“Kala Ibu Hamil,” Inovasi Puskesmas Ile Boleng Deteksi Dini Gawat Janin

Larantuka, medikastar.id

Setiap ibu hamil pasti mengharapkan kehamilan yang sehat dan selamat hingga proses persalinan. Kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi saat ini menjadikan ibu hamil umumnya sudah mengerti dan memahami bagaimana seharusnya ia lebih menjaga kesehatan tubuhnya. Tujuannya tentu agar perkembangan janin dalam kandungannya tetap normal dan sehat. Meskipun demikian, masih saja terjadi gangguan selama proses kehamilan. Salah satunya adalah kematian janin dalam rahim.

Kematian janin dalam rahim atau disebut Intra Uterin Fetal Death (IUFD) menurut WHO dan American collage of obstetrican and gynecologis adalah janin yang mati dalam rahim dengan berat badan 500 gram atau lebih pada usia kehamilan 20 minggu atau lebih.

Untuk melakukan deteksi dini dan mencegah kematian janin dalam Rahim, Puskesmas Ile Boleng, Kecamatan Ile Boleng, Kabupaten Flores Timur menerapkan satu inovasi sederhana. Inovasi ini disebut “Kala Ibu Hamil.” Kala dalam bahasa daerah setempat berarti gelang.

Bidan Koordinator Puskesmas Ile Boleng, Ludgardis Beatrix Wada dan Bidan Senior Puskesmas Ile Boleng Kristina Gita Kiwan kemudian menjelaskan inovasi ini. Mereka mengatakan bahwa kala atau gelang ini berupa gelang karet yang diberikan pada ibu hamil. Gelang ini dipakai setiap hari di pergelangan tangan kanan untuk menghitung gerakan janin dalam 12  jam.

Setiap kali ada gerakan janin yang dirasakan ibu, gelang tersebut dipindahkan ketangan kiri ibu. Setiap ibu hamil akan mengalami pergerakan janin berbeda-beda waktunya. Hal ini tergantung dari sensitifatas ibu itu sendiri atau mungkin dari aktifitas bayi itu sendiri. Gerakan janin yang dirasakan ibu merupakan salah satu indikasi bahwa janin yang dikandung sehat atau mengalami gangguan.

“Pemakaian gelang ibu hamil ini merupakan tanda bahwa ibu hamil tersebut dalam pengawasan tenaga kesehatan (bidan). Untuk kemudahan pengawasan,  gelang ibu hamil yang dikenakan ada 3 warna, sesuai dengan tingkat resiko. Gelang warna hijau untuk semua ibu hamil bukan resiko tinggi. Gelang warna kuning untuk bumil beresiko tinggi dan juga dari masyarakat  non miskin. Sementara gelang warna merah untuk bumil resiko tinggi dari keluarga miskin,” jelas Kristina Gita Kiwan.

Menurut Beatrix Wada dan Gita Kiwan, biasanya  bayi akan melakukan gerakan antara 200-500 gerakan per hari termasuk menendang, berguling, menggeliat. Ibu hamil harus bisa merasakan gerakan janin minimal 10 gerakan janin selama 12 jam atau 4 gerakan dalam 1 jam.

Lebih lanjut, Bidan Kristina Gita Kiwan menjelaskan bahwa mendeteksi atau menghitung gerakan janin dapat dilakukan dimana saja, seperti di rumah, di kantor, saat sedang berpergian, dan sebagainya. Gerakan janin dapat muncul kapan saja saat ibu sedang tidur, duduk, berdiri, berjalan, dan bekerja. Cara untuk mendengar atau merasakan gerakan janin adalah dengan menempelkan tangan diperut ibu hamil lalu merasakan gerakan janin berupa, tendangan, desiran, pukulan, atau gerakan berputar.

Jika janin melakukan gerakan yang sama hingga berulang-ulang dan terus-menerus, gerakan itu dihitung 1 kali. Setiap kali ibu hamil merasakan adanya gerakan janin, maka ibu hamil harus memindakan kala (gelang) itu dari tangan kanan ke tangan kiri. Demikian seterusnya selama satu hari.

Ibu hamil diminta untuk terus mamantau gerakan janin dimulai dari saat ibu hamil bangun di pagi hari hingga malam sebelum tidur. Minimal gerakan janin dirasakan 10 kali dalam sehari. Jika di bawah 10 kali dalam sehari, maka ibu hamil harus segera menghubungi bidan atau ke Fasilitas kesehatan terdekat, karena kemungkinan terjadi gawat janin.

“Selanjutnya ibu hamil perlu lebih cermat memantau gerakan janin. Supaya tahu persis apakah gerakan janin sudah mencapai 10 kali atau tidak. Jika gerakan kurang dari 10 kali, maka perlu dicurigai adanya gangguan pada janin,” terang Beatrix Wada.

Kepala Puskesmas Ile Boleng, Bonfasius Masan Uba, A.Md. Kep, menerangkan bahwa inovasi Kala Ibu Hamil ini muncul karena tingginya angka kematian janin (IUFD). Angka ini bahkan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2016 ada 6 kasus IUFD, di tahun 2017 terjadi 6 kasus dan hingga bulan Agustus 2018 telah ada sebanyak 8 kasus. Melihat semakin meningkatnya kasus IUFD ini, Puskesmas Ile Boleng untuk tetap berkomitmen meningkatkan derajat kesehatan ibu hamil. Juga berkomitmen untuk terus berupaya menekan angka kematian janin dalam rahim.

“Kegiatan inovasi dilakukan di 21 desa dalam wilayah kerja Puskesmas Ile Boleng. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat di bidang kesehatan khususnya kesehatan ibu hamil. Diharapkan Kala Ibu Hamil ini mampu menekan dan menurunkan kasus kematian janin dalam rahim,” kata Masan Uba.

Sementara itu, Yunita Hale salah seorang ibu hamil yang berkunnjung ke Puskesmas Ile Boleng dan mendapatkan kala ibu hamil merasa bersyukur dan berterima kasih kepada Puskesmas Ile Boleng atas program ini. Menurutnya kala bagi ibu hamil ini sangat membantu ibu hamil untuk selalu mendeteksi kemungkinan adanya gangguan pada janin serta selalu menjaga kesehatan selama hamil. (Emanuel F. Ola Masan)

Baca juga : 114 Warga Desa Waling Peroleh Bantuan Rumah Layak Huni