Belu dan Malaka Masuk 10 Besar Konsumsi Roti Tawar Tertinggi di Indonesia

Kota Kupang, medikastar.id

Provinsi NTT tak melulu soal jagung, pisang, dan ubi. Buktinya, Kabupaten Belu dan Malaka termasuk dua kabupaten/kota dengan konsumsi roti tawar tertinggi di Indonesia.

Hal itu ditemui dalam Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018, Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Lokadata. Dalam survei tersebut, dihitung konsumsi roti tawar dalam satuan potong, per kapita, per bulan.

Hasil survei menunjukkan bahwa konsumsi roti tawar di Kabupaten Belu menempati urutan kedua dengan jumlah 5 potong per orang per bulan. Kabupaten yang berbatasan dengan Timor Leste tersebut berada di bawah Kota Balikpapan yang rata-rata konsumsinya 5,1 potong. Sementara itu, Kabupaten Malaka berada di posisi 7, dengan konsumsi rata-rata 4,3 potong.

Wilayah lain yang juga masuk sepuluh besar adalah Kota Tangerang Selatan (4,9 potong), Kabupaten Bintan (4,7 potong), Kota Bukittinggi (4,5 potong), Kota Jakarta Selatan (4,5 potong), Kota Tangerang (4,3 potong), Kota Jakarta Utara (4,3 potong), dan Kota Bandung (4,3 potong).

Jika disederhanakan, rata-rata warga di sepuluh kabupaten/kota itu dalam seminggu makan roti tawar lebih dari satu potong.

Meski demikian, secara nasional, pengeluaran untuk roti tawar terhitung kecil dari total pengeluaran untuk semua jenis makanan (Rp556.899 per bulan/kapita). Dengan rasio 0,34 persen atau Rp1.886 per kapita/bulan. Hal ini wajar, sebab roti tawar bukan jenis makanan pokok.

Konsumsi roti tawar yang merata di wilayah administratif kota dan kabupaten ini ditunjang oleh kondisi ekonomi dunia yang relatif stabil yang mampu meningkatkan permintaan roti di Indonesia.

Khususnya konsumen berpendapatan menengah dan menengah ke atas dianggap bisa mendiversifikasi makanannya yang menyertakan makanan ala barat seperti roti dan pasta. Hal ini menjadi peluang produsen roti di masa mendatang. (ens)

Baca juga: Cerita Kapal Pesiar Diamond Princess, 624 Orang Terkena Virus Corona, 2 Meninggal