Kanker adalah penyebab utama kematian pada anak-anak dan orang dewasa di seluruh dunia. Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di negara-negara maju lebih dari 80 persen anak-anak dengan kanker bisa sembuh. Namun, di negara-negara berkembang hanya 20 persen yang dapat disembuhkan.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), prevalensi tumor/kanker di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan dari 1.4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Prevalensi kanker tertinggi adalah di provinsi DI Yogyakarta 4,86 per 1000 penduduk, diikuti Sumatera Barat 2,47 79 per 1000 penduduk dan Gorontalo 2,44 per 1000 penduduk.
Kanker bisa menyerang siapa saja dari berbagai usia dan dapat mempengaruhi setiap bagian tubuh kita. Kanker dimulai dengan perubahaan genetik dalam sebuah sel kemudian berkembang di luar kendali. Dalam berbagai kasus, hal ini menghasilkan peningkatan jumlah massa (tumor). Jika dibiarkan tanpa penanganan, kanker bisa berkembang, menyerang bagian tubuh lain dan menyebabkan kematian.
Kanker yang umum terjadi pada anak antara lain kanker darah, kanker otak dan saraf, kanker mata, kanker ginjal atau tumor wilms, kanker kelenjar getah bening atau limfoma, kanker otot atau rabdomiosarkoma, dan kanker tulang.
Data baru-baru ini menyatakan bahwa kurang lebih 10 persen anak-anak dengan kanker cenderung disebabkan karena faktor genetik. Penelitian yang sedang berlangsung dibutuhkan untuk mengidentifikasi faktor-faktor perkembangan kanker pada anak-anak.
Beberapa gejala umum munculnya kanker pada anak adalah penurunan berat badan yang drastis, sakit kepala, sering disertai muntah di pagi hari, merasa sakit atau nyeri pada salah satu bagian tubuh, muncul memar-memar atau ruam di bagian tubuh tanpa ada benturan, muncul bengkak pada salah satu bagian tubuh.
Selain itu, gejala lainnya adalah sering kelelahan dan merasa capai, padahal tidak melakukan kegiatan yang berat, menurunnya kemampuan melihat, demam berulang atau terus-menerus yang tidak diketahui penyebabnya, tampak pucat dan tidak bertenaga yang tidak jelas penyebabnya, dan muncul benjolan
Karena umumnya tidak mungkin untuk mencegah kanker pada anak-anak, perlu pendekatan khusus menangani kasus ini. Menurut WHO, strategi paling efektif mengurangi beban kanker pada anak-anak adalah diagnosis yang cepat dan tepat, diikuti terapi yang efektif.
Diagnosis dini
Ketika diidentifikasi sejak dini, kanker cenderung merespons pengobatan yang efektif dan menghasilkan kemungkinan bertahan hidup yang lebih besar. Selain itu, deteksi dini juga mengurangi penderitaan, lebih murah, dan perawatan yang tidak intensif.
Diagnosis dini terdiri dari 3 komponen, yakni kesadaran oleh keluarga dan mengakses perawatan; evaluasi klinis, diagnosis dan penentuan stadium (menentukan sejauh mana kanker telah menyebar); dan akses kepada perawatan.
Pengobatan
Diagnosis yang tepat sangat penting untuk mengobati anak-anak dengan kanker karena setiap kanker memerlukan pengobatan khusus. Pengobatan itu misalnya pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.
Anak-anak yang menyelesaikan pengobatan memerlukan perawatan berkelanjutan untuk memantau kambuhnya kanker dan untuk mengelola kemungkinan keracunan terkait pengobatan.
Perawatan paliatif
Perawatan paliatif adalah pelayanan kepada pasien yang penyakitnya sudah tidak bereaksi terhadap pengobatan kuratif, atau tidak dapat disembuhkan secara medis (stadium akhir).
Tidak semua anak dengan kanker dapat disembuhkan, tetapi bantuan mengurangi penderitaan mungkin untuk semua orang. Perawatan paliatif dilakukan untuk mengurangi gejala yang disebabkan oleh kanker dan meningkatkan kualitas hidup pasien dan keluarga mereka.
Perawatan ini diberikan melalui perawatan berbasis komunitas dan rumah untuk memberikan penghilang rasa sakit dan dukungan psikososial kepada pasien dan keluarga mereka. (ens/who.int)
Baca juga: Ada Enam Jenis Cinta. Cinta Anda Termasuk Cinta Apa?

