medikastar.id
Pengalaman pengabdian dan kepemimpinan sebagai dokter maupun pejabat di pemerintahan membuat dr. Hyronimus Agustinus Fernandez mengenal baik masyarakat NTT. Di berbagai tempat dan posisi, ia telah memperlihatkan keberpihakannya pada sebuah visi dan komitmen untuk memberdayakan masyarakat banyak. Baginya, pembangunan harus bersifat menyeluruh dengan menyentuh tiga aspek dasar kehidupan, yakni kesehatan, pendidikan dan ekonomi.
Setelah menamatkan studi profesi dokter tahun 1982, dr. Hyron bertugas di Pulau Lembata sebagai kepala Puskesmas kemudian menjadi dokter di Rumah Sakit Bukit Lewoleba (waktu itu Lembata masih menjadi bagian dari Kabupaten Flores Timur). Selain sebagai dokter di rumah sakit, ia juga menjadi Wakil Kepala Dinas Kesehatan Flotim untuk wilayah Lembata.
Sebagai dokter, ia tidak saja berkutat dengan pengobatan orang sakit, tapi juga mengembangkan upaya promotif-preventif. Ketika turun ke puskesmas-puskesmas, ia selalu mengajarkan kepada para petugas medis untuk mengubah pola pikir bahwasanya Puskesmas bukanlah rumah sakit, atau hanya sebagai tempat orang mendapatkan pengobatan. Puskesmas sebagai pusat kesehatan mestinya aktif mengedukasi masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat sehingga mencegah berbagai jenis penyakit.

Selain menjalankan tugasnya sebagai dokter, dr. Hyron bersama beberapa koleganya mendirikan Lembaga Swadaya Masyarakat yaitu Yayasan Bina Sejahtera (YBS) di Lewoleba pada tahun 1987 dan Yayasan Mitra Sejahtera di Larantuka tahun 1993, yang kemudian mengkristal dalam studi magisternya. Ia menyadari bahwa dalam kondisi keterjangkauan pelayanan yang masih belum merata dan kebutuhan perubahan perilaku masyarakat, peran penting organisasi masyarakat sipil sangat diperlukan.
Studi S2-nya tidak difokuskan dalam teknis pengobatan atau perlakuan pasien melainkan dalam pemikiran kesehatan masyarakat. Dr. Hyron secara tidak tanggung-tanggung melakukan penelitian di 54 RSUD yang terbentang dari Jawa Timur, Bali, hingga NTT. Tesisnya berjudul, “Pengaruh Pemahaman dan Persepsi Manajer Rumah Sakit Umum Kabupaten terhadap Orientasi Pemasaran Rumah Sakit.” Yang hendak dikemukakan di sini ialah dr. Hyron selalu berpikir lebih tentang bagaimana seharusnya menciptakan sebuah kondisi bagi masyarakat yang sehat jiwa dan raganya.
2 tahun kemudian dr. Hyron kemudian mengambil studi S3. Disertasinya berjudul, “Pengaruh Komitmen Manajemen pada Komitmen Individual, Budaya Organisasi dan Kinerja Rumah Sakit Nirlaba-Model Diagnosis Budaya Organisasi untuk Pengembangan RS Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Bali dengan Pendekatan Analisis Multilevel.” Secara sederhana, yang dicari dr. Hyron dalam studi-studi akademisnya adalah bagaimana merancang manajemen rumah sakit atas cara yang menguntungkan dan memberdayakan pasien, sekaligus memberdayakan pemerintah daerah.
Sebagai PNS, setelah 12 tahun berkarier sebagai dokter, ia berkonsentrasi pada thinktank pemerintah provinsi dengan keterlibatan secara teknokratik pada penyusunan substansi kesehatan dalam RPJMD Provinsi NT tahun 2008-2013 dan tahun 2013-2018. Ia juga pernah menjadi staf ahli gubernur Bidang Politik dan Pemerintahan, sekretaris/PLH Kepala Bappeda Provinsi NTT, dan Widyaiswara Ahli Madya.
Setelah pensiun dari PNS tahun 2018 silam, dr. Hyron terlibat dalam beberapa program seperti membantu program percepatan pembangunan kesehatan di Kabupaten Malaka. Selain itu, ia juga tetap mengabdi sebagai dosen pada Program Pendidikan Pasca Sarjana Universitas Nusa Cendana sebagai, Anggota Badan Pengawas RS Provinsi NTT dan Surveior Nasional Komisi Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).

