medikastar.id – Tanggal 1 April selalu terkenal dengan istilah “April Mob”. Setiap April mob, kebanyakan orang sering menjadikan kebohongan sebagai sebuah lelucon. Terlepas dari lelucon tentang kebohongan, perilaku berbohong yang sering dilakukan seseorang ternyata bisa juga berhubungan dengan kondisi kesehatan mentalnya.
Seseorang yang sering melakukan kebohongan tanpa bisa dikontrol bisa jadi sedang mengalami sindrom mythomania. Seperti apakah sindrom ini?
Dalam ilmu psikologi, sindrom mythomania juga dikenal kebohongan patologis. Kondisi ini membuat seseorang berbohong tanpa motivasi yang jelas. Penderita sindrom ini bisa menciptakan sebuah mitos yang bervariasi dan rumit sehingga orang yang mendengarkan kebohongan mereka menjadi percaya.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2005 melaporkan bahwa seseorang dengan sindrom mythomania memiliki materi putih 22% hingga 26% lebih banyak di korteks prefontal dibanding kontrol. Materi putih terdiri dari bundel yang menghubungkan berbagai lokasi tubuh sel saraf satu sama lain. Materi inilah yang membawa impuls saraf atau pesan diantara neuron.
Sedangkan, korteks prefontal berfungsi untuk membedakan pemikiran yang bertentangan dan menentukan yang baik dan buruk. Bagian otak ini juga memiliki kemampuan untuk melakukan prediksi dan pertimbangan konsekuensi, hingga kontrol sosial.
Sebuah study pada 2007 yang dituliskan oleh healthline menunjukkan bahwa masalah berbohong memiliki kaitan erat dengan kondisi sistem saraf pusat. Trauma dan cidera kepala, serta kelainan dalam rasio hormon-kortisol juga bisa berpengaruh pada kebohongan patologis yang dilakukan.
Apakah seseorang yang sering berbohong menderita sindrom mythomania? Jawabannya belum tentu. Seseorang yang sering berbohong mungkin saja memiliki motif atau alasan tersendiri. Sedangkan, pengidap mythomania tidak memiliki motivasi atau tujuan dalam melakukan kebohongan. Bisa dibilang, pengidap sindrom ini dapat melakukan kebohongan tanpa dapat terkontrol.
Hingga sekarang belum ada yang bisa menjelaskan penyebab mythomania secara pasti. Perlu penelitian lanjutan untuk memastikan hal ini. Meski begitu, seseorang yang mengidap mythomania atau kebohongan patologis bisa diidentifikasi dengan beberapa tanda. Tanda-tanda tersebut antara lain:
- Pengidap mythomania sering berbicara mengenai pengalaman dan prestasi, serta membuat mereka tampil heroik.
- Mereka juga sering kali mencari simpati orang lain dengan menempatkan diri sebagai korban dalam banyak cerita mereka.
- Dalam menceritakan sesuatu, mereka dapat menjabarkan secara rumit dan detail.
- Tanggapan atas pertanyaan yang didapatpun bisa sangat cepat, tapi tanggapan tersebut sulit dipahami atau tidak jelas.
- Mereka juga memiliki versi berbeda dengan detail yang juga berbeda dari cerita yang sama.
Terdapat beberapa cara untuk mengatasi orang yang memiliki mythomania. Cara tersebut antara lain jangan ditanggapi dengan emosi dan berpikir secara kritis agar tidak mudah percaya. Bagi para penderita sindrom ini, mereka perlu lebih memahami diri sendiri serta mencari jalan untuk mengatasi gangguan mental ini. Mereka juga dapat menghubungi tenaga medis atau psikolog untuk mendapatkan penanganan yang lebih lanjut.
Kebanyakan kebohongan sering kali mendatangkan kerugian bagi orang lain maupun diri sendiri. Jika kebohongan yang dilakukan oleh seseorang sudah tidak bisa dikontrol lagi, bisa jadi ia sedang mengalami gangguan kesehatan mental. Karena itu, pahamilah diri dan biasakanlah untuk menerapkan pola hidup yang positif. Selamat April Mob, healthies! (har)
Baca juga: Kuba, Negara ‘Pengekspor’ Dokter

