Masker Mengurangi Jumlah Oksigen yang Dihirup (Mitos atau Fakta)

medikastar.id

Memakai masker merupakan salah satu protokol kesehatan yang sangat penting untuk dilakukan oleh masyarakat di tengah pandemi Covid-19 saat ini. Namun, anjuran yang diberikan tersebut nampaknya masih saja diabaikan oleh sebagaian orang.

Berbagai macam alasan ketidakpatuhan dikemukakan. Salah satu, memakai masker dianggap dapat mengurangi jumlah oksigen yang dihirup dan membuat pengguna masker kesulitan bernapas. Lantas, apakah hal ini merupakan mitos atau fakta?

Terkadang, penggunaan masker mengakibatkan rasa ketidaknyamanan. Kendati demikian, melansir WebMd, sebuah penelitian baru-baru ini mengonfirmasi bahwa masker tidak mengurangi oksigen yang dibutuhkan oleh penggunanya.

Dengan kata lain, anggapan bahwa penggunaan masker tidak sehat atau dapat mengakibatkan penyakit pernapasan adalah sebuah mitos belaka. Selain itu, pernyataan lain seperti masker dapat menyebabkan keracunan karbondioksida, serta melemahkan sistem imun pun adalah mitos. Hal-hal ini telah dibantah oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO dan Asosiasi Paru-paru Amerika.

Lebih lanjut, para peneliti dari McMaster University di Kanada melakukan penelitian untuk mendukung bantahan tersebut. Penelitian dilakukan pada 25 orang yang berusia rata-rata 76,5 tahun. Pemberian oksimeter denyut portable diberikan guna mengukur kadar oksigen dalam darah para partisipan.

Pengukuran dilakukan saat mereka sedang menggunakan masker, serta pada waktu sebelum dan sesudahnya. Masker yang dipakai berjenis nonmedis yang berlapis tiga dan sekali pakai. Para partisipan menggunakannya selama melaksanakan rutinitas harian, serta pada waktu istirahat. Okesimeter denyut akan berfungsi melacak kadar oksigen selama satu jam sebelum penggunaan masker, dalam waktu pemakaian masker selama satu jam, serta satu jam sesudah pemakaiannya.

Hasilnya dapat membuktikan bantahan bahwa pemakaian masker dapat berpengaruh buruk. Para peneliti tidak menemukan tanda-tanda berkurangnya kadar oksigen dalam darah atau hipoksia. Rata-rata, saturasi oksigen adalah 96,1% sebelum partisipan menggunakan masker, 96,5% saat sedang menggunakan, serta 96,3% sesudah pemakaiannya.

“Ini mendukung apa yang telah kita ketahui. Tidak ada penurunan oksigen dalam pemakaian masker,” kata Dr. Aaron Glatt, seorang spesialis penyakit menular yang juga terlibat dalam penelitian itu.

Glatt pun mengakui bahwa pemakaian masker terkadang mendatangkan rasa ketidaknyamanan. Meski begitu, pemakaiannya tetap harus dilakukan sebagai cara untuk melindungi diri dari penularan Covid-19. Ia menganalogikan penggunaan masker selayaknya memakai sabuk pengaman di mobil.

“Saya melihat masker seperti sabuk pengaman. Memakainya belum tentu nyaman, tapi melindungi anda,” tambahnya.

Meski demikian, peneliti pun mengungkapkan bahwa study yang telah dipublikasikan secara online dalam Journal of America Medical Association edisi 30 Oktober ini masih memiliki keterbatasan. Contoh keterbatasan tersebut adalah penelitian masih tidak melibatkan peserta yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru. Seperti yang diketahui, kedua penyakit tersebut dapat menyebabkan masalah pernapasan, bahkan ketika pengidapnya sedang beristirahat.

Penelitan yang dilakukan lebih berfokus pada orang-orang yang berusia lanjut. Alasannya karena di usia tersebut, manusia lebih rentan mengalami penurunan kadar oksigen ke dalam tubuh pada saat menggunakan masker.

“Ini hanya satu study kecil. Tapi saya harap, ini memberikan orang-orang jaminan,” kata Dr. Noel Chan yang juga terlibat dalam penelitian tersebut.

Memakai masker adalah protokol kesehatan yang sangat penting untuk diterapkan. Selain itu, terapkan juga protokol kesehatan lain seperti mencuci tangan dan menjaga jarak. Dengan melaksanakannya, kita semua akan terlindungi dan kita pun bisa melindungi orang-orang di sekitar kita dari penularan Covid-19.