Alasan Mengapa Laki-laki Lebih Rentan Terhadap Covid-19

medikastar.id

Setiap harinya, jumlah kasus positif covid-19 masih saja bertambah. Sejauh ini, dari data-data dan beberapa studi yang telah ada, diketahui bahwa mayoritas pasien covid-19 berjenis kelamin laki-laki.

Lantas, apa yang menjadi penyebabnya? Berikut merupakan beberapa alasan mengapa laki-laki lebih rentan terhadap covid-19 dibandingkan dengan perempuan.

Dilansir dari Healthline, alasan-alasan tersebut terdiri dari konsentrasi enzim dan sistem kekebalan tubuh, sisi lemah dari laki-laki, tingkatan pengambilan risiko, serta respon terhadap gejala yang muncul.

Konsentrasi Enzim dan Sistem Kekebalan Tubuh

Sebuah studi yang dipublikasikan pada bulan Mei lalu melaporkan bahwa laki-laki memiliki konsentrasi angiotensin-converting enzyme 2 atau ACE2 yang lebih tinggi dalam darah dibanding perempuan.

Reseptor ACE2 telah terbukti menjadi pintu masuk bagi virus corona atau Sars-CoV-2 ke dalam tubuh manusia. Dengan kata lain, ACE2 memungkinkan virus corona menginfeksi sel-sel sehat dalam tubuh. Hal tersebutlah yang kemudian menjadi alasan mengapa laki-laki lebih rentan terhadap covid-19.

Aspek genetik juga berpengaruh pada tingkat kerentanan seseorang terhadap penyakit. Banyak ahli mengatakan bahwa perempuan memiliki daya tahan tubuh yang lebih kuat dibandingkan laki-laki. Hal ini dikarenakan perempuan memiliki ekstra kromosom X sehingga respon terhadap infeksi menjadi lebih kuat.

Sisi Lemah dari Laki-laki

Sering kali banyak orang mengutarakan bahwa laki-laki adalah sosok yang lebih kuat dibandingkan dengan perempuan. Hal ini juga dipengaruhi dari aspek budaya yang ada. Meski begitu, perempuan memiliki sistem kekebalan yang sama sekali tidak lemah.

Penyebab dari sistem kekebalan yang lebih lemah adalah beberapa sifat dan perilaku laki-laki yang telah ada sebelumnya. Contohnya seperti perilaku merokok dan gaya hidup tidak sehat lainnya yang berpengaruh pada pelemahan daya tahan tubuh.

Lebih jauh lagi, angka kematian laki-laki yang lebih tinggi dalam masa pandemi bukanlah suatu hal yang baru. Penelitian yang dilakukan secara global pada masa flu pandemi 1918 menjadi contohnya. Penelitian tersebut menemukan bahwa laki-laki dewasa lebih banyak meninggal dibandingkan perempuan. Hal ini bisa saja disebabkan karena laki-laki memiliki riwayat tuberkulosis lebih banyak yang dapat merusak paru-paru.

Tingkatan Pengambilan Risiko

Pola pikir dan perilaku sehari-hari dari laki-laki selama masa pandemi dapat mempengaruhi tingkat kerentanan dan kematian akibat covid-19. Sebuah jajak pendapat yang dilakukan pada bulan Maret lalu menunjukkan bahwa perempuan lebih cenderung peduli tentang covid-19 dibandingkan dengan laki-laki.

Dengan kata lain, laki-laki bisa saja lebih cenderung melanggar protokol kesehatan yang diberikan. Contohnya seperti berkumpul di kerumunan, tidak menggunakan masker, tidak rajin mencuci tangan, dan lain sebagainya.

Selain itu, laki-laki juga sering kali merasa tak terkalahkan atau tidak ingin terlihat lemah dan takut terhadap keadaan yang ada. Hal ini bisa membuat mereka terdorong untuk mengambil risiko yang lebih dibandingkan dengan perempuan. Sikap ini tentu sangat membahayakan, karena walaupun seorang laki-laki tidak terkena penyakit akibat infeksi virus, mungkin saja ia bisa menularkannya pada orang lain.

Respon terhadap Gejala yang Muncul

Salah satu perbedaan dari kebanyakan laki-laki dan perempuan adalah respon ketika memiliki gejala penyakit. Perempuan akan lebih sadar dan bergerak cepat untuk memeriksakan diri atau mencari pengobatan. Sedangkan, laki-laki cenderung menunda dan mengabaikan gejala penyakit yang dimilikinya hingga penyakit tersebut telah menjadi sangat parah.

Hal ini bisa jadi diakibatkan oleh cara pandang sebagian laki-laki yang melihat bahwa perawatan diri adalah sebuah pengakuan kelemahan. Jika sikap seperti ini dimiliki, tentu pengabaian yang ada dapat mengancam jiwa dari orang tersebut.

Jadi, laki-laki dapat menjadi lebih rentan terhadap covid-19 dikarenakan beberapa faktor. Meski begitu, semua orang dari segala kalangan tetap bisa terinfeksi virus corona. Karena itu, tetaplah jaga diri dengan menjalankan setiap protokol kesehatan yang ada. (har)

Baca juga: Kabar Baik, Sudah Seminggu Tanpa Penambahan Kasus Positif Covid-19 di NTT