Atambua, medikastar.id
Stunting adalah masalah kesehatan yang masih menghantui sebagian besar daerah di NTT, termasuk Kabupaten Belu. Calon Bupati Belu dari Paket SEHATI, dr. Taolin Agustinus, SpPD, mengatakan bahwa penanganan stunting membutuhkan upaya lintas sektor dimulai dari dalam keluarga. Ada 5 pilar yang akan dijalankan jika ia bersama pasangannya, Drs. Aloysius Haleserens, MM, terpilih menjadi Bupati Belu dalam Pilkada 9 Desember 2020 nanti.
Hal itu disampaikan dr. Agus dalam momentum debat kandidat Calon Bupati dan Wakil Bupati Belu menjawab pertanyaan dari moderator debat, Dr. Ahmad Atang. Acara debat dilaksanakan di Auala Hotel Matahari Atambua, Jumat (30/10/2020) dan disiarkan melalui akun Youtube RRI Atambua.
Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam dengan Sub Spesialis masalah saluran cerna dan hati itu, 5 pilar dalam pengentasan masalah stunting itu adalah komitmen, kampanye, konvergensi, program, akses pangan bergizi dan monitoring program.
“Yang kita concern adalah 1000 hari pertama kehidupan, bukan kelahiran. Jadi komitmennya kita akan bikin regulasi yang baik, komitmen untuk menjalankan program ini secara baik, tidak hanya memberi susu, karena susu dari 100 cc hanya 4 gram proteinnya,” kata dr. Agus.
Selanjutnya, kata dr. Agus, pelibatan keluarga dan tenaga-tenaga medis, termasuk kader Posyandu, melalui input pengetahuan dan pemberdayaan.
“Orang tua harus diberdayakan, diberi kemampuan, pemahaman tentang stunting ini. Di lingkungan sekitar kita berdayakan tanaman keluarga, gizi keluarga, kemudian pemberdayaan kader-kader, pelibatan tenaga medis untuk mendeteksi sedini mungkin,” jelas dr. Agus.
Deteksi stunting harus dilakukan sedini mungkin sejak dalam kandungan, karena menurut dr. Agus, intervensi kasus stunting setelah lahir tidak banyak membantu. Karena itu, sejak dalam kandungan pemerintah sudah harus terlibat aktif. Bukan hanya mengukur tinggi kandungan, usia kehamilan, dan berat badan tetapi harus lebih dari itu.
“Jadi kami akan membuat regulasi untuk melibatkan seluruh stakeholder, kebijakan di bidang anggaran yang cukup, monitoring dan evaluasi sampai di tingkat keluarga dan posyandu,” ujarnya.
“Poinnya adalah di pencegahan. Stunting kalau sudah terjadi sudah selesai, tidak akan berkembang lagi. Oleh karena itu kita harus berjuang mati-matian untuk mencegah jangan sampai ada stunting. Ibu hamil kita perhatikan betul,” lanjutnya.
Berdasarkan data dari pemerintah Provinsi NTT, Kabupaten Belu menempati urutan ke-6 jumlah angka stunting di NTT. Karena itu, pemimpin Belu yang akan datang harus mampu mengatasi masalah ini sehingga harapan Presiden Joko Widodo untuk menurunkan angka stunting di Indonesia dari 30-an bisa tercapai.
“Dan kami yakin karena kami berprofesi sebagai dokter kami akan berjuang untuk ini. Presiden sudah menyatakan stunting harus turun ke 14 persen. Karena itu, harus ada upaya yang lebih untuk itu, tidak hanya sekedar memberikan makanan tambahan,” pungkasnya. (red)

