanganan bencana terutama kebencanaan dalam tanggap darurat. Kita bersama potensi penanggulangan bencana lainnya seperti TNI/Polri dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) atau BPBD di daerah sebagai leading sector juga berupaya membantu korban yang terjepit atau terperangkap. Petugas SAR juga punya kewajiban menolong kecelakaan yang membahayakan jiwa manusia seperti kebakaran atau orang terperangkap dalam sumur. Silahkan hubungi call center Basarnas 115,” ungkap Budi Purnama.
Purnama menjelaskan, Basarnas membutuhkan kolaborasi dengan potensi penanganan kecelakaan dan bencana lainnya karena sumber daya personil dan materil Basarnas masih sangat terbatas. Sampai dengan bulan Juni 2019, masih di angka 32 persen, jauh dari ideal yang diharapkan. Basarnas terutama masih kekurangan peralatan utama di laut.
“Garis pantai Indonesia yang sangat panjang dengan lebih dari 17.500 pulau. Tak heran lebih dari 600 kasus dalam setiap tahunnya, kita menangani saudara-saudara kita yang melaut dan tidak kembali. Karena mati mesin dan kapalnya bocor. Kami berterima kasih kepada TNI AL, Polisi Air dan semua jajaran masyarakat maritim yang terlibat aktif membantu kami,” pungkas Budi Purnama.

Alat Pengingat Kecelakaan
Budi Purnama juga menyinggung tentang rendahnya penggunaan alat deteksi sinyal marabahaya pada sarana transportasi udara dan laut. Alat tersebut berfungsi memancarkan dan memantulkan signal dengan frekuensi 406 mega hertz ke satelit sehingga bisa diketahui posisi pesawat atau kapal laut yang dalam keadaan bahaya.
Sampai saat ini, semua pesawat sudah menggunakan alat ini. Namun, sebagian besar kapal laut belum mempunyai alat ini. Ia berharap kapal-kapal bisa membeli alat yang harganya sekitar 250 dollar dan demi pertolongan bila mengalami keadaan darurat.
“Alat ini sangat penting agar petugas Basarnas dapat cepat sampai ke lokasi dengan cepat dan tepat. Semestinya, kapal di atas 30 GT wajib memasang alat ini. Baru ada sekitar 300 kapal yang memakai alat ini. Penggunaan alat ini memudahkan Basarnas di seluruh Indonesia dapat mengetahui posisi pasti kapal yang sedang dalam bahaya,” jelas Budi Purnama.
Menanggapi hal ini, Wagub NTT menyatakan akan mewajibkan kapal-kapal di NTT yang di atas 30 GT untuk memiliki alat ini, terutama PD Flobamor yang mengurus kapal penyeberangan.
“Kita tidak bisa kompromi dengan hal ini. Masa bisa beli kapal, tapi tidak bisa beli alat ini. Secepatnya, saya akan panggil PD Flobamor untuk mengecek apakah kapal-kapalnya sudah ada alat ini atau tidak. Kalau tidak ada, besok harus segera beli karena ini sangat penting keselamatan pelayaran,” pungkas Wagub.
Rakor Pencarian dan Pertolongan Tahun 2019 tersebut dirangkai dengan kegiatan pelatihan SAR Beregu dan pelatihan Pertolongan Bangunan Runtuh. Pelatihan SAR beregu diikuiti 50 orang dilaksanakan selama 3 hari sejak Senin 29 sampai 31 Juli di Dermaga Navigasi Kupang.
Sementara untuk Pelatihan Pertolongan Bangunan Runtuh dengan jumlah peserta 60 orang dilaksanakan di Kantor SAR Kupang selama 5 hari dari tanggal 29 Juli sampai dengan 2 Agustus. Pelatihan ini diikuti peserta dari Kementerian/Lembaga, TNI/Polri, Instansi Potensi SAR, Organisasi Non Pemerintah dan Basarnas.
Tampak hadir pada kesempatan tersebut Unsur Forkompida Provinsi NTT, Julianita Natalegawa, Kepala IOM Indonesia, Mr. Sonha, Kepala Perwakilan IOM Indonesia Timur, Hendrik Therik, Perwakilan UNHCR NTT, Kepala SAR Kupang,Emi Frizer, perwakilan Potensi SAR,Dharma Wanita SAR Kupang,insan pers dan undangan lainnya. (Biro Humas Setda NTT/ens)

