Kota Kupang, medikastar.id
Setiap anak memiliki bakat dan talenta yang khas. Orang tua dan guru bertugas membantu anak menemukan dan mengembangkan bakat tersebut.
Hal itu disampaikan Julianto Eka Putra, pembicara dalam seminar bertema Parenting and Millenial Teaching yang digelar oleh PT Harmoni Dinamika Indonesia (HDI) di Hotel Swiss-Bellin Kristal Kupang, Kamis (29/11/2018) malam.
Menurut Julianto, selama ini, para orang tua dan guru umumnya memaksa anak untuk pandai atau punya nilai tiggi dalam semua bidang. Padahal setiap anak memiliki kemampuan yang unik.
“Kalau anak pandai dalam Matematika, doronglah ia menjadi saintis. Karena dunia membutuhkan saintis. Jika anak berbakat dalam memasak, doronglah ia menjadi chef. Dunia juga membutuhkan chef. Belajar memasak tidak lebih rendah dari belajar Matematika,” ujar Julianto di hadapan 400-an orang tua, guru, dan undangan lain yang hadir pada kesempatan itu.
Ia mengatakan, anak harus dididik dengan cara Tuhan bukan dengan cara orang tua atau guru. Cara Tuhan berarti membantu anak menemukan bakat mereka dan mendorong mengembangkan bakat tersebut. Karena Tuhan telah menitipkan talenta yang khas kepada setiap anak sebagai modal untuk hidupnya.
Karena itu, anak yang kurang pandai di dalam Matematika jangan dihina atau dibilang bodoh. Karena mungkin bakatnya ada di bidang lain.
Bagi pendiri Sekolah Selamat Pagi Indonesia ini, cara mengetahui bakat anak adalah dengan mengajak anak melakukan atau mencoba.
“Dari situ akan diketahui apakah anak itu berbakat atau tidak. Bila anak berbakat, dukung dia. Bila tidak, hibur dia dan motivasi dia untuk temukan bakat yang lain,” ujar Ko Jul, sapaan akrab Julianto.
Orang tua dan guru juga harus bisa menjadi influencer. Menjadi influencer berarti bisa membuka pikiran anak untuk mau mengembangkan bakat mereka.
“Ada anak yang berbakat tapi kurang serius mengembangkan bakat tersebut. Tugas orang tua dan guru adalah memotivasi anak agar mau mengembangkan bakat yang mereka miliki,” kata salah satu penerima penghargaan Kick Andy Heroes 2018 ini.
Cara lain untuk bisa membantu anak adalah dengan menjadi sahabat bagi anak. Menjadi sahabat berarti membimbing dan menemani anak dalam melakukan aktivitas. “Biarlah anak melakukan apa yang disenanginya, selama itu tidak membahayakan mereka,” kata Ko Jul.
Orang tua juga diharapkan bisa menjadi konsultan bagi anak. Misalnya dalam pendidikan, karier, pernikahan, dan sebagainya. “Doronglah anak Anda untuk banyak bergaul,” tandasnya.
Selanjutnya, orang tua diharapkan menjadi detektif dan role model bagi anak. Dengan itu anak dapat mengembangkan bakatnya secara bebas dan bertanggung jawab serta mempunyai panutan untuk meraih impian dan cita-cita mereka.
Dokter Scarlet Aurora Laukuan, salah satu panitia kegiatan, mengatakan, kehadiran Ko Jul diharapkan membuka pikiran (mindset) orang tua dan para guru dalam mendidik anak. Bahwasanya setiap anak harus dididik dengan cara-cara yang memungkinkan mereka dapat mengembangkan bakat mereka, bukan mengikuti keinginan orang tua. Karena setiap anak dikaruniai bakat yang spesifik. (*)
Baca juga: Yang Perlu Anda Ketahui Soal HIV/AIDS

