medikastar.id
Bermain game merupakan hal yang menyenangkan bagi sebagian besar orang, sebab dapat menghilangkan perasaan bosan, mengusir kejenuhan, refreshing, dan lain-lain. Bahkan, bagi beberapa orang bermain game sudah merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Beberap orang menjadikan game sebagai olahraga (sport), bahkan sebagai sumber penghasilan.

dr. Theresia Elisabeth Lintang Suminar
Perkembangan dunia teknologi yang tidak bisa dibendung telah merambah ke perkembangan dunia games. Online games atau juga bisa disebut dengan internet gaming merupakan fenomena permainan yang sangat popular sejak tahun 2012.
Tercatat lebih dari satu milyar orang bermain game. Adalah Sekitar lima juta pemain game online tersebar di berbagai belahan dunia dan jumlahnya terus meningkat. Clash of clans (coc), Mobile Legend, dan Candy Crush merupakan contoh game online yang popular.
Bermain game memang memiliki efek positif dan negatif. Hal ini sangat tergantung pada tingkat pengendalian diri dari seorang gamer saat bermain game. Apabila game dijadikan sebagai hiburan, maka tentu akan sangat bermanfaat. Namun sebaliknya, apabila game menjadi suatu kebutuhan dan kewajiban, maka game justru berdampak negatif, bahkan berujung pada kecanduan atau gaming disorder.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menetapkan Kecanduan Game atau Gaming Disorder sebagai suatu gangguan mental dalam klasifikasi ICD 11. Gaming Disorder menurut WHO adalah perilaku bermain game yang dilakukan secara terus menerus atau berulang yang ditandai dengan adanya gangguan kontrol atas permainan, adanya peningkatan proritas terhadap bermain game dibandingan dengan minat maupun aktivitas harian lainnya dan bermain game dilakukan secara terus-menerus meskipun memberikan dampak negatif.
Penelitian menunjukan bahwa kecanduan game tidak memandang usia. Kecanduan game tidak hanya dialami oleh remaja tapi juga anak-anak dan orang dewasa. Fenomena ini banyak terjadi di Negara-negara Asia, seperti Cina dan Korea selatan. Angka kecanduan game lebih banyak di temukan pada laki-laki usia 12-20 tahun.
Di benua Amerika, hampir 90% anak muda bermain game online. Dari jumlah yang ada, 15 % diantaranya sudah termasuk dalam kategori anak dengan kecanduan game.
Kecanduan bermain game dimulai ketika gamer mengganggap permainan tersebut mengasyikan dan menyenangkan. Kemudian gamer akan mengulang kembali permainan tersebut hingga berkali-kali. Ketika selesai bermain, gamer akan sering berpikir tentang permainan tersebut hingga menyebabkan gangguan konsentrasi.
Perlahan-lahan perasaan tidak puas pun muncul apabila sang gamer tidak bermain game tersebut. Pada titik tertentu, bermain game bahkan menjadi prioritas utama. Sebagian besar waktu bisa dihabiskan hanya dengan bermain game sampai pada tahap lupa akan kebutuhan pokok, seperti makan atau tidur.
Lalu, gamer mulai kehilangan minat pada hobi atau aktivitas yang sering dilakukannya. Perlahan-lahan, gamer akan menarik diri dari kehidupan sosial di dunia nyata dan lebih tertarik membangun pertemanan baru di dunia maya. Pada tahap ini, sudah mulai timbul kecanduan game / game disorder.
Kecanduan membuat seseorang baik secara fisik maupun psikologis mengurangi kapasitasnya sebagai manusia untuk berfungsi sebagaimana mestinya, sehingga membuatnya mengalami perubahan prilaku, menjadi obsesif kompulsif, dan dapat mengganggu hubungannya dengan orang lain.
Kecanduan game juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan fisik pada penderitanya seperti gangguan penglihatan, nyeri pada tulang belakang karena terlalu lama duduk, Carpal Tunnel Syndrome, gangguan tidur terutama insomnia, sakit kepala, dan obesitas.
Tips yang bisa dilakukan agar terhindar dari gaming disorder, 1. Jadikanlah bermain game sebagai hobi bukan kebutuhan, 2. Batasi waktu dalam bermain game, 3. Self control yang baik saat bermain game.
(Baca Selengkapnya tentang “Gaming Disorder dan Penatalaksanaannya” pada Majalah Cetak Medika Star Edisi Agustus 2018)
Baca Juga : INASGO, dari Ruang Seminar Hingga Komodo Island

