Hari Tidur Sedunia 2020, Inilah Penjelasan Ilmiah Tentang “Ketindihan Setan”

medikastar.id – Hari Tidur Sedunia 2020 diperingati pada tanggal 13 Maret. Tema yang diangkat tahun ini adalah “Tidur Lebih Baik, Kehidupan Lebih Baik, Planet Lebih Baik”. Dengan adanya peringatan ini, diharapkan masyarakat dapat lebih memahami pentingnya menjaga kualitas tidur.

Kualitas tidur akan sulit terjaga, jika seseorang mengalami gangguan tidur. Terdapat beberapa jenis gangguan tidur seperti kurang tidur, kelebihan tidur, hingga gangguan yang terbilang sedikit menyeramkan yakni “Ketindihan setan”. Meski gangguan tidur ini terdengar cukup menyeramkan, ternyata ada teori yang dapat menjelaskan gangguan ketindihan setan saat tidur secara ilmiah.

Gangguan ketindihan setan saat tidur biasanya disebut Sleep Paralysis atau kelumpuhan tidur. Sleep paralysis merupakan kondisi seseorang yang tidak bisa menggerakan tubuh saat sedang tertidur atau dalam kondisi terbangun.

Selain tidak bisa menggerakan tubuh, orang yang mengalaminya juga tidak bisa mengeluarkan suara dan seringkali berhalusinasi. Bentuk halusinasi yang dirasakan berupa mendegar suara atau melihat sesuatu yang terlihat sangat nyata. Alasan-alasan tersebutlah yang biasanya dikaitkan dengan hal-hal yang berbau mistis.

Terdapat beberapa kepercayaan dari berbagai negara mengenai sleep paralysis. Orang-orang di Finlandia dan Sweedia mempercayai bahwa ketindihan setan disebabkan oleh mare. Mare adalah seorang wanita yang dikutuk dan secara misterius tubuhnya dibawa saat ia sedang tertidur. Ia lalu mengunjungi orang-orang yang sedang tidur dan membuat mereka mengalami mimpi buruk, serta menduduki tulang iga mereka.

Di Jepang, ketindihan setan disebut dengan istilah kanashibari. Arti dari kata tersebut adalah diikat oleh makhluk halus. Sedangkan, di Indonesia dan Malaysia, istilah yang lumrah dipakai adalah ditindih oleh setan atau hantu. Ada juga yang mengaitkannya dengan pelet atau guna-guna dan lain sebagainya.

Masih banyak mitos-mitos seputar sleep paralysis yang terdapat di masyarakat. Meski begitu, sleep paralysis dapat dijelaskan secara ilmiah. Gangguan ini biasanya terjadi saat seseorang berada dalam proses menuju tidur atau bangun. Sleep paralysis terbagi atas dua jenis, yakni Hypnagogic Sleep Paralysis dan Hypnopompic Sleep Paralysis.

Hypnagogic biasanya terjadi saat seseorang hendak terlelap. Ketika seseorang mulai terlelap, tubuh juga akan menjadi rileks secara perlahan. Biasanya kondisi tubuh yang rileks akan diikuti oleh kesadaran yang menurun, sehingga seseorang tidak menyadari bahwa ia akan tertidur.

Sebaliknya, saat tubuh telah rileks sedangkan pikiran masih aktif, tubuh tidak akan bisa digerakan. Jadi, penyebab sleep paralyisis adalah tubuh sudah beristirahat sedangkan pikiran masih tersadar.

Selanjutnya, Hypnopompic berkaitan dengan fase tidur seseorang. Fase tidur terdiri dari REM (Rapid eye movement) dan NREM (Non-rapid eye movement). Hypnopompic terjadi saat pergantian fase antara REM dan NREM. Dalam satu siklus tidur sudah tercakup kedua fase tersebut yang biasanya memerlukan sekitar 90 menit hingga terlelap dan terbangun.

Dalam prosesnya, fase NREM mencakup 75% dari keseluruhan waktu tidur. Saat fase NREM, tubuh seseorang akan menjadi rileks dan kehilangan daya gerak. Pada tahap akhir NREM, pergantian fase akan terjadi ke REM.

Dalam fase REM, mata akan bergerak dengan cepat, terjadi mimpi, dan hampir seluruh tubuh telah sangat rileks. Gangguan sleep paralysis terjadi ketika mata seseorang terbuka dan kesadarannya menjadi aktif pada fase REM ini. Tubuh yang telah kehilangan daya gerak karena rileks sudah pasti tidak bisa digerakan.

Selain mengalami ketidakmampuan untuk bergerak, orang yang mengalami sleep paralysis sering mengalami halusinasi. Halusinasi ini berhubungan dengan gangguan tidur lainnya yang disebut narcolepsy.

Narcolepsy merupakan gangguan tidur yang mengakibatkan seseorang mengalami kantuk secara tiba-tiba atau merasa kantuk luar biasa pada siang hari. Gangguan tidur ini dapat mengakibatkan seseorang kehilangan tonus otot secara tiba-tiba dan mengalami halusinasi.

Seseorang yang mengalami sleep paralysis kemungkinan akan mengalami rasa cemas. Selain itu, bisa jadi ia juga akan mengalami gangguan tidur malam dan merasa lelah sepanjang hari. Jika masalah-masalah tersebut terjadi dalam waktu lama atau mengakibatkan masalah kesehatan lainnya, maka perlu didiskusikan lebih lanjut bersama dokter.

Sleep paralysis juga berkaitan dengan beberapa penyebab. Penyebab-penyebab tersebut seperti kurangnya waktu tidur, jadwal tidur yang berubah, kondisi mental yang terganggu (bipolar disorder), tidur telentang, hingga efek obat-obatan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi sleep paralysis. Cara tersebut antara lain meningkatkan waktu tidur yang cukup (7-8 jam setiap malam). Cara lainnya adalah menjaga kondisi mental agar selalu positif, terlebih saat hendak tidur.

Ketindihan setan atau sleep paralysis berkaitan erat dengan kesehatan mental dan kondisi tubuh. Oleh karena itu, pola tidur yang berkualitas perlu dijaga dengan baik. Dengan menjaga kebugaran tubuh, kondisi mental, dan waktu tidur, seseorang dapat terbebas dari “Ketindihan Setan Saat Tidur”. Selamat Hari Tidur Sedunia 2020, Healthies! Mari Wujudkan Tidur Lebih Baik, Kehidupan Lebih Baik, Planet Lebih Baik. (har)

Baca juga: WHO Tetapkan Corona sebagai Pandemi Global, Apa Artinya?