Kota Kupang, medikastar.id
Masyarakat Kota Kupang kembali dibuat resah dengan urusan konsumsi. Jika sebelumnya keresahan ini timbul oleh adanya belatung dalam ayam goreng dan bakso yang diduga mengandung formalin, kali ini keresahan timbul karena beredarnya video pembuatan tempe yang diduga menggunakan air selokan.
Dari video yang beredar luas di media sosial dan whatsapp, kuat dugaan, air selokan ini bukan hanya dimanfaatkan untuk mencuci kacang kedelai yang adalah bahan baku pembuatan tempe, tapi juga dimanfaatkan untuk proses memasak kacang. Saluran air tersebut juga dimanfaatkan untuk membuang limbah olahan tempe tersebut.
Lurah Bakunase, Rince Kaseh kepada media ini, Rabu (15/05/19) membenarkan hal tersebut, bahwa tempat pembuatan tempe yang berlokasi di RT 11 RW 04 Kelurahan Bakunase menggunakan air selokan, baik untuk mencuci maupun untuk merebus kacang yang hasilnya dipasarkan di berbagai tempat di Kota Kupang, seperti di pasar Kasih, pasar Oeba, pasar Kuanino, dan ada yang dijual keliling.
“Menyangkut sidak di tempat pembuatan tempe itu dilakukan oleh Satpol PP dan staf dari kelurahan. Jadi Satpol PP datang ke sini dan langsung turun ke lokasi pengrajin tempe dan pada saat itu mereka menemukan pencucian kacang menggunakan air yang dari saluran air. Mereka (pengrajin) juga menggunakan air tersebut untuk merebus kacang, itu menurut pengakuan mereka pada saat itu,” kata Rince.

Walaupun demikian, Rince secara tegas mengatakan bahwa tidak semua pengrajin tempe di Bakunase melakukan hal yang sama. Hanya 11 pengrajin tempe yang berlokasi di RT 11 tersebut yang menggunakan air selokan dalam pengolahan tempe. Sementara 13 pengrajin tempe lainnya di RT 12 Kelurahan Bakunase dan 1 pengrajin tahu di RT 03 Kelurahan Bakunase tidak menggunakan air selokan, tetapi menggunakan air bersih dari sumur.
Terkait pengrajin tempe yang menggunakan air selokan ini, Ia menjelaskan bahwa tidak semuanya merupakan warga kelurahan Bakunase. Dari 11 pengrajin yang didata, ada beberapa di antaranya merupakan warga Batuplat dan juga Manulai yang kebetulan tempat usahanya berada di area tersebut.
Sementara mengenai penggunaan air selokan untuk pengolahan tempe, Rince menjelaskan bahwa pihaknya telah berulang kali melakukan teguran, baik secara lisan maupun tertulis, hingga menghadirkan Kepala Puskesmas Bakunase untuk memberikan penjelasan dari sisi kesehatan, namun hal tersebut tidak diindahkan.
“Bukan dari pihak kelurahan saja, tetapi juga dari instansi terkait, seperti Satpol PP, Puskesmas Bakunase, Dinas Kesehatan, itu semua kita sudah turun dan memperingati berulang-ulang. Ketika kami turun, mereka mengatakan bahwa tidak akan menggunakan air selokan lagi, tetapi ketika kami pulang, nanti akan kembali lagi yang sama, mereka kembali pada tingkah laku mereka yang semula,” kata Rince.
“Sehingga saya menganggap bahwa itu kembali ke perilaku,” tambahnya.
Rince mengungkapkan pula bahwa jawaban yang selalu diterima olehnya dari para pengrajin tempe terkait penggunaan air selokan, ialah karena pemerintah Kota Kupang tidak menyediakan air bersih bagi masyarakat di wilayah tersebut, sehingga mereka terpaksa menggunakan air selokan. Selain itu, akses jalan ke lokasi tersebut tidak memungkinkan untuk kendaraan roda empat, sehingga sulit bagi mobil tengki air untuk masuk ke sana.
