Kota Kupang, medikastar.id
Penyakit tropis seperti malaria, demam berdarah, dan filariasis yang masih cukup tinggi di NTT perlu ditangani secara terpadu. Seluruh komponen harus mengambil bagian di dalam upaya mencegah dan mengendalikan faktor risiko dan vektornya.
Hal itu menjadi sorotan dalam Seminar Nasional yang dilaksanakan oleh Program Studi Sanitasi Poltekkes Kemenkes Kupang bekerja sama dengan Pusat Unggulan Iptek Poltekkes Kemenkes Kupang di Hotel Neo Aston, Jumat (29/11).
Seminar yang mengangkat tema “Sinergitas Pemerintah dan Institusi Pendidikan dalam Pengendalian Penyakit Tropis” itu menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan, Poltekkes Kupang, Unicef Indonesia, dan Universitas Nusa Cendana.
Dokter Siti Nadia Tarmizi, M. Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes, dalam pemaparan materinya menjelaskan bahwa pencegahan dan pengendalian penyakit dilakukan untuk mengurangi insiden penyakit, durasi, efek infeksi, termasuk komplikasi fisik dan psikososial serta beban keuangan.
Pengendalian penyakit tropik harus dilakukan melalui surveilans berbasis indikator yang meliputi survelansi faktor risiko dan vektor (pembawa penyakit) dan serta kejadian dan gejala. “Misalnya kalau untuk malaria, tidak cukup hanya dilakukan fogging, tetapi harus dikombinasikan dengan PSN 3M-Plus,” kata Siti.
PSN 3M-Plus adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan cara menguras, menutup, menaur ulang atau menutup, serta menaburkan bubuk larvasida, menggunakan obat anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, menaruh ikan di penampungan air, dan menanam tanaman pegusir nyamuk.
Menurut Suwito, S.KM, M.Kes, Kasubdit Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit Kemenkes, pengendalian penyakit tropis harus dilakukan sehulu mungkin dan secara holistik. PP No 66 Tahun 2014 dan Permenkes No 57 Tahun 2017 mengatur antara lain pengamatan dan penyelidikan bioekologi, penentuan status kerentanan, dan penentuan status resistensi.
Para kepala daerah harus punya komitmen untuk mendukung pencegahan dan pengendalian penyakit di daerahnya melalui kebijakan dan program yang terencana dan tereksekusi dengan baik. Institusi pendidikan seperti Poltekkes, kata Suwito, bisa mengambil bagian dalam proses ini melalui penelitian-penelitian untuk menghadang vektor penyakit. Misalnya menguji efektivitas pengendalian penyakit tropis.
Masyarakat juga harus dilibatkan di dalam proses ini. Setiap keluarga diwajibkan memiliki satu juru pemantau jentik (jumantik). Selain itu, langkah-langkah sederhana yang lain yang bisa ditempuh antara lain dengan membuat larvatrap (perangkap nyamuk), perangkap cahaya, dan menggunakan raket elektrik.
Pemberdayaan masyarakat sebagai aktor dalam mengendalikan penyakit tropis dikisahkan secara nyata oleh Dr. R. H. Kristina, Direktur Poltekkes Kemenkes Kupang sekaligus pengajar pada Prodi Sanitasi. Ia memaparkan hasil pendampingannya kepada kader-kader di Kabupaten Lembata, salah satu daerah endemis malaria di NTT, dalam upaya menekan penyebaran penyakit malaria melalui pendekatan Eco-Support Treatment kepada penderita malaria.
Berdasarkan hasil kajian Kristina, faktor risiko terbesar dalam penyebaran penyakit malaria di Lembata antara lain lingkungan, perilaku, dan tempat indukannyamuk. Di sana banyak terdapat hutan bakau (mangrove) dan genangan-genangan air yang menjadi tempat ideal perkembangbiakan nyamuk. Masyarakat juga masih terbiasa tidur di luar ruang yang membuat mereka rentan terhadap gigitan nyamuk.
“Pendekatan pengendalian vektor harus melihat masyarakat sebagai subjek, bukan sebagai objek. Masyarakat kita bisa dan mau, asalkan dilakukan melalui pendekatan yang tepat dan terus menerus,” ujarnya.

Intervensi teknologi juga perlu dilakukan dalam upaya mengendalikan penyakit tropis. Norman P. L. B. Riwu Kaho, SP, M.Sc, dosen Undana, menjelaskan bahwa saat ini sudah terdapat banyak aplikasi yang bisa digunakan untuk memetakan kondisi suatu wilayah. Data-data yang telah diolah dan disimpan dalam aplikasi bisa digunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk membuat keputusan atau kebijakan yang tepat sasaran.
Salah satu aplikasi yang dianjurkan Norman adalah Geografic Information System (GIS). Aplikasi android offline (luar jaringan) tersebut layak dipakai karena bisa mengatasi belum meratanya akses interenet ke semua wilayah di Indonesia, khususnya di NTT.
Sementara itu, Ermi Ndoen, PhD, perwakilan Unicef Indonesia, menjelaskan bahwa pemerintah provinsi NTT telah mencanangkan wilayah NTT sebagai Ring of Beauty yang berupaya menjadikan pariwisata di NTT sebagai leading sector pembangunan. Namun, salah satu momok dalam menggapai visi ini adalah kerentanan wilayah NTT terhadap berbagai penyakit tropis, termasuk malaria dan demam berdarah.
Awal tahun 2019 misalnya, Labuan Bajo yang menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan dari berbagai daerah dan dunia mengalami kejadian luar biasa (KLB) Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal ini akan membuat wisatawan berpikir dua kali untuk berkunjung ke sana.
“Para wisatawan mancanegara biasanya sebelum berangkat ke suatu tempat wisata akan mencari tahu keadaan wilayah tersebut, termasuk bagaimana kondisi keamanan dari sisi penyakit. Karena itu, kita harus bisa mencegah dan mengendalikan penyakit-penyakit yang selama ini menjadi wabah di daerah kita,” tutur Ermi.
Pada akhirnya, kata Ermi, kesehatan adalah martabat bangsa. Problem kesehatan bukan sekadar tubuh yang sakit tetapi berkaitan dengan isi kepala. Muaranya harus pada kebijakan publik yang berpihak kepada masyarakat. Pendidikan, parenting, dan pemberdayaan dalam sektor kesehatan juga tidak bisa ditunda lagi.
Hal itu menegaskan apa yang disampaikan ketua panitia kegiatan, Dr. Wanti, SKM, MPH, dalam laporan kepanitiaannya. Bahwasannya tantangan mencapai sumber daya manusia berkualitas seperti yang digaungkan Presiden Joko Widodo salah satunya adalah masih banyaknya kasus penyakit tropis seperti malaria, demam berdarah, dan filariasis.
Karena itu, kegiatan ini merupakan salah satu usaha untuk memperoleh masukkan dari berbagai pihak terkait penyakit tropis yang di NTT masih cukup tinggi. Hasil kegiatan ini akan disebarluaskan untuk membangun kesadaran bersama serta melecut kebijakan-kebijakan yang mengendalikan penyakit tropis dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. (ens)
Baca juga: Menuju Kota Kupang Bebas Malaria

