Ini Alasan IRT di TTU Menduduki Peringkat Teratas Kasus HIV/AIDS

Kefamenanu, medikastar.id-

Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Timor Tengah Utara (TTU) mengungkapkan alasan Ibu Rumah Tangga (IRT) di Kabupaten TTU menduduki peringkat teratas kasus HIV/AIDS. Dari total 426 kasus HIV/AIDS di TTU, 37 persen kasus berasal dari IRT.

Kasus terbanyak diketahui saat pihak kesehatan mewajibkan tes HIV/AIDS bagi ibu hamil. Dari tes itu didapatkan bahwa ternyata terbanyak banyak IRT menderita penyakit ini.

Sekretaris KPA TTU, dr. Rienarmy Usfinit, Mph saat ditemui medikastar.id, Selasa (15/01/19) menjabarkan penyebab IRT menduduki peringkat teratas kasus HIV/AIDS di TTU.

Menurutnya, penyebab pertama ialah perilaku pasangan hidup.

“Kebanyak dari mereka memiliki keterbatasan ekonomi sehingga membuat mereka merantau lalu mereka kembali dengan membawa penyakit HIV/AIDS. Kemudian penyakit ini ditularkan kepada istri melalui hubungan seks, maupun lewat luka yang tanpa disengaja,” tuturnya.

Kedua, perilaku seks pra nikah. Dalam hal ini, pasangan melakukan hubungan seks di luar nikah, sehingga ini membuat mereka bergonta-ganti pasangan. Saat mereka nikah, mereka tidak menyadari jika pasangannya telah tertular HIV/AIDS.

Baca Juga: Ibu Rumah Tangga Duduki Peringkat Teratas Kasus HIV/AIDS di TTU

“Kemungkinan besar juga karena wanita ini statusnya bisa dikatakan belum menikah tapi sudah menjadi IRT, sehingga di dalam  registrasi kita tidak bisa menulis status: kawin dan tidak. Bisa luruskan dengan pasangannya yang anaknya banyak tetapi belum menikah. Kalau sebelum menikah bergonta-ganti pasangan, ini yang menjadi perhatian bagi kita,” lanjut dr. Rienarmy.

Lebih lanjut dr. Rienarmy mengungkapkan, beberapa tahun ke depan akan terjadi kenaikan kesadaran masyarakat soal HIV/AIDS. Pihaknya pasti akan menjangkau masyarakat melalui penyuluhan dan pendekatan pada masyarakat. Diharapkan dengan begitu, kesadaran perempuan untuk tes HIV/AIDS semakin tinggi.

Pihaknya juga mengharapkan agar semakin banyak orang sadar untuk melaporkan diri, mau tes dan berobat untuk menjamin kehidupan mereka.

“Pasti jumlah kasusnya akan naik dan itu tidak dipermasalahkan, namun ini tetap menjadi ancaman bagi semua orang,” tuturnya.

“Penting adalah bagaimana wanita saling membantu di anatar sesama wanita. (mari) di desa-desa saling memberi penyuluhan terkait bahaya HIV/AIDS. Di TTU sendiri suami lebih malu tes darah. Ini kejadian sudah beberapa, ketika kali istri sakit, kita minta tes hasilnya positif, tetapi suami bilang bahwa (ia) sehat-sehat saja dan tidak mungkin positif,” sambung dr. Rienarmy.

Ditahun 2019 ini, KPA, Dinas Kesehatan bersama masyarakat akan melakukan pemetaan posisi pengidap HIV/AIDS atau berisiko. Setelah diketahui keberadaannya, akan diikuti, apakah pasien sudah berobat atau belum. Jika belum, ini menjadi tugas pihak kesehatan untuk melakukan pendekatan. (*/Santos).

Baca Juga: Bangkitkan Kembali Jiwa Nasionalisme dan Patriotisme Anak Perbatasan