Larantuka, medikastar.id
Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang butuh perhatian serius dan kerja keras semua pihak untuk mengatasinya. UNICEF, mencatat bahwa kematian anak-anak Balita hampir sebagian besar disebabkan oleh stunting.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, Provinsi NTT menempati urutan teratas proporsi status gizi kurang dan gizi buruk pada balita (29,9%). NTT juga tertinggi untuk proporsi status gizi sangat pendek dan pendek pada balita (42,6%).
Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Flores Timur (Flotim) melalui Forum Pangan dan Gizi (Foranzi) Flotim, bekerja sama dengan Yayasan Pengkajian dan Pengembangan Sosial (YPPS) Flotim dan Stichting Nederlandse Vrijwilligers (SNV) menggelar Deklarasi Flores Timur Gempur Stunting. Kegiatan ini dilaksanakan di Lapangan Bola Kaki Bintang Timur Lebao, Larantuka, Jumat (16/11/2018).
Deklarasi Flotim Gempur Stunting ini dihadiri oleh Bupati Flores Timur, Antonius Gege Hadjon bersama Ibu. Hadir juga Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung, Pr. Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes RI, Ir. Doddy Izwardy, MA; Hakim Dermawan dari Bappenas RI, Y. M. Ronaldus Amapiran dari Bappeda NTT juga hadir. Selain itu, nampak pula Mei J.O. Tatengkeng dari SNV Perwakilan NTT, dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Flotim, dr. Agustinus Ogie Silimalar. Tidak ketinggalan Pimpinan OPD Kabupaten Flotim, Para Camat se-Kabupaten Flotim, Kepala Puskesmas, Ketua Tim Penggerak PKK, Tokoh-Tokoh Agama, Tokoh Pemuda dan Lembaga-Lembaga Non Pemerintah.
Bupati Flotim, Antonius Gege Hadjon dalam sambutannya mengajak peserta yang hadir untuk bersama-sama, bergotong royong menggempur stunting.
“Kita gemparkan Flores Timur untuk gempur Stunting,” pekik Anton Hadjon penuh semangat
Ia berharap di kesemapatan itu berharap agar Flotim bebas stunting tahun 2023.
Menurut Anton Hadjon, jumlah kasus stunting di Flotim sebanyak 29,09 persen. Ini lebih rendah dibandingkan dengan angka stunting tingkat Provinsi NTT, namun masih tinggi dibandingkan dengan target nasional.
“Masih tingginya angka stunting di Flores Timur dapat menghambat misi pemerintah Kabupaten Flores Timur untuk selamatkan orang muda pada 10-20 tahun ke depan. Karena itu, pemerintah Kabupaten Flores Timur terus bekerja keras memperbaiki pangan dan gizi. Salah satu target adalah menurunkan angka stunting,” lanjut Anton Hadjon.
Lebih lanjut Ia mengajak seluruh masyarakat Flotim untuk sama-sama bergerak menggempur stunting dari hulu ke hilir.
Sementara itu, Direktur Gizi Masyarakat Kemenkes RI, Ir. Doddy Izwardy, MA, mengatakan bahwa stunting masih menjadi masalah serius yang selalu dibicarakan di tingkat nasional. Angka stunting di Provinsi NTT masih menjadi yang tertinggi, yakni 37,2 % sejak tahun 2013.
Menurutnya, ada 3 persoalan pokok dalam mengatasi stunting yakni pangan, gizi dan kesehatan.
“Jika ketersediaan pangan kita cukup tetapi masih ada masalah pada gizi dan kesehatan di masyarakat maka akan berpengaruh pada sulitnya kita menggempur stunting. Sementara masalah kesehatan yang masih kita alami adalah angka kematian ibu, angka kematian bayi dan angka kesakitan balita,” terangnya.

Ia pun mengapresiasi pemerintah Kabupaten Flores Timur atas program Gempur Stunting ini. Lebih lanjut Doddy Izwardy juga mengatakan bahwa dari 514 Kabupaten/Kota di Indonesia yang mengalami masalah stunting, hanya hanya ada 51 Kabupaten/Kota yang kasus stuntingnya menurun secara signifikan selama 3 tahun berturut-turut. Kabupaten Flotim termasuk di dalamnya.
Ia mengharapkan bahwa kerja sama dari semua pihak, baik pemerintah maupun non pemerintah dalam upaya untuk menggempur stunting di Kabupaten Flotim. Juga komitmen dari Pemerintah Daerah dalam mengalokasikan anggaran untuk program gempur stunting ini.
Selanjutnya, dilakukan deklarasi Flotim Gempur Stunting oleh para perwakilan peserta yang dipilih dari berbagai elemen. Dipandu oleh Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur, Yohanes Djong mereka mengucapkan ikrar gempur stunting.
“Kami berjanji dengan sungguh hati untuk: pertama, memerangi sikap tidak peduli terhadap stunting. Kedua, melakukan pembelajaran yang luas kepada semua pihak tentang sebab dan akibat stunting. Ketiga, melalukan gerakan bersama memerangi stunting. Keempat, menurunkan prosentasi stunting di Flores Timur. Kelima, menyatakan tahun 2023 Flores Timur Bebas Stunting. Demikian ikrar kami demi generasi Flores Timur yang sehat, cerdas, tangguh dan berdaya saing.”
Setelah deklarasi, dilanjutkan dengan acara penandatanganan komitmen bersama untuk menggempur stunting oleh Bupati Flores Timur, Direktur Gizi Masyarakat Kementrian Kesehatan RI, pimpinan OPD, dan tokoh agama. Serta penandatangan prasasti Deklarasi Flores Timur Gempur Stunting oleh Bupati Flores Timur, Antonius Gege Hadjon.
Di akhir acara para peserta dihibur dengan tarian khas daerah Lamaholot oleh Puskesmas Lambungan dan Puskesmas Nagi. (*/Emanuel F. Ola Masan/red)
Baca Juga: Tingkatkan Pelayanan, Klinik King Medika Doreng Hadirkan Dokter Tetap

