Ini yang Dikisahkan dr. Christian Widodo, Dokter Termuda Asian Games 2018

Kupang, medikastar.id

Hajatan Pesta Olahraga Asia tahun ke-18 pada tahun 2018 (Asian Games XVIII) yang berlangsung di Indonesia telah berakhir. Indonesia memberikan sesuatu yang spesial dalam ajang ini. Berbagai prestasi ditorehkan oleh para atlet yang berjuang membawa nama bangsa ini.

Kesuksesan event besar ini tidak terjadi dengan sendirinya. Kesuksesan event ini berkat kerja keras berbagai pihak yang berperan di dalamnya. Salah satunya adalah pihak tenaga medis untuk para Atlit dari berbagai Cabang Olahraga (Cabor) termasuk cabor tinju.

Di cabor tinju  Asian games 2018, panitia menghadirkan beberapa Dokter AIBA terbaik yang berasal dari Jerman, Italia, Jepang dan Indonesia. Dokter-dokter yang terpilih merupakan dokter dokter senior yang telah bertahun-tahun berkecimpung di dunia medis untuk pertandingan tinju, baik di olimpiade dan atau event nasional lainnya.

Menariknya, satu dari tenaga medis yang ada merupakan dokter muda asal Nusa Tenggara Timur (NTT). Dialah dr. Christian Widodo.

Kepada Medika Star, Jumat (06/09/18) dr. Christian menuturkan bahwa dirinya merasa bangga bisa mewakili NTT dan mewakili Indonesia mengambil bagian dalam perhelatan olahraga yang bergengsi ini.

Terpilih menjadi satu dari sekian banyak dokter di ajang ini ternyata tidak segampang yang dipikirkan, sebab harus melewati serangkaian proses.

“Pada awalnya, kami dipilih untuk mengikuti test event Asian Games,” ungkap dr. Christian.

dr. Christian Widodo saat bertugas di Asian Games 2018.

Pada test event tersebut panitia menghadirkan 9 negara untuk melihat kesiapan kelayakan real event dari berbagai aspek. Aspek-aspek tersebut seperti persiapan lapangan, juri, dan lain sebagainya, termasuk kesiapan tenaga medis. Dari belasan dokter yang ada, dr. Christian, owner Klinik Kupang Graha Medika ini terpilih menjadi salah satu tenaga medis untuk cabang olahraga tinju pada real event Asian Games 2018.

Pengalaman menjadi satu catatan yang mampu membuatnya terpilih dari sekian banyak dokter senior. Sebab ternyata selain sebagai dokter, pria ini juga mempunyai sasana Tinju Warior Training Camp di Kupang .

“Saya yakin mereka punya pertimbangan lain. Salah satunya karena saya juga berlatih tinju. Saya mempunyai pengalaman di bidang itu,” ungkap ketua DPW NTT Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini.

Dirinya kemudian berceritera bahwa peralatan medis untuk cabang olahraga tinju milik Indonesia sudah mencapai titik standar. Namun, apabila dibandingkan dengan peralatan milik  negara lain, harus diakui bahwa Indonesia masih diungguli oleh Negara lain.

“Perlatan medis yang  mereka bawa itu benar-benar  lengkap sesuai standard, bahkan lebih dari yang Indonesia punya saat ini,” ungkap ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Kupang ini.

Pada moment tersebut, dirinya belajar banyak hal dari rekan-rekan tenga medis yang ada. Ia mengakui bahwa tenaga medis dari Negara lain sangat tegas untuk keselamatan petinju. Termasuk penanganan saat Knock Out, Evakuasi, dan lain sebagainya. Juga termasuk penggunaan Steri-Strip dan Glue untuk luka robek yang saat ini masih jarang dipakai di kejuraan nasional

Melihat kondisi yang ada, dokter muda ini dengan penuh semangat terus berupaya agar Indonesia segera belajar dari negara-negara lain yang ada. Termasuk berusaha memiliki peralatan-peralatan yang ada. Baginya, kesuksesan Asian Games 2018 akan memberi peluang ke depan, di mana pergelaran event nasional lainnya dapat dilakukan di Indoensia.

“Saya yakin, saat ini Indonesia sudah sangat siap untuk menggelar event-event internasional lainnya,” tuturnya.

Ketua PPKORI (Perhimpunan Pembina Kedokteran Olahraga Republik Indonesia) NTT ini mengharapkan agar pemerintah lebih giat memperhatikan tenaga medis spesialis di bidang olahraga. Ia berharap pemerintah juga lebih berani menyiapkan anggaran untuk pengadaan peralatan, pelatihan tenaga medis untuk tinju, karate dan cabang-cabang olahraga lainnya.

Menurut dr. Christian, jumlah dokter spesialis kedokteran olahraga di Indonesia masih belum banyak. Oleh karenanya, dirinya berharap agar pemerintah memperhatikan hal tersebut, misalnya dengan cara memberikan lebih banyak pelatihan atau juga kursus bagi dokter-dokter yang terlibat dalam olahraga. (DM)

Baca Juga : dr. Eky Gonang: Pos Tensi, Bentuk Kepedulian Klinik King Care!