“Saya kasih solusi, karena tangki tidak masuk, saya minta masyarakat di sana karena sudah ada saluran air yang permanen, supaya mereka adakan pipa paralon yang bisa diatur sedemikian rupa mengikuti saluran permanen itu untuk sampai ke jalan raya dan mobil tangki bisa melakukan pengisian air melalui paralon ke area usaha. Tapi ini juga tidak diikuti,” katanya.
Lebih jauh, dikatakan oleh Rince bahwa sebagai akibat dari pembuangan limbah tempe secara langsung di saluran air, warga yang berada di wilayah hilir aliran air tersebut sering mengeluh dengan aroma yang timbul dari saluran tersebut.
“Orang di area situ tidak merasakan bau sebab begitu limbah di buang, air langsung membawanya ke hilir sehingga orang di hilir yang mengeluhkan kondisi ini. Ada juga yang gunakan air ini di hilir untuk mandi dan cuci, mereka mengeluh badan gatal-gatal. Kondisi ini membuat kami juga sudah melibatkan pihak gereja dan TNI untuk membersihkan saluran air tersebut setiap tahunnya,” paparnya.
Dinkes Kota Sudah Beri Teguran
Rince memaparkan bahwa temuan penggunaan air selokan dalam pengolahan tempe tersebut sebenarnya telah ada sejak tahun 2018 lalu dan telah direspon oleh Dinas Kesehatan Kota Kupang melalui surat langsung kepada para pengrajin tempe.
Surat bertanggal 14 Desember tahun 2018 yang ditandatangi oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang, dr. I. Wayan Ari Wijana tersebut berisi pemberitahuan agar para pelaku usaha tempe di tempat tersebut memperbaiki sanitasi lingkungan tempat usaha dengan tenggak waktu yang diberikan kala itu ialah selama 1 bulan.
“Lalu dalam perjalanan di tahun 2019 ini memang pengawasan kami agak longgar karena padatnya agenda termasuk Pemilu yang menyita banyak perhatian kami. Tetapi sepanjang ini kami terus monitor karena ini menyangkut hajat hidup orang banyak,” tutur Rince.
Rince berharap agar dengan adanya peristiwa kali ini, tempat pembuatan tempe yang tidak memenuhi standar tersebut ditutup.
“Sebaiknya mereka dikasih teguran berat, ditutup saja sampai ada ijin operasional yang tentu dalam mengeluarkan ijin harus ada standar-standarnya, karena memang saya sendiri sudah capeh,” ungkapnya.
Dalam penelusuran media ini pada Rabu (15/05/19) sore di lokasi pembuatan tempe di RT 11 Kelurahan Bakunase, para pengrajin tempe di lokasi ini tetap terlihat tetap aktif memproduksi tempe. Walaupun media ini tak sempat menemukan secara langsung aktifitas pencucian kacang menggunakan air selokan, namun berdasarkan perbincangan dengan beberapa pengrajin, mereka mengaku menggunakan air selokan tersebut.
“Kondisi airnya bersih jadi dari dulu kita sudah pake air ini. Tidak mungkin kalau kita lihat airnya kotor sekali baru kita cuci kacang di situ. Ada air sumur tapi itu orang punya dan kalau kita pake kita harus sewa, jadi kita usaha kecil begini kita tidak sanggup sementara untuk cuci kacang itu mesti bersih dan kita butuh air banyak,” kata salah satu pengrajin tempe yang sudah bergiat di lokasi tersebut sejak tahun 1982.
Ia berharap agar pemerintah Kota Kupang bisa membantu terkait akses jalan masuk ke lokasi pembuatan tempe agar pihaknya dapat menggunakan jasa mobil tangki untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
“Harapan kami pemerintah Kota Kupang bisa memperhatikan akses air bersih ke sini, karena kalau tidak, kami tidak berdaya,” tutur Sri, salah satu pengrajin tempe. (*/red)
Baca Juga: Stikes Maranatha Kupang Siapkan Bonus Bagi Calon Mahasiswa Baru

