Soe, medikastar.id
Pengurus Daerah IAI (Ikatan Apoteker Indonesia) NTT periode 2018-2022 terus menunjukan “taringnya” dengan berbagai gebrakan yang bermanfaat. Dalam kurun waktu 5-7 Oktober 2018 lalu, sejumlah kegiatan di bawah tagline, “Apoteker Bajalan” dilaksanakan. Salah satunya ialah “menaklukan” puncak Gunung Mutis. Selain itu, dilaksanakan pula kegiatan-kegiatan internal dalam kepengurusan IAI. Juga dilaksanakan kegiatan eksternal bersama masyarakat berupa bakti sosial.
Tercatat bahwa kegiatan yang dilaksanakan secara internal antara lain konsidilasi internal bersama yang dihadiri oleh 19 apoteker dari Kabupaten TTS, TTU, Belu, dan Malaka. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapat keseragaman visi dan misi dalam mengimplementasikan rencana strategis organisasi Ikatan Apoteker NTT, baik dari pengurus daerah sampai pada pengurus cabang.

Selain itu, diselenggarakan pula Sarasehan internal bersama fungsionaris PD IAI NTT. Selain membahas beberapa hal penting, kegiatan ini menjadi ajang saling kenal dan menambah hubungan keakraban antara sesama sejawat apoteker, khususnya fungsionaris pengurus daerah IAI NTT.
Usai kegiatan tersebut, IAI NTT meluncur ke desa Netpala, Kabupaten TTS. Di sana dilaksanakan bakti sosial berupa pengobatan gratis. Bakti sosial ini bertempat di salah satu gereja di Silo Meo yang berada cukup jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan, seperti Puskesmas.
Tercatat sebanyak pasien 100 orang dilayani dalam kegiatan yang melibatkan 3 orang dokter 3, 6 apoteker, dan 3 orang perawat. Acara ini ditandai dengan penyerahan tanaman obat yang bisa dibudidayakan oleh warga sekitar. Selain itu, dilaksanakan pula penyerahan bahan sembako kepada warga di bawah kaki gunung Mutis, khususnya di desa Nenas. Warga juga memperoleh tanaman obat keluarga.
Ketua Pengurus Daerah (PD) IAI NTT, Frama El Lefiyana Pollo menjelaskan bahwa kegiatan yang dilaksanakan tersebut lebih kepada membina keakraban di antara sesama fungsionaris IAI yang baru saja terbentuk.
“Dengan keakraban itu, kami akan semakin solid dalam melakukan penguatan-penguatan internal dan melaksanakan program kerja kami,” tuturnya.
Ia menjelaskan bahwa di dalam organisasi IAI, banyak anggotatermasuk dalam kategori generasi milienial. Olehnya, pihaknya berusaha untuk membungkus kegiatan pengabdian masyarakat dengan kegiatan yang disukai oleh generasi milenial tersebut.
Tidak heran, dalam melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Netpala, disisip juga dengan acara pendakian ke puncak Gunung Mutis.

“Di balik pendakian ini sebenarnya kami melatih daya juang kami. Ini sebenarnya menggambarkan bagaimana daya juang kami di organisasi ini. Bahwa untuk mencapai puncak, dibutuhkan kerja sama antara satu dengan yang lainnya. Di samping itu, kegiatan ini juga menyadarkan saya bahwa masing-masing kami memiliki peran dan setiap orang perlu menyadari dan berkarya sesuai perannya tersebut,” jelas Frama.
Ia menambahkan pula bahwa kegiatan tersebut juga merupakan perwujudan komitmen pihaknya yang ingin mengeksplorasi keindahan alam yang ada di NTT.
“Ini merupakan langkah awal. Kami akan melihat tempat-tempat wisata lain dan secara periodik akan kami datangi. Di sana kami akan laksanakan kegiatan pengabdian masyarakat. Dengan demikian kami juga mendukung pemerintah di sektor pariwisata,” tutur Frama.
Dalam pendakian di Gunung Mutis tersebut, beberapa anggota IAI akhirnya “menaklukan” puncak Gunung Mutis. Di sana mereka mengibarkan bedera IAI. (*/red)
Baca Juga : Cakupan Imunisasi MR Lampaui Target, Kabupaten Sikka Terima Penghargaan Kemenkes

