Berpikir Kritis untuk Menangkal Hoax

medikastar.id – Masyarakat nampaknya tidak hanya menghadapi ancaman penyebaran virus Corona yang cepat. Ancaman lain yang tak kalah mengerikannya adalah ancaman hoax yang juga menyebar dengan sangat mudah. Penyebaran hoax pastinya meresahkan semua orang dan memperparah kondisi. Selain menciptakan ketakutan atau kepanikan, hoax juga dapat membuat masyarakat menerapkan tindakan yang salah.

Untuk mencegah penyebaran hoax, masyarakat perlu memiliki daya berpikir yang kritis. Kemampuan berpikir kritis atau critical thinking dapat membantu masyarakat untuk menyaring informasi yang beredar dan menyebarkan berita yang benar.

Hoax merupakan berita bohong, tipuan, atau kepalsuan yang sengaja dibuat untuk menyamarkan kebenaran. Berita bohong bisa saja memiliki beberapa sifat seperti kesalahan pengamatan dan penilaian atau rumor.

Terdapat berbagai macam masalah yang dapat ditimbulkan oleh karena penyebaran hoax. Masalah tersebut seperti mendatangkan bahaya atau celaka bagi orang lain. Hoax juga bisa membuat masyarakat mengalami kerugian finansial dan lain sebagainya. Kerugian dapat terjadi pada orang yang mempercayai atau bahkan orang yang menyebarkan berita bohong.

Dilansir dari hukumonline.com, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengatur mengenai penyebaran berita bohong. Dalam pasal 45A ayat 1 mengatur sanksi bagi penyebar berita bohong sebagai berikut:

Setiap orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik sebagaimana dimaksud dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (Enam) tahun penjara dan/atau denda paling banyak 1 (Satu) milyar.

Selain itu, masih ada beberapa peraturan lagi yang mengatur tentang berita bohong. Hukuman yang bisa didapatkan oleh pelaku adalah hukuman kurungan penjara selama bertahun-tahun dan denda yang tidak sedikit. Oleh karena itu, masyarakat perlu menyadari penyebab dan cara mengatasi hoax.

Penyebaran hoax yang terjadi dengan mudah dan cepat bisa disebabkan oleh beberapa hal. Penyebab yang sering dirasakan adalah informasi tertulis cenderung dianggap sebagai kebenaran. Masyarakat baru dapat menghindarinya ketika telah mengetahui secara pasti bahwa informasi tersebut salah. Penyebab selanjutnya yang sering memudahkan penyebaran hoax adalah rasa takut atau kepanikan.

Ketika orang takut, mereka akan mencari informasi untuk mengurangi ketidakpastian. Hal ini bisa membuat orang mempercayai informasi yang mungkin salah atau menipu karena membantu membuat mereka merasa lebih baik atau memungkinkan mereka untuk menyalahkan apa yang terjadi.” Kata Jeff Hancock, seorang Profesor Komunikasi dari Universitas Stanford, Amerika Serikat.

Untuk mencegah penyebaran hoax, masyarakat perlu menerapkan pola pikir yang kritis dan mengikuti berita dari sumber yang terpercaya. Terdapat beberapa cara untuk dapat berpikir kritis dalam menyikapi setiap informasi yang datang.

Dilansir dari American Psychological Association (APA), salah satu cara sederhana yang biasa diterapkan adalah metode CRAAP. Metode ini sering diterapkan oleh universitas atau sekolah guna membantu para siswa dalam mencari referensi yang tepat. CRAAP merupakan singkatan dari Currency, Relevance, Authority, Accuracy, dan Purpose.

Currency memiliki arti kapan informasi tersebut dipublikasikan? Apakah informasi tersebut telah diperbarui?

Relevance memiliki arti apakah informasi tersebut terkait dengan kebutuhan masyarakat? Atau siapa audiensnya?

Authority memiliki arti siapakah penulis atau penerbit berita tersebut? Apakah ia memiliki kredibilitas untuk menghasilkan informasi tersebut?

Accuracy memiliki arti apakah informasi tersebut dapat diandalkan dan jujur? Apakah informasi tersebut didukung oleh bukti?

Purpose memiliki arti apakah tujuan dari informasi tersebut? Apakah ada bias dari informasi tersebut?

Ada juga cara yang lumayan mirip dengan metode di atas dalam menemukan dan mencegah penyebaran hoax. Metode tersebut dikeluarkan oleh Facebook pada tahun 2017 lalu.

Cara yang pertama adalah menyelidiki sumber informasi. Masyarakat perlu mewaspadai cerita yang ditulis oleh sumber tak dikenal dan wajib memeriksa situs web mereka untuk informasi lebih lanjut. Biasanya berita yang terpercaya berasal dari surat kabar atau penyiaran nasional yang telah diverifikasi.

Cara yang kedua adalah menggali informasi lebih dalam. Penerapannya adalah dengan melihat dasar dan bukti dari informasi atau berita tersebut. Pastikan apakah berita tersebut kredibel atau tidak. Jika informasi tidak mencantumkan sumber dengan benar atau hanya mencantumkan nama pakar dan orang yang tak dikenal, maka masyarakat patut bersikap skeptis.

Biasanya berita yang benar akan mencantumkan alamat web atau referensi yang bisa diperiksa untuk mendapatkan bukti informasinya. Penerapan cara ini juga dapat dibantu dengan bertanya menggunakan komponen 5W+1H pada informasi tersebut.

Cara ketiga adalah memeriksa berita dari sumber lainnya untuk memastikan kebenaran informasi. Jika sumber lain juga menyinggung atau menerbitkan informasi yang sama, maka berita tersebut kemungkinan besar adalah benar. Sebaliknya, jika tidak ada yang menerbitkan berita tersebut, masyarakat perlu mencari tahu lebih lanjut asal-usul dan kebenarannya secara pasti.

Selain cara-cara berpikir kritis di atas, untuk memastikan berita atau informasi yang benar, alangkah baiknya masyarakat mengikuti portal berita yang telah dipercaya. Contohnya dalam masa pandemi Covid-19 saat ini. Semua orang lebih baik mengakses berita dari situs web khusus dari pemerintah (Kemenkes, BNPB, WHO, dll) dan situs berita lain yang kredibel.

Dengan mencegah penyebaran hoax, masyarakat juga sudah berkontribusi besar dalam perang melawan Corona. Agar dapat mencegah hoax, kemampuan berpikir secara kritis perlu ditanamkan dan diterapkan dalam merespon semua informasi yang ada. (har)

Baca juga: Manfaat Berjemur untuk Kesehatan Tubuh