medikastar.id – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) terbilang cukup tinggi di awal tahun ini. Kota Kupang telah menetapkan kasus DBD sebagai kejadian luar biasa (KLB). Lebih dari 300 pasien sedang mengalami DBD di wilayah ini. Beberapa daerah lain juga masih menghadapi kasus DBD yang tinggi.
Upaya pengobatan terus dilakukan. Tak ketinggalan, upaya pencegahan juga lebih digemakan oleh pemerintah. Metode pencegahan utama yang perlu diterapkan oleh masyarakat adalah 3M+ yang terdiri dari menguras, menutup, dan mengubur, serta tindakan lain seperti menaburkan abate dan lain-lain.
Salah satu tindakan yang cukup sederhana adalah menguras dan membersihkan. Upaya menguras biasanya dilakukan pada bak mandi dan tempat penampungan air. Meski sederhana, namun jika diabaikan, maka keluarga berisiko tinggi mengalami penyakit DBD.
Rekomendasi untuk menguras dan membersikan penampungan air bukan dilakukan karena alasan biasa. Rekomendasi tersebut berkaitan sangat erat dengan life cycle atau lingkaran hidup nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk ini adalah hewan pembawa virus dengue yang menyebabkan DBD.
Penularan DBD terjadi ketika nyamuk menghisap darah manusia. Saat menghisap darah, virus dengue dari tubuh nyamuk akan masuk ke tubuh manusia. Darah dibutuhkan oleh nyamuk sebagai makanan dan pendukung dalam proses memproduksi telur.
Artikel terkait: DBD Mewabah di NTT, 3 Kabupaten KLB DBD!
Setelah memproduksi telur, nyamuk akan mencari tempat yang memiliki air untuk meletakkan telurnya. Sekali bertelur, telur yang dihasilkan dapat mencapai 100 buah. Nyamuk Aedes Aegypti menyukai air yang bersih untuk meletakkan telurnya. Tempat seperti bak mandi dan penampungan air minum akan menjadi target utamanya.
Untuk berkembang dari telur menjadi larva, diperlukan waktu selama 2 sampai 7 hari. Selain itu, telur nyamuk juga membutuhkan air yang lebih banyak untuk berkembang. Air tersebut biasanya didapatkan dari air hujan atau saat manusia mengisi penampungan air tanpa mencucinya.
Larva akan hidup selama 4 hari dengan mengonsumsi mikroorganisme dalam air, sebelum berkembang menjadi pupa. Selanjutnya, 2 hari kemudian, pupa akan berubah menjadi nyamuk dewasa. Begitulah lingkaran hidupnya akan terus berputar. Terhitung, nyamuk ini dapat berkembangbiak selama beberapa hari hingga belasan hari.
Proses menguras dan membersihkan direkomendasikan untuk memutuskan lingkaran hidup nyamuk ini. Dengan memutuskan lingkaran hidup mereka, maka hal tersebut juga akan mengurangi risiko keluarga menderita DBD karena gigitan nyamuk dewasa.
Penampungan air sebaiknya dikuras secara teratur seminggu sekali. Tak hanya dikuras, penampungan air tersebut perlu dicuci. Hal ini dikarenakan, meski air telah dikuras, telur nyamuk tetap bertahan dalam waktu lama dengan menempel pada dinding penampung air. Jadi, ketika air baru dimasukkan tanpa dicuci, telur-telur tersebut akan berkembang.
Selain bak mandi dan penampung air, ada juga beberapa tempat perkembangbiakan nyamuk yang sering terluputkan. Tempat-tempat tersebut adalah pot atau vas bunga, nampan dari AC atau kulkas, dan tempat lain yang terisi air.
Sampah-sampah seperti gelas dan botol air mineral, kaleng-kaleng, serta plastik juga sering menjadi tempat bertelurnya nyamuk saat musim hujan. Oleh karena itu, selain upaya menguras dan membersihkan tempat penampungan air di rumah, sampah-sampah juga perlu dibersihkan.
Upaya 3M+ menjadi rekomendasi yang sangat tepat untuk diterapkan. Menguras, menutup, dan mengubur, serta menaburkan abate, menggunakan lotion anti nyamuk, dan menjaga kebersihan adalah langkah yang tepat. Dengan melakukan langkah-langkah tersebut, nyamuk Aedes Aegypti tidak dapat berkembang dan keluarga akan terjaga dari DBD. (har)

Baca juga: 29 Februari, Tanggal Langka untuk Hari Penyakit Langka Sedunia

