DBD Mulai Mewabah di NTT, Kabupaten Sikka Tertinggi!

Kota Kupang, medikastar.id

Memasuki musim penghujan, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai mewabah di NTT. Di awal tahun 2020, tercatat sudah terjadi 34 kasus DBD di beberapa kabupaten di NTT. Untungnya, dari laporan yang masuk ke Dinas Kesehatan Provinsi NTT, belum ada korban yang meninggal dunia akibat DBD tersebut.

Hal ini dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dr. drg. Dominikus M. Mere, M.Kes, Sabtu (11/01/20) usai pelantikan pengurus Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Cabang NTT di Hotel Sahid T-More Kupang.

“Kasus terbanyak terjadi di Kabupaten Sikka dengan jumlah 21 kasus. Di Kota Kupang ada 4 kasus dan di beberapa kabupaten lainnya. Kami saat ini memantau kejadian-kejadian tersebut secara terkoordinasi dan teman-teman di kabupaten juga harus melaporkan itu dengan format pelaporan yang cepat, dan kami harus cepat juga mengatasinya,” kata drg. Dominikus.

Untuk mengantisipasi DBD terus mewabah di berbagai wilayah di NTT, Ia menegaskan bahwa pihaknya telah mengambil sejumlah langkah pencegahan. Upaya pencegahan ini juga dilakukan mengingat saat ini telah terjadi perubahan cuaca yang cukup ekstrim

“Kita ketahui bahwa di tahun ini terjadi perubahan musim yang cukup ekstrim. NTT biasanya mulai musim penghujan pada bulan Oktober, tetapi saat ini sudah bergeser ke Desember. Karena itu kita harus mencegah kejadian DBD ini, dari pada kita mengatasi kejadian setelah kejadian tersebut berkembang besar,” tegasnya.

drg. Dominikus mengutarakan bahwa langkah yang telah diambil, yakni bahwa Gubernur NTT sendiri telah mengeluarkan surat yang ditujukan kepada para bupati untuk meningkatkan kewaspadaan dini terhadap peningkatan kasus DBD di masing-masing daerah.

“Kita melalui tataran pemerintahan dari Provinsi ke Kabupaten, Kabupaten ke Kecamatan termasuk ke Puskesmas telah mengeluarkan kebijakan untuk kewaspadaan dini untuk itu (DBD). Selain itu, juga kewaspadaan terhadap penyakit lain yang berbasis lingkungan, seperti malaria, infeksi saluran pernafasan bagian atas, pneumonia pada anak dan balita serta diare,” lanjutnya.

Selain itu, pihaknya juga telah mengadakan rapat koordinasi termasuk juga dengan melibatkan organisasi profesi kesehatan dan juga ikatan dokter anak. Dalam rapat tersebut telah dibahas langkah-langkah penanganan termasuk juga kebijakan yang harus diambil apabila ada pasien yang perlu penanganan segera.

Pencegahan DBD ini juga dilakukan melalui pemberian informasi berupa pengumuman di tempat-tempat Ibadah, seperti Gereja, Mesjid, dan sebagainya.

“Jadi lebih kepada warning agar semua pihak cepat apabila menemukan kejadian. Karena intinya ialah cepat penanganan cepat juga teratasi. Yang sering terjadi dan menjadi berat ialah pasien ditangani dulu sendiri di rumah beberapa hari baru di antara ke fasilitas kesehatan,” katanya.

Menurut drg. Dominikus, hal yang ditakutkan dari penyakit DBD ialah ketika pasien masuk dalam tahapan dengue shock syndrome, di mana ada kondisi pasien sudah tidak panas lagi, padahal sebenarnya yang bersangkutan sudah hampir masuk dalam stadium koma.

“Ini yang harus diwaspadai,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat akan siklus 5 tahunan penyebaran DBD. Sebab pada tahun 2015 silam, telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) DBD di NTT. Ditakutkan, di tahun 2020 ini terjadi KLB DBD lagi di beberapa wilayah di NTT. (*/red)

Baca Juga: Diketuai Dokter Herly Soedarmadji, Pengurus ARSSI NTT Resmi Dilantik