Mencintai Alam Sembari Berwisata Mengagumi Ciptaan Ilahi yang Indah di Kawasan Egon-Ilimedo

Oleh: Silvester Nong Manis

“Kloangpopot Taman Firdaus”

Kalimat ini dilontarkan pertama kali oleh Ir. Hasjrul Mustafa Kemaludin Harahap,  Menteri Kehutanan Indonesia pada periode 1988 hingga 1993 pada Kabinet Pembangunan V di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, sebagai penggagas skema Hak Pengelolaan Hutan atau HPH, ketika mengunjungi Desa Kloangpopot di tahun 1980-an.

Terlepas apakah ia sekedar menghibur orang Kloangpopot dan rombongan yang datang menyertainya, akan tetapi ungkapan itu serasa patut disematkan pada kampung Koangpopot  karena memang nyata, bahwa Kloangpopot adalah kampung yang unik, kampung yang asri,  panoramanya indah, udaranya  sejuk, tanahnya subur, penduduknya ramah.

Julukan Hasrul Harahap di atas, seirama dengan julukan orang Kloangpopot untuk kampung halamanya sendiri dengan sebutan “Kloangpopot Orindeod” yang dapat dimaknai, Kloangpopot rumah/tempat bersemayamnya  para dewa/Allah).

Mari kita boleh membayangkan, ketika memasuki pintu gerbang (mada-wat) kampung Kloangpopot, kita disuguhi  dengan pemandangan yang menyejukkan mata yang  merasuk ke hati. Betapa tidak, mata kita langsung menatap Patung St. Petrus yang berdiri tegak seolah-olah sedang menyambut kedatangan kita, yang dilatari dengan kebun contoh Paroki Kloangpopot yang penuh dengan tanaman cengkeh yang tertatah rapih.

Ketika kita hendak menuju ke kawasan Egon Ilimedao,  kita boleh mampir dan berdoa di Gereja St. Petrus Kloangpopot yang jaraknya kurang lebih lima puluh meter dari patung St. Petrus, untuk mempersiapkan mental dan fisik kita.  Kira-kira satu kilo meter dari Gereja Kloangpopot, jika kita hendak jalan kaki, kita akan tertatih tatih menapaki jalan yang agak menanjak yang sedikit menantang, memacu denyut jantung menuju puncal bukit Iawutu Delang Gahar.

Sesampainya di atas pumcak bukit,  kita akan menyaksikan pula sebuah batu meteor yang berdiameter kecil tapi sangat berat ketika diangkat. Di atas Batu Meteor ini pula dulunya ditaktahkan arca Bunda Selalu Menolong. Ia diapit dua  kawasan hutan lindung mini yang setempat disebut dengan  “Piren  Kesik” dan “Piren Gete”. Kedua piren ini  oleh masyarakat adat setempat  sebagai tempat opi dun kare taden/opi dun kare dunan, yang artinya bahwa kedua piren ini haram untuk dimasuki oleh manusai dan dirambah hutannya. Kedua piren ini dapat dilihat dari Kota Maumere.

Silvester Nong Manis

Iawutu Delang Gahar, tempat jatuhnya batu meteor ini,  mamang letaknya di ketinggian, ia  lebih tinggi dari tempat-tempat lain disekelilingnya, sehingga dari sini kita bisa menatap ke segala penjuru mata angin. Di tempat ini pula kita kembali disuguhi dengan pemandangan yang indah, karena kita bisa memandangi  deburnya ombak pantai selatan dan mempesonanya detun desan (ratanya)  kota Maumere di pantai Utara. Maka itu  oleh orang  Kloangpopot tempat ini diberi nama “Iawutu Delang Gahar “

Pada jaman dahulu kala, jaman leluhurnya orang Kloangpopot, ketika menang perang, mereka selalu memekikkan kemenangan mereka dengan teriakan heroik “LAMEN LALA GAHAR”  pekikan ini hendak disampaikan  kepada musuh bahwa mereka adalah orang-orang yang datang dari IAWUTU DELANG GAHAR.

Kurang lebi 2 kilometer  dari letaknya batu meteor, kita akan temui pula mahe (menhir) yang diberi nama “Mahe Gete, sebagai tempat sesajen untuk memberi makan kepada  leluhur, sang  pemilik ulayat hutan Egon Ilimedo.

Di sekitar Mahe Gete, ada pula Mata air yang tidak pernah kering sepanjang musim.

Menyerong sedikit ke arah bawah bagian  Timir, kurang lebih satu kilo meter dari tempat  jatuhnya batu meteor,  kita temui pula air terjun, yang oleh masyarakat setempat disebit murun.

Setelah kita menapaki perjalanan panjang menuju kawasan Egon Ilimedo, maka tibalah kita di tempat yang dituju, yakni Kawasan Hutan Lindung dan Kawasan Hutan Kemasyarakatan yang sudah gundul akibat dari perambahan hutan oleh oknum-oknum yang tidak bertangg

Kini Egon Ilimedo meritih, ia menyapa kita untuk kembali menyelimuti  dia dengan  menanam, menanam dan terus menanam, agar dari rahimnya ia dapat mempersembahkan susu dan madu bagi kita dan anak cucu kita kelak.

Dengan kita ikut menanam dan dengan kita ikut merawat, itu pertanda bahwa kita turut mengambil bagian dalam karya cipta Sang Ilahi, kuasa semesta alam. (*)

Foto: Indonesia Kaya