Berjuang di hulu-hilir
Saat ini, dr. Hyron ikut dalam kontestasi pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Daerah Pemilihan NTT, Nomor Urut 35. Sebagai seorang ahli kesehatan masyarakat yang terbiasa berpikir strategis dan sistematis, ia menyadari bahwa pembangunan kesehatan tidak cukup hanya pada level kuratif-rehabilitatif. Yang juga penting adalah membuat kebijakan atau regulasi yang bisa melindungi masyarakat dari berbagai risiko sakit dan penyakit.
“Perjuangan kita harus berbasis masalah, dan hulu-hilir. Jadi tidak bisa kita hanya menyelesaikan masalah di meja pasien, di rumah sakit, di puskesmas. Tapi harus juga di tingkat hulu. Hulu itu kita omong tentang kebijakan, regulasi. Sehingga kita tidak bisa hindari politik. Karena setiap manusia adalah zoon politicon,” ujarnya.
Ayah dua putra ini menyadari bahwa image politik sudah terlanjur buruk di mata masyarakat. Ini disebabkan karena fakta yang kita saksikan setiap hari adalah politik adu domba, politik balas dendam, politik yang pelaku-pelakunya terlibat korupsi. Padahal, politik itu sebenarnya memiliki tujuan yang mulia.
“Bahkan politik itu dikatakan oleh salah seorang penulis sebagai sakramen. Sakramen Politik. Karena politik juga bisa menjadi tanda kehadiran Tuhan,” katanya.
Karena itu, keterlibatannya dalam kontestasi politik berangkat dari kesadaran untuk ikut menjernihkan image jelek politik karena praktik-praktik selama ini dipertontonkan oleh sebagian besar politisi kita. Menjernihkan wajah politik itu artinya aktif memperjuangkan aspirasi rakyat agar mereka bisa beroleh kehidupan yang lebih baik (bonum commune) melalui tiga aspek kehidupan yang menentukan arah pembangunan secara umum, yakni kesehatan, pendidikan dan ekonomi.
“Kalau kita mau berjuang atas nama daerah, kita harus menguasai tiga problem mendasar di daerah itu. Karena kita juga harus memperjuangkan itu di hulu. Karena kalau kita boleh kerja di hilir setengah mati, tapi bingkai besarnya tidak dilakukan oleh orang yang memahami ketiga problem dasar ini, termasuk masalah kesehatan, maka tidak akan berdampak besar,” papar dr. Hyron.
“Secara singkat kalau kita punya kepedulian di hulu-hilir ini kita harus sekalian ambil bagian dalam kontestasi politik, entah di tingkat lokal atau nasional secara elegan dan bermartabat,” lanjutnya.

Dokter Hyron melihat, tupoksi DPD sebagai senator yang mewakili daerah sejalan dengan spirit dan perjuangannya sebagai ahli kesehatan masyarakat.
Pertama, yang berhubungan dengan pemekaran daerah, entah itu provinsi, kabupaten, kecamatan, dan desa. Kedua, tentang program-program yang terkait dengan pembangunan dan sumber daya manusia (SDM). Indikator keberhasilan pembangunan yang dipakai secara universal adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dikembangkan oleh United Nation Developmnet Programme (UNDP). Tiga indikator itu adalah kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Yang ketiga terkait pengawasan penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih (good governance and clean government).
“Secara khusus saya akan memperjuangkan daerah-daerah yang sudah diajukan untuk dimekarkan. Saya melihat pemekaran daerah sebagai satu instrumen yang cukup efektif untuk mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar suami dari Dr. dr. Simplicia Maria Anggrahini, SpA ini.
“Contohnya, Rote tanpa lepas dari Kabupaten Kupang apakah Rote itu seperti sekarang, Manggarai Barat tanpa lepas dari Manggarai, apakah seperti sekarang. Sabu Raijua, Malaka. Saya juga mendukung pemekaran Amfoang, Pantar, Adonara, Kota Maumere, Manggarai Barat Daya, Sumba Timur Jaya, Sumba Selatan dan Pahungalodu, Amanatun,” tambah dr. Hyron.
“Dengan itu mendekatkan pelayanan, memperbesar eksternalitas. Itu tiga hal yang akan saya perjuangkan. Ada tiga pilar good governance yang harus ditegakkan: pemerintah, civil society, dunia usaha. Tiga ini harus sinergi. Itu perhatian utama saya,” ujarnya lagi.
Dengan potensi alam, budaya dan keragaman yanga ada di NTT seharusnya dengan good governance masyarakat NTT bisa menjadi lebih baik lagi. Stigma miskin, gizi buruk, dan bodoh harus perlahan dihapus. Dan itu harus dimulai dari pemimpin, politisi dan wakil rakyat. Karena itu, momentum pemilu menjadi kesempatan masyarakat memilih masa depannya. Agar tak memilih ‘kucing dalam karung’, mengenal kompetensi serta integritas para calon menjadi syarat mutlak bagi demokrasi yang sehat demi NTT yang lebe bae: lebe sehat, lebe pintar, lebe kaya secara berkeadilan dan bermartabat. (*ENS)
*Artikel ini telah tayang di majalah cetak medika star edisi April 2019
Baca Juga: Dokter Ganteng ini Bangun NTT Lewat Profesi dan Hobi
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=hKwA6Q0GeqE[/embedyt]
