medikastar.id – Istilah “generasi micin” sangat terkenal dalam beberapa waktu terakhir. Istilah tersebut menggambarkan kondisi generasi jaman sekarang yang selalu terpapar micin atau MSG. MSG merupakan singkatan dari Monosodium Glutamate. Mengonsumsi MSG dinilai akan mendatangkan berbagai macam dampak negatif bagi otak dan tubuh.
Lantas, benarkah demikian? Konsumsi micin secara berlebihan tentu akan menyebabkan tubuh mengalami gangguan kesehatan. Namun, bukan berarti micin tidak boleh dikonsumsi sama sekali. Asalkan konsumsi micin dikontrol atau dibatasi, tubuh tidak akan mendapatkan efek negatifnya.
Micin atau monosodium glutamate adalah salah satu asam amino non-esensial paling berlimpah yang terbentuk secara alami dan merupakan garam natrium dari asam glutamat. Jenis asam amino terbagi atas asam amino esensial, non-esensial, dan conditional.
Jenis asam amino non-esensial merupakan asam amino yang dapat diproduksi secara alami oleh tubuh, jika tidak didapat dari makanan. Asam amino non-esensial juga bisa ditemukan dalam berbagai jenis makanan. Salah satu contoh asam amino jenis ini adalah asam glutamat.
Asam glutamat dalam MSG dibuat melalui proses fermentasi pati. Akan tetapi, pada dasarnya tidak ada perbedaan kimia antara asam glutamat dalam MSG dan makanan alami.
Micin atau MSG dikategorikan sebagai bahan tambahan dalam makanan. Fungsinya adalah sebagai penguat rasa. MSG memiliki kemampuan untuk menguatkan senyawa aktif rasa yang lainnya. Selain itu, MSG juga berguna untuk menyeimbangkan dan menyempurnakan rasa keseluruhan dari masakan tertentu.
MSG dibuat pertama kali oleh Profesor Kikunae Ikeda dari Jepang pada tahun 1908. Ia mengisolasi asam glutamat dari ganggang laut Laminaria japonica, dengan ekstraksi air dan kristalisasi. Selanjutnya, ia menamai rasa tersebut dengan sebutan umami.
Profesor Ikeda mempelajari berbagai sifat rasa garam glutamat seperti kalsium, kalium, dan magnesium glutamat untuk memverifikasi penyebab rasa umami. Akhirnya, MSG diproduksi secara komersial pada tahun 1909 oleh Suzuki bersaudara dengan merk Ajinomoto, yang berarti cita rasa atau inti rasa.
MSG telah digunakan dalam waktu lama sebagai penguat cita rasa makanan. Namun, pada tahun 1968, sebuah laporan mengenai efek samping dari penggunaan micin muncul. Laporan itu disebut Chinese Restaurant Syndrome (CSR) yang dibuat oleh Robert Ho Man Kwok.
Ia melaporkan gejala yang dirasakannya setelah menyantap makanan Cina-Amerika. Gejala-gejala tersebut antara lain seperti rasa kebas pada bagian leher dan lengan, lesuh, serta detak jantung yang kuat dan cepat. Sejak saat itu, MSG selalu menjadi pusat perhatian dan selalu dikaitkan dengan gejala-gejala tersebut.
Gejala-gejala yang dirasakan juga tergantung pada sensitivitas masing-masing orang. Study yang pernah dilakukan juga menemukan bahwa konsumsi 5 gram MSG dapat memicu beberapa gejala. Gejala tersebut berupa sakit kepala, otot tegang, mati rasa, kesemutan, dan lemah.
MSG juga sering dikaitkan dengan rusaknya otak. Asam glutamat memiliki fungsi sebagai neurotransmitter di otak. Hal tersebut berarti, tugasnya adalah merangsang sel-sel saraf untuk menyampaikan sinyalnya.
Pada tahun 1969, sebuah study yang dilakukan pada bayi tikus menemukan bahwa MSG dalam dosis tinggi dapat berefek pada kerusakan neurologis. Artinya, penggunaan MSG dengan dosis tinggi dapat merusak otak.
Sejak waktu itu juga, buku dari Russel Blaylok yang berjudul “Excitotoxin: The Taste That Kills” membuat rasa takut akan konsumsi MSG. Dalam sebuah study juga didapati bahwa dosis tinggi dari MSG dapat meningkatkan tekanan darah sebanyak 556%.
Beberapa klaim juga menyebutkan bahwa konsumsi MSG juga berhubungan dengan serangan asma. Dalam sebuah study yang dilakukan pada 32 orang, 40% partisipan mengalami serangan asma karena konsumsi MSG dalam dosis yang tinggi. Namun, belum ditemukan penelitian lain yang dapat mendukungnya.
Sebuah penelitian pada 752 orang sehat di Cina juga menemukan hubungan antara kandungan MSG dan kejadian obesitas pada manusia. Pengguna MSG dilaporkan mengalami peningkatan berat badan dibandingkan non-pengguna. Sementara itu, penelitian lain juga belum mampu mendukung pernyataan tersebut selama periode lima tahun setelahnya.
Terlepas dari klaim dan study yang telah dilakukan, namun Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat mengklasifikasikan MSG sebagai Generally Recognize as Safe (GRAS). Klasifikasi tersebut memiliki arti bahwa MSG masih dikategorikan aman.
FDA dan WHO juga menjamin konsumsi MSG yang aman dengan batasan tertentu. Dalam rekomendasinya, maksimum rata-rata konsumsi MSG perhari adalah 2,5-3,5 gram untuk orang dengan berat badan 50-70 kg. Takaran tersebut sebanyak setengah senduk teh untuk satu hari.
Cara mengontrol konsumsi MSG atau micin adalah dengan memeriksa bungkus makanan yang hendak dikonsumsi. Setiap bungkus makanan seperti mie instant atau makanan ringan lainnya tentu memuat kadar MSG dalam daftar bahan makanannya.
Penggunaan MSG secara berlebilah dalam makanan tidak dibutuhkan karena asam glutamat dapat dihasilkan oleh tubuh. Akan tetapi, jika ingin menambah cita rasa makanan, pemakaiannya hendak diatur sesuai rekomendasi yang diberikan.
Istilah “generasi micin” yang sering diungkapkan juga belum terlalu dapat dibuktikan oleh penelitian-penelitian yang ada. Namun, dengan mengontrol penggunaan micin secara berlebihan, makanan yang dikonsumsi akan menjadi lebih lezat dan aman. (har)

Baca juga: Perlukah Tidur Siang?

