Bahaya Tontonan yang Tidak Sesuai Usia Anak

medikastar.id – Beberapa hari ini muncul kehebohan atas kasus pembunuhan yang dilakukan oleh seorang remaja pada bocah berusia enam tahun di Jakarta. Salah satu pusat perhatian dari kasus ini adalah pelaku yang mengaku bahwa pembunuhan tersebut terinspirasi dari film yang ia tonton. Ia bahkan mengaku merasa puas setelah melakukan pembunuhan tersebut.

Beberapa judul film yang ia sukai adalah Chucky dan Slender man. Jenis film-film tersebut memuat adegan pembunuhan yang sadis dan kekerasan lainnya. Film-film tersebut seharusnya belum boleh dikonsumsi oleh anak di bawah umur.

Sebenarnya, tayangan yang ada di televisi atau bioskop memiliki aturan batasan usia bagi penontonnya. Hal ini mungkin saja sering diremehkan. Namun, jika tidak diperhatikan dengan baik, tontonan yang dikonsumsi oleh anak akan membuat mentalnya terganggu.

Di Indonesia, batasan-batasan umur untuk menonton film diatur oleh Lembaga sensor film (LSF). Hal pertama yang harus dipastikan adalah film yang akan ditayangkan atau ditonton telah lulus sensor.

Selanjutnya, perlu diketahui juga tentang empat golongan usia penonton yang ditetapkan. Yang pertama adalah golongan penonton dari kalangan semua umur. Yang kedua adalah penonton berusia 13 tahun atau lebih. Yang ketiga adalah penonton berusia 17 tahun atau lebih. Yang keempat adalah penonton berusia 21 tahun atau lebih.

Penggolongan tersebut dibuat dengan tujuan untuk mengatur masyarakat agar dapat menonton jenis film yang sesuai dengan usianya. Jika tidak dipatuhi, maka film yang ditonton bisa saja mengacaukan kesehatan mental penonton tersebut.

Cara film mengacaukan pikiran penonton yang ‘tidak siap’ mengonsumsinya berkaitan dengan tingkat kedewasaan berpikir penonton tersebut. Seringkali, penonton yang belum cukup umur tidak mampu membedakan antara realita dan fiksi yang terdapat dalam film yang ditontonnya.

Jika dipikirkan, hal tersebut cukup menyeramkan. Itu merupakan bukti dari kekuatan film yang kuat,” jelas Uri Hanson, seorang Psikolog dari Princeton University.

Dalam salah satu percobaannya di bidang film, Hanson mendapati hal unik pada orang yang menonton sebuah klip film berjudul The Good, The Bad, and The Ugly. Ia menemukan bahwa para penonton memiliki aktivitas di beberapa area otak yang naik turun secara bersamaan. Namun, hal tersebut terjadi pada inidvidu yang berbeda.

Penemuan tersebut menjelaskan bahwa setiap orang memiliki respon yang berbeda pada suatu tayangan. Ada yang berespon positif, adapula yang negatif. Ia memperkirakannya berdasarkan reaksi daerah otak yang terhubung dengan bagian fungsi pendengaran dan penglihatan, serta area wajah.

Adegan pembunuhan, kekerasan, seksualitas, hingga drama yang anak-anak tonton akan menghasilkan terbangunnya persepsi dan ekspektasi kenyataan bagi dunia sekitar mereka. Contohnya, jika mereka menonton adegan kekerasan, akan tertanam dalam pikiran mereka bahwa dunia di sekitar mereka sangat berbahaya dibandingkan realitanya.

Untuk investigasi lebih lanjut dan memprediksi jenis gangguan mental yang dialami, saya dan rekan saya memeriksa potensi risiko jangka panjang berkaitan dengan paparan media kekerasan pada anak-anak. Kami menemukan bahwa mereka yang terekspos tayangan kekerasan menjadi lebih anti sosial dan tertekan secara emosional,” kata Caroline Fitzpatrick seorang peneliti dan Psikolog dari Univeristy Sainte-Anne dalam sebuah artikelnya.

Barbagai cara dapat dilakukan orang tua untuk lebih memperhatikan dan mengontrol tontonan yang dikonsumsi anaknya. Orang tua perlu terlebih dahulu mengetahui batasan umur tontonan yang cocok bagi anaknya.

Selain itu, waktu menonton televisi atau menggunakan gadget dalam sehari alangkah baiknya dibatasi. Orang tua juga perlu berkomunikasi sesering mungkin, serta menanyakan pendapat sang anak guna mengetahui kondisi mentalnya. Anak-anak yang gemar menonton televisi atau film juga hendaknya diberikan tontonan yang bisa mengedukasi mereka.

Tontonan yang dikonsumsi bisa saja menjadi inspirasi bagi tindakan yang dilakukan oleh seseorang. Memilih tontonan yang sesuai dengan usia dan memuat konten positif akan memberi hiburan sekaligus membuat penonton terhindar dari bahaya gangguan mental yang dapat terjadi. (har)

Baca juga: Edy Wuryanto: Saya Akan Kawal Regulasi Kesejahteraan Tenaga Kesehatan