medikastar.id – Kabar mengenai ratusan babi yang mati di daerah Timor membuat masyarakat menjadi was-was. Para peternak merasa kuatir. Tak hanya mereka, para penyuka daging babi juga agaknya merasa takut mengonsumsi makanan olahan daging ini.
Awalnya, jenis virus yang mengakibatkan kematian banyak babi tersebut tidak diketahui dengan jelas. Banyak yang menyebutnya sebagai virus ‘aneh’. Setelah pemerintah Provinsi NTT mengirimkan sampel untuk dilakukan pengujian laboratorium di Medan, barulah diketahui penyebabnya. Virus yang menyebabkan kasus ini adalah African Swine Virus.
Di kalangan masyarakat, banyak orang yang mungkin menjadi takut mengonsumsi makanan olahan dari babi karena virus ini. Jadi, untuk berjaga-jaga, mari kenali apa itu African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika dan bagaimana dampaknya bagi babi dan manusia.
Virus African Swine Fever adalah jenis virus yang bisa menyebabkan penyakit parah pada babi serta dapat menyebar dengan sangat cepat pada kawanan lainnya. Virus ini ditemukan di beberapa negara Afrika dan ditemukan juga berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Virus ASF menginfeksi jenis babi ternak, babi liar, babi hutan, dan beberapa jenis lainnya. Virus ini dapat menular melalui kontak langsung ataupun tidak langsung.
Penularannya dengan mudah terjadi melalui kontak langsung antara babi yang terinfeksi dengan babi yang belum terinfeksi. Kontak langsung tersebut dapat berupa cairan dari tubuh babi seperti hidung, mulut, kotoran/feses, dan darah.
Penularan tidak langsung juga dapat terjadi. Virus ini dapat berpindah melalui beberapa benda atau alat. Benda seperti kendaraan, perlengkapan, sepatu, hingga pakaian yang sebelumnya memiliki kontak langsung dengan babi yang terinfeksi akan menginfeksi babi lain. Infeksi akan terjadi ketika babi lain memiliki kontak dengan benda-benda tersebut. Beberapa jenis kutu juga dapat menyebarkan virus ini ke babi lain.
Jika virus ini menginfeksi babi, maka akan menyebabkan penyakit yang parah dan risiko kematian yang tinggi. Tanda-tanda jika seekor babi telah terinfeksi virus ASF adalah demam tinggi, penurunan nafsu makan, dan kondisinya menjadi lemah. Kulit babi juga mungkin terlihat memerah, muncul noda-noda kotor, atau luka yang berwarna kehitaman. Tanda ini khususnya muncul pada bagian telinga, ekor, dan kaki.
Tanda-tanda lain yang mungkin muncul adalah diare, keguguran, dan gangguan pernapasan. Gangguan pernapasan yang terjadi seperti adanya ingus, batuk, dan sulit bernapas. Biasanya babi akan mati antara 7 hingga 10 hari setelah terinfeksi. Babi yang bertahan hidup akan tetap membawa virus tersebut dalam tubuhnya selama beberapa bulan dan berisiko menularkan pada babi lain.
Penanganannya dapat dilakukan dengan menghubungi dokter hewan atau pihak terkait. Virus ini memiliki ketahanan yang tinggi di lingkungan. Bahkan virus ini juga tahan terhadap berbagai macam desinfektan. Salah satu solusi yang dapat diambil oleh peternak adalah menyembelih babi yang sudah menunjukan gejala ASF untuk dipasarkan.
Semuel Rebo, Asisten II Setda Nusa Tenggara Timur kepada Antara juga menghimbau agar petani yang melihat gejala aneh, dimana ternak sudah tidak makan, maka segera dipotong untuk dipasarkan. Langkah tersebut untuk menghindari kerugian yang lebih besar pada peternak.
Penelitian yang telah dipublikasikan oleh Wagenigen University di Belanda mengungkapkan beberapa cara penegahan penularannya. Demam Babi Afrika dapat dicegah dengan tidak mengimpor atau mendatangkan babi dan produk olahan babi dari daerah yang sedang mengalami wabah virus ini. Larangan tersebut juga berlaku pada makanan untuk peternakan babi yang berasal dari daerah-daerah yang sedang mengalami wabah.
Cara lainnya adalah dengan membersihkan dan melakukan proses desinfeksi pada kendaraan peternakan yang berasal dari luar daerah. Proses tersebut juga berlaku pada benda-benda yang berasal dari daerah yang terinfeksi. Hal tersebut dapat memastikan keamanan pada ternak babi dari para peternak.
Selain kekuatiran yang terjadi pada peternak, beberapa masyarakat juga mungkin sedikit takut mengonsumsi olahan daging babi setelah mendengar kabar tentang Demam Babi Afrika. Namun, hal tersebut tak perlu dikuatirkan karena virus ini tidak berpengaruh apa-apa pada manusia.
Dr. Maisie Lam dan Dr. Richard Chan yang merupakan ahli di bidang kedokteran hewan dalam laporan mereka pada Centre for Food Safety di Hongkong mendukung pernyataan tersebut. Mereka mengungkapkan bahwa Demam Babi Afrika bukanlah penyakit zoonotis yang bisa mengancam kesehatan manusia. Virus tersebut hanya bisa masuk dan menginfeksi sel-sel tertentu pada babi dan tidak pada sel tubuh manusia.
Dr. Kevin Sharret, seorang dokter dari Ohio, Amerika juga mengatakan bahwa Demam Babi Afrika adalah penyakit yang hanya menjangkiti babi. Virus ASF tidak dapat ditularkan sekalipun manusia menyentuh dan mengonsumsi daging babi.
Dengan mengenali Demam Babi Afrika, masyarakat dapat mengetahui upaya penanganan yang tepat. Peternak yang memelihara babi dapat menerapkan penanganan dan pencegahan yang sesuai dengan sifat dari virus ini. Penikmat makanan olahan daging babi juga tidak perlu kuatir. Asalkan daging babi diolah dengan baik dan bersih, olahan tersebut masih tetap dapat dikonsumsi. (har)

Baca juga: Benarkah Jerawat adalah Tanda Jatuh Cinta?

